25 radar bogor

Jembatan Satu Duit Bakal Direvitalsasi, Ini Fakta Menarik dan Sejarahnya

Jembatan satu duit
Jembatan Satu Duit di kawasan Warung Jambu yang akan direvitalisasi. SOFYANSYAH/RADAR BOGOR

BOGOR-RADAR BOGOR, Jembatan Satu Duit yang menghubungkan Jalan Warung Jambu dan Ahmad Yani, bakal direvitalisasi oleh Pemkot Bogor.

Baca Juga : Berumur 30 Tahun, Jembatan Satu Duit Bakal Direvitalisasi, Wawali Kota Bogor Minta Akses Pasar Jambu Dua Tetap Dibuka

Revitalisasi dilakukan karena jembatan yang usianya sudah puluhan tahun itu, dalam kondisi tidak baik-baik saja.

Dibalik rencana tersebut, Jembatan Satu Duit menyimpan fakta dan sejarah menarik. Dikutip dari berbagai sumber, Jembatan Satu Duit sudah ada ketika Istana Bogor dibangun oleh Baron van Imhoff.

Sang Gubernur Jenderal itu, kerap melintasi Jembatan Situ Duit dari Batavia menuju rumah peristirahatannya Villa Buitenzorg.

Awalnya, konstruksi Jembatan Satu Duit masih terbuat dari bambu, namun seiring berkebangnya kawasan tersebut, jembatan ini digantikan dengan jembatan baru yang lebih kokoh.

Pada saat pembangunan, para pekerja hanya diberi upah Satu Real atau Satu Duit. Sejak itulah jembatan ini dikenal dengan nama Jembatan Satu Duit.

Rangka jembatan yang lebih kokoh membuatnya mampu menahan beban berat, khususnya kereta kuda yang membawa penumpang maupun barang.

Bagi orang-orang Belanda, jembatan ini lebih dikenal dengan nama Jembatan Kedung Badak atau jembatan kembar karena terdiri dari dua buah jembatan yang melintasi Sungai Ciliwung di bawahnya.

Barulah pada tahun 1910-1920, jembatan lama dibongkar lalu diganti lagi dengan jembatan baru menggunakan rangka besi yang tentu saja lebih kuat dan kokoh. Terlebih lagi pada masa itu, kehadiran kendaraan bermesin mulai menguasai jalanan di Batavia dan Buitenzorg.

Baca Juga : Pelopor Nasi Bungkus ala Jepang Pertama di Indonesia buka di Bogor, Harga Menunya Mulai Rp 15 Ribuan

Namun demikian, faktor umur jembatan yang sudah tua tentu harus segera mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah. Apalagi aliran sungai di bawahnya kian curam dan membahayakan, sewaktu-waktu jembatan ini tidak lagi kuat menahan beban. (*)

Editor : Yosep