25 radar bogor

Potensi Kontaminasi Silang dalam Pangan Halal dari Hulu hingga Hilir

Azroo Alfaqih Rojuli
Master of Science IPB University (Candidate)

Konsep halal umumnya menyangkut konsumen Muslim. Halal semakin mendapat perhatian seiring dengan meningkatnya jumlah populasi muslim secara global.

Meningkatnya jumlah umat Islam menunjukkan bahwa konsumsi dan promosi makanan halal menjadi signifikan karena dikaitkan dengan kualitas, kebersihan, dan keamanan sebagaimana prinsip-prinsip Syariah.

Konsep halal pada makanan saat ini melampaui pemahaman nilai-nilai agama saja (Mathew et al. 2014).

Dengan meningkatnya kepedulian terhadap kesehatan, bisnis makanan halal saat ini tidak hanya diperuntukkan bagi konsumen muslim saja karena produk halal juga banyak dicari oleh konsumen non muslim.

Secara definisi, halal berarti “sesuatu atau tindakan yang diizinkan atau sah” menurut hukum Syariah. Tieman dan Ghazali (2014) mengemukakan bahwa halal adalah istilah yang berarti diizinkan, diperbolehkan, sah, atau sah menurut hukum Syariah dan merupakan kebalikan dari “Haram” (dilarang, melanggar hukum, atau ilegal).

Prinsip yang mendasari pola makan umat Islam adalah makanan harus halal (boleh) dan thoyyiban (sehat, aman, bergizi, dan berkualitas).

Persyaratan Hukum Syariah mengenai status halal dengan jelas menyatakan bahwa pengelolaan halal tidak hanya mengatur produksi atau manufaktur pangan, namun pengelolaan halal juga mencakup keseluruhan jaringan rantai pasokan mulai dari asal hingga konsumsi akhir (Tieman, 2013).

Hal ini mencakup pengadaan atau asal bahan mentah, perpindahan, pengangkutan, dan proses distribusi dari hulu dan hilir hingga ke konsumen yang melibatkan banyak pihak.

Simulasi Rantai Pasok Halal MUI
Adanya transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi modern, makanan telah melalui banyak proses dan diangkut ke berbagai belahan dunia.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan konsumen Muslim dan menimbulkan rasa ingin tahu mereka, apakah makanan olahan tersebut mengandung zat haram.

Dalam beberapa tahun terakhir, terungkap informasi terkait campuran daging babi dan lemak babi dalam makanan dan produk makanan.

Untuk mendapatkan keuntungan ekonomi ekstra, produsen makanan cenderung mencampurkan daging babi dan lemak babi dalam produk makanannya dan akhirnya mengklaimnya sebagai produk halal.

Beberapa bukti telah ditemukan seperti DNA babi ditemukan pada daging penjara halal di Inggris dan campuran daging babi dan lemak babi pada bakso (Ali et al. 2012).

Proses Produksi Pangan
Temuan dalam bahan pangan ini dapat berupa kontaminasi yang disengaja maupun tidak disengaja.

Masalah kontaminasi silang yang paling banyak timbul dalam produksi pangan antara lain produk berbahan dasar babi dalam makanan dan minuman, penggunaan gelatin dari sumber hewani yang tidak halal, konsumsi bahan tambahan pangan yang tidak halal, kontaminasi makanan dan minuman dengan alkohol serta daging (yang tidak disembelih sesuai syariah).

Selain itu, daging babi dan turunannya merupakan bahan yang paling banyak digunakan, seperti gelatin, natrium stearoil laktilat, mentega, kolagen, whey, kalsium stearat, asam kaprat, asam miristat, asam oleat, ekstrak pankreas, abu tulang, dan lemak babi (Indrasti et al. 2010).

Disisi lain, produksi halal juga terkena risiko kontaminasi dari peralatannya, yang pada akhirnya berdampak pada integritas halal.

