25 radar bogor

Bakti HMI : Untuk Indonesia dan Masa Depan Peradaban

HMI
Moeltazam Ketua Bidang PA HMI Cabang Kota Bogor Periode 2022-2023

RADAR BOGOR-Bangsa Indonesia memiliki keberuntungan yang luar biasa dengan keberadaan Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI, sebagai salah satu kekuatan pendorong utama dalam memperkuat wacana dan gerakan untuk memajukan kader-kader bangsa.

Baca Juga : HMI Ajak Warga Bogor Berprilaku Hidup Bersih dan Sehat

Dalam konteks ini, HMI menjadi garda terdepan yang tak hanya menggalang semangat keislaman, tetapi juga berperan dalam membentuk identitas keindonesiaan. Dua semangat inilah yang menjadi spirit perjuangan organisasi kemahasiswaan tertua dan terbesar ini.

Didirikan di Yogyakarta pada 5 Februari 1947 oleh Lafran Pane dan 14 koleganya, HMI telah menapaki perjalanan panjang yang tidak hanya mencerminkan usia organisasional, tetapi juga memperlihatkan perkembangan psikologis yang membawa HMI menuju kematangan berpikir akademis yang tumbuh dan berkembang selama bertahun-tahun, HMI bukan sekadar sebuah organisasi, melainkan wahana yang menciptakan insan-insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam.

HMI memainkan peranan vital secara berkelanjutan dalam perjalanan sejarah kehidupan berbangsa, tidak hanya menjadi saksi peristiwa sejarah, melainkan juga agen perubahan yang memegang peran dan posisi strategis dalam konfigurasi kehidupan kebangsaan dan keislaman. Kita lihat dalam perkembangan HMI dari fase ke fase selalu menjadi episentrum gerakan dan dianggap sebagai kelompok yang kritis, solutif dan inovatif.

Pada awal eksistensinya, HMI terlibat dalam perjuangan melawan neo-kolonialisme Belanda melalui agresi militer satu dan agresi militer dua yang mencoba mengancam kemerdekaan Indonesia. Peran HMI pada fase ini tidak dapat diabaikan, tidak berlebihan jika dikatakan sejarah HMI merupakan bagian logis sejarah Indonesia karena mereka turut serta dalam upaya mempertahankan integritas dan kedaulatan bangsa.

Selain itu, untuk menghadapi pemberontakan Madiun 18 September 1948, HMI melalui Ahmad Tirtosudiro membentuk Corps Mahasiswa (CM) untuk membantu pemerintah menumpas pemberontakan PKI. Tindakan ini mencerminkan respons terorganisir terhadap situasi darurat nasional, memobilisasi mahasiswa untuk bergabung dengan petugas keamanan di gunung-gunung. Langkah ini menunjukkan kontribusi aktif HMI dalam menjaga stabilitas nasional.

Pada fase 1970-1980, HMI muncul sebagai pelopor intelektualisme dan pembaruan pemikiran keislaman di Indonesia. Tokoh-tokoh seperti Ahmad Wahib dan Nurcholish Madjid, yang merupakan kader HMI, memimpin gerakan pemikiran yang membawa wacana Islam ke arah pluralitas dan sekularisasi. Pergeseran ini menunjukkan adaptasibilitas HMI dalam menghadapi dinamika sosial dan politik yang terus berubah.

Sebagai basis gerakan intelektual, kader HMI perlu belajar dari genealogi perjuangan pemikiran tokoh HMI. Dengan memahami perjalanan pemikiran dan kontribusi tokoh HMI, mencari inspirasi untuk merumuskan langkah-langkah menuju masa depan. sudah banyak potret dan perjuangan yang tersimpan menjadi sebuah kenangan dalam peristiwa penting yang menyertainya.

Menuju 1 Abad HMI

Seiring berjalannya waktu, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merayakan usianya yang ke-77 pada 5 Februari 2024. Seperti pohon yang tumbuh kokoh, usia yang semakin tua membawa makna kontribusi yang semakin besar bagi kemajuan. Sebagai entitas yang telah melalui berbagai fase perkembangan, HMI menjadi saksi perjalanan panjang intelektualitas dan semangat kebangsaan dan keislaman.

Pada tahun 2045, Indonesia akan memasuki masa keemasannya, merayakan satu abad kemerdekaan yang monumental, sebagai mencerminkan keteguhan dan kemajuan selama seratus tahun perjalanan sejak kemerdekaannya pada tahun 1945.

Sementara itu, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) akan menyambut tahun 2047, menandai satu abad perjalanan dan kontribusi terhadap perkembangan intelektual dan kebangsaan.

Lantas, apa yang harus disiapkan HMI dalam menyambut era itu? Laboratorium perkaderan HMI jawabannya untuk melahirkan Sumber Daya Manusia yang unggul atau kita kenal mewujudkan 5 kualitas insan cita dalam rangka terwujudnya masyarakat cita yakni masyarakat adil makmur yang di Ridhoi Allah SWT. Tentunya proses perkaderan perlu bersahabat dengan perkembangan zaman.

Namun dalam kajian Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) tahun 2021, perluasan analisis tidak terbatas pada sekadar lapisan pembangunan individu semata. Sebaliknya, pendekatan holistik tercermin melalui penyelidikan lapisan pembangunan penghidupan dan kesejahteraan, serta lapisan partisipasi dalam berbagai aspek kehidupan. Tiga lapisan ini, dengan keindahannya sendiri, menjelma sebagai refleksi dari pembangunan manusia yang utuh dan seimbang.

