Inovasi Pemkot Bogor Hilangkan Stunting Lewat Program ‘Taleus’ Bogor

Stunting
Kegiatan Rembuk Stunting Kota Bogor 2021.

BOGOR-RADAR BOGOR, Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan (HPK), yaitu 270 hari selama dalam kandungan dan 730 hari dari lahir sampai anak umur 2 tahun.

Baca Juga : Upaya Entaskan Masalah Stunting, Indomaret Gelar Penyuluhan Kesehatan untuk Balita

Dampak Kekurangan gizi yang kronis pada masa 1000 HPK menyebabkan anak gagal tumbuh (berat lahir rendah, stunting, kecil, kurus), hambatan perkembangan kognitif dan motorik dan gangguan metabolik pada saat dewasa yang mengakibatkan risiko penyakit tidak menular (diabetes, obesitas, stroke, penyakit jantung).

penerimaan mahasiswa baru universitas djuanda bogor

Stunting berdampak pada kualitas sumber daya manusia, yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas SDM sehingga bonus demografi tidak termanfaatkan dengan baik.

Program pencegahan stunting menjadi program prioritas pembangunan kesehatan di Indonesia, termasuk di Kota Bogor.  Pemkot Bogor melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor memiliki inovasi untuk menghilangkan stunting. Terlebih Visi Kota Bogor yaitu Kota Ramah Keluarga dan Misi Kota Bogor yaitu Kota Sehat, Cerdas, Sejahtera selaras dengan upaya menghilangkan stunting.

‘’Penanganan stunting ini butuh dukungan, kerjasama dan koordinasi lintas sektoral, melibatkan berbagai pemangku kepentingan mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta stake holder lainnya seperti dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat umum lainnya,’’ kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, dr. Sri Nowo Retno, MARS.

Berdasarkan hasil Bulan penimbangan Balita di Kota Bogor pada Tahun 2018 didapatkan 4,8% balita yang stunting. Pada tahun 2019 persentasenya turun menjadi 4,52%, namun mengalami kenaikan di tahun 2020 menjadi 10,66% dan menurun kembali di tahun 2021 menjadi 5,33%.

Tahun 2021 di Kota Bogor masih ditemukan faktor resiko kesehatan yang meningkatkan terjadinya stunting seperti pernikahan remaja, anak remaja dengan Anemia, Ibu hamil dengan anemia, Ibu hamil yang KEK (Kurang Energi Kronik), Ibu hamil dengan tinggi badan <150 cm, bayi yang BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) dan prematur, diare pada balita, dan Pneumonia pada balita.

Faktor resiko lingkungan juga masih ada yaitu masih kurangnya sanitasi dasar. Saat ini di Kota Bogor belum ada Kelurahan yang ODF (Open Defecation Free) atau Bebas BAB sembarangan.

Kompleksnya permasalahan stunting dan perlu banyaknya stakeholder yang terkait dalam intervensi spesifik dan sensitif, memerlukan penanganan yang dilakukan secara terkoordinir dan terpadu kepada sasaran prioritas, tidak hanya oleh sektor kesehatan namun juga perlu intervensi dari sektor lainnya.

Penyelenggaraan intervensi spesifik dan sensitif secara konvergen dilakukan dengan mengintegrasikan dan menyelaraskan berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan pencegahan stunting.

Dalam pelaksanaannya, upaya konvergensi percepatan pencegahan stunting dilakukan mulai dari tahap perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan, hingga pemantauan dan evaluasi. Ada 8 tahapan aksi konvergensi percepatan pencegahan stunting :

  • Aksi 1 Melakukan identifikasi sebaran stunting, ketersediaan program, dan kendala dalam pelaksanaan integrasi intervensi gizi.
  • Aksi 2 Menyusun rencana kegiatan untuk meningkatkan pelaksanaan integrasi intervensi gizi.
  • Aksi 3 Menyelenggarakan rembuk stunting tingkat kabupaten/kota.
  • Aksi 4 Memberikan kepastian hukum bagi desa untuk menjalankan peran dan kewenangan desa dalam intervensi gizi terintegrasi.
  • Aksi 5 Memastikan tersedianya dan berfungsinya kader yang membantu pemerintah desa dalam pelaksanaan intervensi gizi terintegrasi di tingkat desa.
  • Aksi 6 Meningkatkan sistem pengelolaan data stunting dan cakupan intervensi di tingkat kabupaten/kota.
  • Aksi 7 Melakukan pengukuran pertumbuhan dan perkembangan anak balita dan publikasi angka stunting kabupaten/kota.
  • Aksi 8 Melakukan review kinerja pelaksanaan program dan kegiatan terkait penurunan stunting selama satu tahun terakhir.