Produk halal tidak dapat disiapkan, diproses, atau diproduksi menggunakan peralatan yang terkontaminasi dengan zat-zat yang najis.

Misalnya, ada kecenderungan penggunaan pisau yang sama dalam menyembelih daging halal dan non-halal.

Kemasan Halal harus mencantumkan logo Halal MUI
Kemasan pangan merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan juga.

Kemasan akan melindungi barang atau makanan dari kontaminasi silang antara bahan halal dan non-halal.

Selain itu kemasan juga berperan sebagai pelindung dari segala kerusakan terhadap produk halal agar status kehalalannya tetap terjaga.

Selama pengangkutan dan distribusi, kemasan digunakan untuk memisahkan produk halal dan non-halal baik dengan menggunakan wadah yang berbeda atau kompartemen yang berbeda dalam wadah yang sama.

Namun, ada beberapa status kehalalan kemasan patut dipertanyakan karena sumber bahan kemasannya adalah hewan yang diragukan kehalalannya.

Kemasan pangan yang terbuat dari bahan yang tidak halal atau diragukan akan dianggap najis dapat menyebabkan produk pangan menjadi haram.

Gudang Penyimpanan Produk Pangan

Dalam perspektif halal, terdapat kecenderungan tinggi bahwa produk halal dapat terkontaminasi silang selama pengemasan dan pengiriman karena pengangkutan atau wadahnya terkontaminasi (Zulfakar et al. 2014).

Potensi kontaminasi silang bisa atau mungkin terjadi terjadi apabila produk halal dapat atau bersentuhan secara fisik dengan bahan tidak halal dari pengiriman sebelumnya melalui angkutan yang sama, yang mengakibatkan produk halal menjadi haram.

Begitu pula dengan penggunaan wadah yang membawa produk halal, namun dipengaruhi oleh adanya unsur tidak halal sebelumnya pada wadah atau kendaraan pengangkut tersebut.

Oleh karena itu, kompetensi logistik halal dan pengetahuan syariah sekaligus teknis sangat penting untuk menjaga integritas produk halal (Ahmad dan Shariff 2016).

Proses Distribusi Ke Toko
Selama pengangkutan dan penyimpanan di gudang, pemisahan antara produk makanan halal dan non-halal harus dilakukan secara ketat.

Pada proses pengemasan dan pengiriman, makanan apa pun yang tidak memenuhi hukum syariah harus dipisahkan karena dianggap najis.

Selama fase penyimpanan juga, Soon et al. (2017) menyarankan agar produk disimpan dan dipisahkan dari produk haram untuk menghindari kontaminasi silang.

Sebagai seorang Muslim, wajib bagi kita untuk hanya mencari produk makanan halal dengan kualitas terbaik dari sumber yang terpercaya.

Karena faktanya tidak hanya umat Islam yang lebih memilih untuk mengkonsumsi produk makanan halal.

Integritas rantai pasokan halal sangat penting untuk memastikan status halal tersebut. Selain itu, integritas halal juga harus menjamin bahwa persyaratan halal terpenuhi.

Integritas halal tidak hanya berkaitan dengan pangan yang diperbolehkan dan dilarang, namun juga status kehalalan produk pangan tidak boleh dilanggar.

Kunci untuk meningkatkan integritas halal dalam perdagangan nasional dan internasional adalah transparansi sehingga konsumen dapat mengambil keputusan yang tepat (Alqudsi 2014; Farouk et al. 2016).

Selain itu, karena rantai pasokan saat ini bersifat global, penggunaan standar rantai pasokan harus disesuaikan dan tidak bersifat lokal, karena dapat membahayakan integritas seluruh rantai pasokan halal.

Oleh karena itu, untuk menjaga integritas pangan halal, standar halal baru mungkin perlu dikembangkan untuk pedagang lokal sehingga mereka sadar akan persyaratan halal dan masalah kontaminasi silang selama proses produksi, pengemasan, penyimpanan, dan transportasi produk makanan halal. (*)