Otista Bakal Ditutup, Pengamat Sarankan SSA Tetap Jalan

Sejumlah kendaraan mengantre di jembatan Jalan Otista yang merupakan bagian dari Sistem Satu Arah (SSA) Kota Bogor. (Radar Bogor/ Sofyansyah)

BOGOR-RADAR BOGOR, Jembatan Otista bakal mulai digarap perbaikannya pada April 2023 mendatang. Itu sebagai solusi atas kemacetan yang kerap melanda ruas jalan tersebut karena adanya penyempitan (bottle neck).

Namun, rencana ini berpotensi menimbulkan masalah baru. Pasalnya ruas jembatan yang melintas di atas Sungai Ciliwung ini menjadi ruas jalan utama Kota Bogor bahkan berada di ring satu akses aktivitas kepresidenan dan penerimaan tamu-tamu negara.

Baca Juga: Tahun Depan SSA Ditiadakan, Begini Rute Penggantinya

Pengamat Tata Kota, Yayat Supriyatna pun menilai, Pemkot Bogor harus mempersiapkan rekayasa lalu lintas yang matang dan menyeluruh.

Seperti halnya jalan yang akan terbebani, simpul dan perempatan yang juga akan menjadi hambatan, hingga pindahnya konsentrasi ke titik baru.

Menurut Yayat, salah satu opsi untuk mengatasi kemacetan imbas dari perbaikan atau pelebaran Jembatan Otista itu tidak perlu menghilangkan Sistem Satu Arah (SSA). Cukup diubah jalurnya.

Jalur yang semula berbelok dari Jalan Pajajaran ke Jalan Otista dialihkan lurus tetap di Jalan Pajajaran. Arus kendaraan baru akan berbelok ke arah Sukasari dibuat satu arah dan selanjutnya kembali ke lingkar Kebun Raya Bogor melalui Jalan Suryakencana.

“Jalan Suryakencana yang awalnya bergerak satu arah dari Otista bisa diputar balik sehingga arahnya menjadi berlawanan. Itu bisa jadi salah satu bentuk rekayasa,” sarannya saat dihubungi Radar Bogor pada Kamis (1/12).

Meski lebih jauh dan memutar, Yayat menilai rekayasa tersebut jauh lebih efektif dibandingkan kembali menerapkan sistem dua arah.

Alasannya, saat ini jumlah kendaraan dan timbulan bisnis di Kota Bogor sudah jauh bertambah. Keadaan ini tidak sebanding dengan lebar jalan yang tidak berubah.

Namun rekayasa tersebut juga dilihatnya harus dibarengi dengan aspek-aspek pendukung lain agar rencana itu berjalan dengan lancar. Pemkot Bogor mesti menugaskan personel Dinas Perhubungan di setiap titik untuk membantu mengatur pola perjalanan, mengurai kemacetan, menangani angkot ngetem, hingga parkir liar di bahu jalan.

Sosialisasi matang juga perlu dilakukan dengan maksimal. Rekayasa perlu dilakukan dan disosialisasikan jauh sebelum pembangunan dimulai sehingga masyarakat dapat memperhitungkan waktu dan jarak perjalanannya.

Rekayasa percobaan dapat dilakukan di akhir pekan ketika arus lalu lintas berada puncak keramaian.

“Warga tidak perlu khawatir, walaupun memang dibutuhkan kesiapan juga. Karena waktu keberangkatan dan kepulangan akan ada perubahan. Berangkat bisa lebih pagi untuk menghindari kepadatan,” tuturnya.

Baca Juga: Jembatan Otista Bakal Ditutup 9 Bulan, Pemilik Kios : Bagaimana Nasib Kami!

Di samping itu ia juga menyarankan Pemkot Bogor untuk menekankan kepada pihak kontraktor agar menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat.

“Kontraktor harus didorong bekerja lebih cepat, cerdas, praktis dan taktis. Jam kerja 24 jam menggunakan shift. Pemkot juha bisa meminta bantuan dari Kementerian PUPR apakah ada teknologi rekayasa terbaru untuk proyek tersebut,” tandasnya. (*)

Reporter: Reka Faturachman
Editor: Imam Rahmanto

Berita Lainnya