25 radar bogor

Nilai-nilai Edukatif di Bulan Ramadan, Ini Di Antaranya

RADAR BOGOR– Bulan ramadan mengandung nilai-nilai pendidikan yang penting untuk menajamkan mata hati manusia, khususnya kaum Muslimin. Nilai-nilai pendidikan yang penting pada bulan ramadhan adalah pertama, Pendidikan Keikhlasan. Setiap perbuatan ibadah akan bernilai bila dimulai dengan niat ikhlas

Baca Juga : Ibadah Puasa dan Peningkatan Empati

Ikhlas adalah sesuatu yang bersih, suci, murni, tidak tercampur dengan apapun. Ibarat air bening yang murni. Bila ke dalam air bening itu kita teteskan tinta warna hitam maka air tadi berubah menjadi air syirik. Artinya sudah terkontaminasi, tidak bersih lagi.

Ibadah apapun selalu dimulai dengan rukun yang pertama yaitu niat. Ibadah Shalat dimulai dengan niat, puasa dimulai dengan niat, haji dan umroh diawali dengan niat, bersuci juga dimulai dengan niat, baik bersuci dari hadas kecil atau hadas besar.

 Ibadah yang menjadi syarat diterima oleh Allah adalah ibadah yang diniatkan karena Allah semata. Setiap awal shalat kita membaca doa iftitah yang berbunyi ”sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku untuk Allah rabbul alamin.”

Karena itu puasa Ramadan mendidik kita untuk menjadi orang-orang ikhlas dalam beramal, baik amal ibadah maupun muamalah. Setiap orang bisa mencari kesempatan untuk minum atau makan di siang hari seperti dalam kamar yang terkunci, atau kalau kita berolah raga renang, kita bisa meneguk air tanpa ada yang melihat. Tetapi itu tidak kita lakukan karena kita yakin Allah Maha Menyaksikan dan kalau itu dilakukan kita sudah mendustai diri sendiri. Itulah pendidikan agar kita ikhlas, semata-mata karena ingin dinilai oleh Allah saja.

Kedua, Pendidikan Kesabaran. Puasa Ramadan mendidik kita menjadi orang sabar. Dari waktu subuh kita menahan lapar dan haus dan baru bisa membasahi tenggorokan dengan air minum serta mengisi perut kita yang lapar saat azan maghrib tiba. Bukankah itu wujud kesabaran kita.

Dalam hidup kita diajarkan untuk menjalani proses yang benar untuk mencapai apa yang kita inginkan. Kita dilarang menganut prinsip Machiavelis yaitu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Cara dalam Islam harus benar dan sesuai pedoman Al Qur’an dan Sunnah. Kalau kita berdagang jangan ingin cepat untung tanpa proses yang benar. Kalau ingin pintar maka belajar yang serius sebagai proses yang harus dijalani. Kalau berdoa harus bersabar kalau Allah belum mengabulkan doa kita. Prinsip yang harus dipegang adalah kita wajib berikhtiar sebagai proses yang harus dijalani, tetapi soal berhasil atau tidak serahkan pada Allah yang menentukan hasil. Dimensi manusia adalah ikhtiar, sedangkan dimensi Allah adalah penentuan hasil.

Pendidikan Kesabaran mengajarkan bahwa kita tidak boleh putus asa dalam usaha memperoleh hasil. Guru tidak boleh putus asa mendidik murid yang ternyata tidak semua murid berperilaku baik. Juru dakwah tidak boleh kecewa bila target dakwahnya tidak membawa hasil. Orang tua tidak boleh frustasi bila anaknya berperilaku tidak sesuai keinginannya. Teruslah berdoa dan berusaha. Sebab yang mengubah seseorang atau jamaah itu hakekatnya bukan kita sebagai guru, da’i atau orang tua melainkan Allah yang berkuasa membolak-balikkan hati manusia.

Ketiga, Pendidikan Kedermawanan. Puasa Ramadan akan berkualitas bila disertai dengan sikap dermawan dengan berbagi kepada orang lain. Nabi saw adalah orang yang sangat pemurah, lebih-lebih pada bulan ramadhan, pemurahnya seperti angin bertiup. Angin adalah udara yang bisa menembus apa saja sekalipun lubang sebesar jarum. Orang yang memberi makan orang yang berpuasa akan mendapat pahala sama orang berpuasa, begitu bunyi hadis Nabi.

Allah membenci orang yang kikir, pelit dan menumpuk-numpuk harta, padahal di sekelilingnya banyak orang menderita yang memerlukan uluran tangannya. Karena itu ramadhan bulan terbaik untuk berbagi. Orang yang bersedekah di bulan ramadhan balasannya tidak terhingga, hanya Allah yang membalas sekehendaknya.

Keempat, Pendidikan Sosial Kemasyarakatan. Ramadan mengajarkan kita agar tidak hidup individualistis. Adanya sholat Isya dan tarawih berjamaah di masjid adalah cermin sikap bermasyarakat.  Hidup tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri tetapi berpikirlah untuk menyumbangkan ide-ide atau sebagian harta milik kita untuk kemaslahatan masyarakat banyak. 

Islam tidak hanya mengajarkan sujud dan doa, shalat dan puasa tetapi juga menyuruh untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, membangun peradaban, menegakkan keadilan, memajukan ekonomi, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Lebih lanjut Islam menyuruh untuk menggerakkan masyarakat berkecukupan untuk mau mengangkat harkat orang-orang miskin, memberi makan yang kelaparan, memberi minum yang kehausan, memberi pakaian kepada yang telanjang, dan membela hak orang-orang korban penindasan. Wallahu A’lam Bishowab (*)

Penulis Artikel Didin Saefuddin Buchori

Dosen Pascasarjana UIN Jakarta / Mantan Rektor UIKA Bogor

Editor : Pipin