Beranda Bogor Raya Bagaimana Kelanjutan Proyek Jalur Puncak II? Ini Penjelasan Ade Yasin

Bagaimana Kelanjutan Proyek Jalur Puncak II? Ini Penjelasan Ade Yasin

Jalur Puncak II
Pengendara melintas di Jalan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Pemkab Bogor kembali mengkaji pembangunan ruas Jalur Puncak II untuk mengurangi beban kendaraan di wilayah Puncak, Cisarua. Foto : Hendi

CIBINONG-RADAR BOGOR, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor belum menganggarkan kembali proyek pembangunan Jalur Puncak II yang menghubungkan dengan Kabupaten Cianjur dengan total panjang jalan mencapai 56 kilometer.

Puncak Masih Macet, Ade Yasin : Buka Jalur Puncak Dua

“Saat ini kita masih konsisten untuk mendorong Jalur Puncak II itu, mudah-mudahan segera terealisasi. Baru 1,3 kilometer dan sudah pengerasan bekerjasama dengan TNI,” kata Ade Yasin ketika menghadiri pelepasan atlet yang akan berlaga di PON Papua 2021.

mitra-10-shop-vaganza

Dirinya pun akan meninjau dan melihat batas dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur. Sehingga cakupannya pun jelas ketika akan dibangun.

“Sabtu ini kita menggelar rapat lagi, karena memang Cianjur sudah menyiapkan lahan juga,” kata Ade Yasin

Ketika ditanyai lanjutan proyek Jalur Puncak II, ia mengaku tahun ini tidak ada anggaran, tapi pihaknya berupaya mudah-mudahan 2022 bisa dianggarkan lagi.

“Saya harap pemerintah pusat segera bisa turun dari mulai pengerasan sampai jadi,” harapnya.

Sementara itu, Anggota DPR RI Komisi V Mulyadi menjelaskan, bahwa Jalur Puncak itu harus dilihat secara komprehensip karena menjadi destinasi wisata luar maupun lokal.

“Diawal tahun kita usulkan, tapi diakomodirnya hanya existing,” cetusnya.

Padahal ia melihat keberadaan Jalur Puncak II tidak hanya alternatif, melainkan jalur logistik dan meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar, yakni Kecamatan Sukamakmur yang memang cukup tertinggal.

“Usulan Jalur Puncak II cukup rasional, rata-rata masyarakat menghibahkan jalur. Saya pun harus menyelamatkan warga sekitar yang berada di wilayah dapil saya juga,” kata Mulyadi.

Ia menuturkan, pada saat rapat di Komisi V pun malah tidak dimasukan oleh Dirjen Bina Marga. Makanya sempat bereaksi perihal karena ini belum ketok palu.

“Yang jelas saya tetap kawal dan masih ada waktu sampai September paling tidak ada study kelayakan dulu supaya Jalur Puncak II ini segera dirintis,” tuturnya.

Lebih lanjut dirinya mendapatkan informasi jika Jalur Puncak II dibuka yang diuntungkan malah pengembang dan berada dititik rawan longsor.

“Padahal belum ada study-nya, harusnya ada tim yang mengkaji terutama dari Kementrian PUPR, bahkan ini ada sentimen politik, karena proyek ini akan melewati jalur Hambalang,” tegasnya.

Selain itu, untuk tahun ini belum ada kepastian tapi akan didorong terus dan melobi ke beberapa menteri. Hanya belum ada jawaban pasti dari Kementrian PUPR.

“Membangun Jalur Puncak II bisa mencapai anggaran sekitar Rp700 miliar sampai Rp1 triliun, tapi infonya malah lebih dari itu,” pungkasnya. (abi)

Editor : Yosep