25 radar bogor

DPKPP Bakal Evaluasi Program Jembatan Rawayan

Baru diresmikan Desember 2022, Jembatan Rawayan di Kampung Bojong Kemang, Desa Cikeas, Sukaraja ambruk pada Rabu, (29/11) lalu.

CIBINONG-RADAR BOGOR, Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor, bakal mengevaluasi program pembangunan jembatan rawayan.

Hal itu dilakukan, setelah ambruknya Jembatan Rawayan di Desa Cikeas, Sukaraja beberapa waktu lalu.

Selain baru setahun dibangun, jembatan tersebut juga dinilai tidak memiliki asas manfaat.

Baca juga: Jembatan Rawayan Sukaraja Ambruk, Warga: Jarang Dipakai

Kepala Bidang PSI pada DPKPP Kabupaten Bogor, Nunung Toyibah mengaku akan mengeveluasi pembangunan jembatan rawayan tersebut.

“Jembatan rawayan itu ambruk karena terseret aliran sungai, dan nilai kemanfaatannya juga kuranh, sehingga kami sedang melakukan evaluasi apakah akan dibangun kembali atau tidak,” ucapnya, Kamis (7/12).

Menurutnya, dari hasil pemantauan sementara, jembatan yang dibangun bersama TNI itu hanya digunakan oleh beberapa warga setempat.

Terlebih, warga yang berada di seberang jembatan tersebut, kini telah digusur oleh perusahaan.

“Jembatan itu dibangun di Bulan Agustus – September 2023, diresmikan bulan Desembernya, sementara anggarannya dari APBD sebesar Rp. 460 juta dengan panjang 24 x 1,2 meter,” jelas Nunung.

Awalnya, pembangunan jembatan rawayan tersebut diusulkan melalui musyawarah desa, yang kemudian berlanjut di DPKPP.

“Setelah itu kita verifikasi dan kita evaluasi dengan menjadikan salah satu titik jembatan rawayan yang akan dibangun,” tukas Nunung.

Sebelumnya, Kepala Desa Cikeas, Ervan Sulaeman mengatakan, jembatan tersebut awalnya dibangun untuk memudahkan akses warga, antar Kecamatan Sukaraja dengan Babakan Madang.

Baca juga: Banyak Jembatan Rawayan Ambruk, MPB: Periksa Kondisi Jembatan lainnya Sebelum Ada Korban

Namun di tahun yang sama, rupanya warga yang bermukim di seberang Kampung Bojong Kemang telah digusur oleh perusahaan.

“Di seberangnya, kebetulan karena kita tidak tahu akan ada itu ya, tergusur kampungnya oleh perusahaan, jadi disebut mubazir juga tidak, pernah bermanfaat,” tandasnya.(cok)

Penulis: Septi
Editor: Rany Puspitasari