Berbisnis Eskpor, Hanya Butuh Mental dan Lompatan Pertama

BOGOR-RADAR BOGOR, Banyak orang yang ragu menjalankan bisnis ekspor ke luar negeri. Padahal, yang dibutuhkan hanya kemauan yang kuat dan mental agar bisa menekuni bisnis yang menggiurkan tersebut.

Hal itulah yang coba diutarakan CEO Minaqu Indonesia Ade Wardhana Adinata dalam live dialog BNI Kompasfest bertajuk The Next Level UMKM, Senin (3/10).

Ia berbagi pengalamannya dalam membesarkan Minaqu sebagai salah satu eksportir asal Bogor yang juga berperan dalam menyumbangkan nilai ekspor untuk Kementerian Pertanian (Kementan).

Baca Juga: Eskportir Bogor Raih Penghargaan Hortikultura Terbaik dari Menteri Pertanian

Menurutnya, keahlian dalam menjalankan bisnis tidak bisa didapatkan begitu saja. Perlu usaha dalam membiasakan diri untuk menambah skill. Baik dengan memperbanyak komunikasi, maupun membaca literasi atau informasi dan berbagai media.

“Kalau soal mentalitas, ya kalau berbisnis harus siap rugi. Karena yang pasti itu dalam berbisnis, ya rugi. Jatuhnya pasti. Hanya, pasti juga akan bangkit lagi. Bagaimana jatuh berkali-kali, pasti bisa bangun kembali,” terangnya yang kini membawahi beberapa anak perusahaan di bawah group Minaqu.

Selain itu, tambah Ade, Mental Block setiap orang juga harus bisa dipecahkan. Ia mengibaratkan berbisnis ekspor layaknya ikan Tuna di dalam kolam yang disekat tengahnya. Sebelah sekat dimasukkan ikan Teri.

Ketika ikan Tuna mau memakan ikann Teri, selalu menabrak sekat itu. Beberapa kali percobaan bakal membuat ikan Tuna terkena mental block. Namun, setelah sekatnya dibuka, ikan Tuna sudah bisa memakan ikan kecil itu. Semua akan dilahap karena sudah merasakan percobaan pertamanya yang berhasil.

“Begitulah seharusnya kita membangun mental kita. Karena apabila sudah sekali kita bisa ekspor, ternyata yang berikutnya sudah terasa mudah. Karena ini juga kan repetisi-repetisi dari usaha sebelumnya,” pesannya.

Ia pun mengaku memulai ekspor perdananya di sektor tanaman hias tanpa pengalaman sebelumnya. Ternyata, langkah pertama itu membawanya pada banyak usaha pengembangan berikutnya. Hanya dalam 10 bulan pertama, Minaqu sempat mengantongi penghasilan hingga Rp10 miliar.

Lantas, bagaimana dalam menyikapi kompetitor usaha?

Bagi Ade, kompetitor yang ada akan selalu memiliki diferensiasi produk dengan yang dimilikinya. Untuk itu, mereka hanya perlu fokus dengan market atau pasar dibanding dengan kompetitor.

Baca Juga: Indonesia Kaya Tanaman Herbal, Potensial untuk Dongkrak Eskpor

“Selama ini di Indonesia, kita selalu melihat zoom in, bukan secara wide (lebar). Kita lebih fokus bagaimana menyasar market share yang besar itu di luar daripada berkompetisi secara domestik,” tandasnya.

Sembari pihaknya terus memperbaiki kualitas dari sisi apapun agar bisa bersaing dengan eksportir lainnya dari negara lain. (mam)

Berita Lainnya