25 radar bogor

Jembatan Penyebab Banjir di Bogor Utara ini Belum Bisa Diatasi

BOGOR-RADAR BOGOR, Warga di sekitaran Jalan Tumenggung Wiradiredja tampaknya mesti lebih bersabar lagi. Pasalnya, jembatan penyebab banjir di wilayah tersebut belum bisa diatasi dalam waktu dekat.

Baca Juga : Hujan Deras, Jalan Tumenggung Wiradiredja Diterjang Banjir

Rencana peninggian Jembatan PLN yang seharusnya dilakukan tahun ini dipastikan batal. Hal itu lantaran adanya refocusing anggaran APBD tahun 2024.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Bogor, Rena Da Frina membenarkan pernyataan itu. Ia mengatakan, Jembatan PLN yang membuat aliran sungai tersendat itu tidak jadi ditinggikan akibat refocusing.

“Tidak akan tahun ini. Tahun ini tidak bisa lagi. Tahun depan kami ajukan kembali,” ujarnya saat ditemui Radar Bogor, Jumat (9/2/2024).

Rena mengatakan, upaya lain akan dilakukan pihaknya untuk meminimalisir banjir di drainase itu melalui relokasi utilitas PLN dan Perumda Tirta Pakuan yang selama ini menumpuk di bawah bagian jembatan.

“Saya sudah buatkan suratnya supaya mereka direlokasi segera tahun ini. Itu kan lama tuh pemindahannya, sembari menunggu peninggian jembatan,” tutur dia.

Selain rendahnya jembatan Rena mengungkapkan banjir juga terjadi akibat maraknya pembangunan di bantaran dan bagian atas drainase. Hal itu juga diperburuk dengan banyaknya sampah yang menumpuk sehingga volume drainase berkurang.

“Setelah ditinggikan, PR selanjutnya yaitu bangunan bangunan yang menutupi saluran. Itu luar biasa banget. Karena sebetulnya, jembatan itu sudah ada di situ sejak lama, tapi santai aja tidak banjir,” ucap dia.

Sebelumnya, bencana banjir lintasan kembali menerjang ruas Jalan Tumenggung Wiradiredja, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara pada Rabu (7/2/2024).

Sejumlah kendaraan roda 2 dan roda 4 bahkan terpaksa berputar arah karena tidak bisa melintas. Beberapa motor juga mengalami mogok dan terpaksa didorong warga.

Warga setempat, Alif Firdaus mengungkapkan, banjir sudah sering melanda wilayah itu sejak 10 tahun lalu. Dirinya bahkan membangun benteng di depan rumahnya untuk mencegah air masuk ke dalam rumah.

“Banjir ini sudah terjadi sejak saya pertama kali pindah ke sini di tahun 2014. Dan sampai sekarang masih sering terjadi. Ketinggiannya mencapai 80-100 centimeter atau sepinggang orang dewasa,” ujarnya.

Tak hanya berdampak pada arus lalu lintas, banjir juga sering kali merendam rumah warga. Alif menyebut ada sekira 8-10 rumah yang menjadi korban banjir. (fat)

Reporter : Reka Faturachman
Editor : Yosep