Dalam dekade terakhir, kader HMI kerap terjerumus dalam persoalan-persoalan yang dianggap sepele. Sayangnya, mereka kadang menjadi alat empuk bagi elite politisi, menjadi alat oposan yang dapat dengan mudah mengubah pola pikir kader HMI. Sehingga, terkadang mereka melupakan eksistensi diri sebagai gerakan intelektual yang berfokus pada nalar dan berpikir kritis.

Persoalan tersebut tidak dapat dielakkan dari gesekan-gesekan kepentingan yang terjadi baik di ranah internal maupun eksternal. Pada tingkat pertama, gesekan internal menonjol sebagai puncak konflik yang disebabkan oleh sibuknya kader dalam mengejar sifat egosentrisme yang terpendam, seringkali tercermin dalam keegoan individu akibat adanya gesekan kepentingan tertentu.

Kedua, gesekan eksternal juga memainkan peran penting. Terbukti dengan pergeseran paradigma perjuangan kader HMI yang semakin condong ke arah politik sebagai basis dan orientasi utama.

Dengan kata lain, bisa dikatakan bahwa posisi HMI kadang dianggap sebatas batu loncatan untuk meraih kekuasaan semata, menjadi semacam “to organize of power.” Hal ini mencerminkan tantangan ketika nilai-nilai idealisme terancam oleh ambisi politik yang mendominasi fokus perjuangan.

Baca Juga : Silaturahmi, Bima Arya Dengarkan Cerita Perjuangan Aparatur Wilayah

Khususnya dalam menghadapi pesta demokrasi, kader HMI terkadang terjerumus pada politik praktis yang mengancam independensinya.

Ambisi kepentingan jangka pendek terlibat secara langsung dalam proses politik praktis. Hal ini menciptakan dilema antara partisipasi politik yang konstruktif dan menjaga independensi sebagai kader umat dan bangsa yang objektif dan kritis.

Tantangan dan Harapan Masa Depan Peradaban

Tantangan yang dihadapi pada zaman ini secara inheren berbeda dengan masa terdahulu, namun kebesaran HMI, yang termanifestasikan dalam pencapaian seperti penobatan Prof. Drs. Lafran Pane sebagai pahlawan nasional, membentuk dasar kokoh sebagai pijakan masa depan.

Meskipun HMI telah berhasil mengantarkan kader-kader terbaiknya ke puncak pengabdian, seringkali kurang disoroti bagaimana perjalanan mereka mencapai kesuksesan tersebut.

Pola mobilitas vertikal yang dulu dijamin oleh penguasa atau senior yang berkuasa telah mengalami perubahan. Kini, kader HMI dihadapkan pada kebutuhan untuk ‘move on’ dari pola klasik tersebut. Hal ini memerlukan kemampuan adaptasi dan inovasi organisasional.

Kesuksesan di masa depan tidak hanya bergantung pada tradisi lama, melainkan juga pada kemampuan mengubah paradigma dan bergerak maju dengan menghadapi tantangan kontemporer.

Pergeseran ini menciptakan panggilan bagi kader HMI untuk memahami esensi kepemimpinan dan pengabdian yang tidak hanya didasarkan pada posisi atau jaringan, tetapi juga pada kapasitas untuk berkembang dan berinovasi.

Sebagai bagian integral dari organisasi dengan sejarah yang kuat, kader HMI memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan warisan kebesaran, namun dengan kreativitas dan ketangguhan untuk menyesuaikan diri dengan dinamika zaman.

Dalam konteks perjalanan HMI, esensial bagi kader untuk mengakomodasi gerakan intelektual dan berpikir kritis. Mereka diharapkan tidak terjebak dalam politik praktis, melainkan melalui politik moral dan nilai, menjunjung tinggi independensi karena independensi adalah mahkota HMI sehingga perlu untuk mencegah disorientasi nilai.

Momentum dies natalis ke-77 HMI menghadirkan panggilan untuk melanjutkan perjalanan panjang bakti HMI untuk Indonesia dan masa depan Peradaban dengan dimensi yang lebih luas. Tidak hanya terpaku pada kancah nasional, HMI diharapkan mampu bergulir hingga kancah internasional.

Dalam konteks ini, perlu dijewantahkan isu-isu global yang tidak pasti, terutama terkait geopolitik dan geoekonomi, dengan fokus khusus pada realitas umat Muslim di dunia, seperti yang terjadi di Palestina.

Baca Juga : Perkuat Sinergi, Pj Bupati Bogor Silaturahmi dengan Lanud ATS

HMI dapat berperan sebagai pelopor kemajuan Islam dan bangsa dengan mengadopsi pendekatan multidimensional. Melalui penekanan pada nilai-nilai Islam dan dedikasi untuk kemanusiaan mewakili aspirasi umat dan memperjuangkan keadilan global. Selain itu, menjadi pelopor kemajuan bukan hanya bagi umat Islam tetapi juga bagi peradaban manusia secara menyeluruh. (*)

Moeltazam
Ketua Bidang PA HMI Cabang Kota Bogor Periode 2022-2023

Editor : Yosep