Pada kegiatan Rembuk Stunting tahun 2021 telah dilakukan penandatanganan komitmen bersama pencegahan dan penurunan stunting Kota Bogor oleh seluruh peserta Rembuk Stunting yaitu Walikota, Wakil Walikota, Sekretaris Daerah, Ketua DPRD, Ibu Walikota selaku Ketua TP-PKK, Ibu Wakil Walikota selaku Bunda Peduli Stunting, Kementerian Agama, Kepala Bappeda, Asisten Pemerintahan dan Kesra, Asisten Administrasi Umum, Dinas Kesehatan.

Baca Juga : Temukan Kasus Stunting di Kecamatan Bogor Barat, DPS Minta Jadi Perhatian Pemerintah

Kemudian, Disdukcapil, DLH, BKAD, DP3A, Dinas PUPR, Dinas Dalduk KB, Dinas Perumahan dan Pemukiman, Diskominfo, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Dinas KUMKM, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, DKPP, Bagian Pemerintahan Setda, Bagian Kesra Daerah, Camat se-Kota Bogor, Media, Akademisi (Unpad dan UI) dan CSR (Indonesia Tempe Movement dan PT Cheva).

Rembuk Stunting juga dihadiri secara virtual oleh Lurah se-Kota Bogor, Kepala Puskesmas se-Kota Bogor, Petugas Gizi dan Promosi Kesehatan puskesmas se-Kota Bogor, serta Lintas Program pada Dinas Kesehatan Kota Bogor.

Taleus Bogor (Tanggap Leungitken Stunting di Kota Bogor) merupakan inovasi dalam percepatan penurunan stunting di Kota Bogor karena dilakukan dengan menggerakkan masyarakat, kerja sama dengan lintas program serta lintas sektor serta tanggap dengan mengintervensi semua sasaran. Strateginya adalah dengan konvergensi multisektor melalui intervensi spesifik dan sensitive secara :

  • Sinergitas : Melibatkan seluruh stake holder terkait (pentaheliks), berbagai OPD, LSM/ masyarakat, Akademisi, swasta/CSR dan juga media.
  • Terpadu.
  • Berjenjang : Dari tingkat Kota, Kecamatan, Kelurahan sampai RW
  • Pendekatan Continuum Of Care: Intervensi pada semua kelompok umur, mulai dari remaja, calon pengantin, ibu hamil, bayi, balita, anak sekolah.

Kegiatan dilaksanakan melalui 3 pendekatan yaitu melalui peningkatan kompetensi dan kualitas layanan sesuai standar untuk menurunkan rasio kematian ibu, melalui perbaikan status gizi masyarakat untuk menurunkan prevalensi stunting dan melalui promosi Kesehatan serta pemberdayaan masyarakat dengan upaya penyebarluasan informasi kesehatan.

Bunda Peduli Stunting juga berperan dalam upaya percepatan penurunan stunting. Bunda Peduli Stunting tingkat Kota yaitu Ibu Wakil Walikota maupun Bunda Peduli Stunting tingkat Kecamatan yaitu Ketua TP-PKK Kecamatan turut, mensosialisasikan tentang stunting dan pencegahannya khususnya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam perbaikan pola asuh, memantau layanan intervensi terhadap sasaran rumah tangga 1000 HPK, memfasilitasi masyarakat untuk mengikuti kegiatan konseling gizi serta memfasilitasi masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam pencegahan dan penurunan stunting. (*)

Bidang Kesehatan Masyarakat 
Dinas Kesehatan Kota Bogor 

Berita Lainnya