25 radar bogor

Angka Stunting di Kota Bogor Terus Turun, Tersisa 1.849 Balita Lagi

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Sri Nowo Retno dalam kegiatan Publikasi Stunting sebagai aksi konvergensi ke-7 dan Pembentukan Jejaring untuk Promosi Kesehatan di Gedung Paseban Sri Baduga pada Jumat (27/10). Fatur/Radar Bogor

BOGOR-RADAR BOGOR, Hingga Agustus 2023 angka stunting di Kota Bogor turun 0,66 persen atau sekira 451 orang.

Upaya kolaborasi dan inovasi Tim Percepatan Penanggulangan Stunting (TPPS) menunjukkan hasil signifikan.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Sri Nowo Retno dalam kegiatan Publikasi Stunting sebagai aksi konvergensi ke-7 dan Pembentukan Jejaring untuk Promosi Kesehatan di Gedung Paseban Sri Baduga pada Jumat (27/10).

Baca juga: Peringati HUT IDI ke-73, RSUD Leuwiliang Fokus Dukung Turunkan Stunting

Ia menerangkan, data bulan penimbangan balita pada Bulan Agustus 2023 menunjukkan penurunan pada angka stunting di Kota Bogor yang awalnya sebanyak 3,25 persen kini menjadi 2,59 persen atau 1849 balita.

“Setahun ini TPPS melibatkan semua stakeholder instens bergerak lewat aksi konvergensi di sektor kesehatan dan di luar kesehatam. Di sektor kesehatan kami tangani di semua siklus hidup seperti ibu hamil, melahirkan, penanganan pada balita, anak usia sekolah, dan remaja,” ujarnya kepada Radar Bogor.

Salah satu upaya yang gencar dilakukan ialah Program Aparatur Sipil Negara Peduli Stunting dengan Telur (ASN Penting Lur). Dalam program ini seluruh ASN menyumbangkan telur sebanyak 1,5 kilogram per bulan untuk penyandang stunting sehingga setiap hari mereka akan mendapat 2 butir telur selama 6 bulan.

TPPS juga menggalang dana CSR dengan komunitas dan pihak swasta untuk memberikan bantuan pada balita stunting dan rawan stunting. Di samping itu, penanganan di luar sektor kesehatan juga dilakukan salah satunya yakni pengentasan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS).

Baca juga: Tingginya Angka Stunting, Ayu Arianti Gandeng Komunitas Belajar Sehat Bagikan Seribu Telur dan Susu

Sekretaris Daerah Kota Bogor, Syarifah Sofiah menyebut, selain pada kasus stunting Pemerintah Kota Bogor juga berupaya memerhatikan 20 ribu balita resiko stunting dengan sejumlah perawatan.

Tak sendirian, Pemkot Bogor juga disebut Syarifah mendapat bantuan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappanas) untuk keluarga resiko stunting berupa bantuan telur, ayam, dan sembako.

“Komunitas dan swasta juga memberikan bantuan seperti susu dan obat blackmores. Karena stunting telah mejadi prioritas juga dari Pemerintah Pusat. Kami coba selesaikan dulu yang stunting karena waktunya hanya 2 tahun. Jika terlewat perkembangan otaknya akan terhambat,” terang Syarifah. (Fat)

Penulis: Reka Faturachman
Editor: Rany Puspitasari