25 radar bogor

Film Dirty Vote Dinilai Sebuah Pendidikan Politik, TKN Ganjar-Mahfud : Jadi Jangan Baper

Film dokumenter Dirty Vote

JAKARTA-RADAR BOGOR, Film dokumenter Dirty Vote terus menuai pro dan kontra. Film berdurasi 1 jam 57 menit itu berisi tentang kritik atas sistem demokrasi dan Pemilu di Indonesia untuk kondisi terakhir khususnya jelang Pemilu 14 Pebruari 2024.

Baca Juga : Viral! Film Dokumenter Dirty Vote, TKN Prabowo-Gibran Sebut Berisi Fitnah

Berbeda dengan kubu Prabowo-Gibran yang menegaskan bahwa film yang disutradarai Dandhy Dwi Laksono itu berisi fitnah, kubu Capres-Cawapres Ganjar-Mahfud menilai film Dirty Vote merupakan sebuah pendidikan politik yang sangat bagus.

“Jadi jangan baper lah. Jangan sedikit-sedikit melapor ke kepolisian, inikan tidak sehat dan tidak mendidik buat kita sebagai bangsa,” ujarnya Deputi Hukum Tempat Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Todung Mulya Lubis saat preskon di Media Centre Ganjar-Mahfud, Jalan Cemara No.19, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (11/2/2024).

Todung menegaskan bahwa pelanggaran dan potensi pelanggaran yang terjadi di Indonesia sangatlah masif. “Jadi kalau dikatakan itu hanya untuk mendiskreditkan atau mendegradasi penyelenggara pemilu menurut saya tidak tepat sama sekali,” ujarnya.

Pria asal Sumatera Utara itu, menyatakan dengan tegas bahwa ia tidak sependapat dengan Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, Habiburokhman.

Karena menurutnya, itu sama sekali tidak mencerminkan apa yang dirasakan oleh publik dan masyarakat. Ia berpesan, agar kita dewasa dalam menyikapi sebuah persoalan.

“Karena kita sudah cukup lama berdemokrasi, dan jangan kita membuat set back dalam demokrasi kita,” tegasnya.

Baca Juga : Heboh! Film Dokumenter Dirty Vote, Diperankan Tiga Ahli Hukum. Ungkap Kecurangan Pemilu!

Seperti yang diketahui, film Dirty Vote menampilkan tiga pakar hukum tata negara, yaitu Dr Bivitri Susanti dari Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, Dr Feri Amsari dari Universitas Andalas, dan Dr Zainal Arifin Mochtar dari UGM.

Mereka menjelaskan berbagai kelemahan, manipulasi politik, dan kecurangan yang terjadi dalam sistem Pemilu di Indonesia. (net)

Editor : Yosep