Subvarian Omicron BA.2 Mulai Mengancam, Meluas di Eropa dan AS. Ini Gejalanya!

Ilustrasi Gejala Subvarian Baru Omicron BA.2
Ilustrasi Gejala Subvarian Baru Omicron
Ilustrasi Gejala Subvarian Omicron BA.2
Ilustrasi Gejala Subvarian Omicron BA.2

AMERIKA-Gelombang varian Covid-19 lainnya yakni Subvarian Omicron BA.2 saat ini mulai mengancam Eropa dan AS.

Baca Juga : Belum Vaksin Booster Tetap Bisa Mudik, Tapi Ada Syaratnya. Apa Saja?

Diperkirakan telah ditemukan sekitar 35 persen sampel subvarian tersebut di AS antara 13 Maret dan 19 Maret. Rata-rata gejalanya tak jauh berbeda, yakni flu, pilek, batuk dan sakit kepala.

Centers for Disease Control and Pencegahan (CDC) mengatakan, prevalensi ini menandai peningkatan dari perkiraan 22,3 persen dan 12,6 persen minggu sebelumnya.

Para ahli mengatakan kepada Newsweek bahwa Subvarian Omicron BA.2 dapat menjadi jenis Covid-19 yang dominan di AS pada musim semi ini. Namun, kasus secara umum tetap rendah dibandingkan beberapa bulan lalu.

Di beberapa negara Eropa, termasuk Inggris Raya, Prancis, dan Italia, kasus meningkat lagi meski negara-negara tersebut telah mengalami puncak Omicron sendiri selama musim dingin. AS mungkin akan segera menyusul.

“Saya pikir kita akan melihat gelombang baru di AS seperti yang kita lihat di Eropa. Ini karena kami memperkirakan gelombang infeksi akan terjadi secara berkala, dengan harapan bahwa seiring waktu, gelombang itu semakin kecil dan tidak mematikan,” kata profesor epidemiologi di Universitas Boston Matthew Fox.

Masih belum banyak informasi yang tersedia tentang gejala spesifik yang disebabkan oleh Subvarian Omicron BA.2 dibandingkan dengan BA.1.

Tim Spector, salah satu pendiri studi gejala COVID ZOE melihat adanya perubahan dalam gejala yang dilaporkan antara BA.2 dan BA.1 “Kami tidak melihat perubahan gejala yang jelas, hanya lebih banyak kasus,” katanya.

Daftar teratas dengan prevalensi 80 persen adalah pilek. Pilek menjadi gejala terbanyak. Lalu diikuti sakit kepala, kelelahan, sakit tenggorokan dan bersin, semuanya dengan prevalensi antara 65 dan 70 persen.

Batuk terus-menerus dilaporkan oleh 50 persen orang dan gejala lain seperti demam dan perubahan bau dilaporkan masing-masing pada 31 dan 23 persen orang.

“Perlu dicatat bahwa Omicron masih berpotensi membuat beberapa orang sakit parah, bahkan fatal bagi mereka yang rentan dan belum vaksin,” kata  Spector. (jpg)

Berita Lainnya