25 radar bogor

Miris Kasus Kejahatan Seksual di Kota Bogor, DPRD Kritisi Kinerja DP3A

Kejahatan seksual
Anggota DPRD Kota Bogor Ahmad Saeful Bakhri miris dengan kasus kejahatan seksual di Kota Bogor.

BOGOR-RADAR BOGOR, Ketua Komisi IV DPRD Kota Bogor, Akhmad Saeful Bakhri angkat suara terkait dengan kasus kejahatan seksual pencabulan anak di Kota Bogor. Salah satunya dilakukan kakek berinisial MS (58) seorang pengurus musala alias marbut di Pancagalih, Kelurahan Loji, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.

Baca Juga : Kakek Cabuli 10 Anak di Kota Bogor Dirungkus, Terancam 15 Tahun Penjara

Mirisnya, kesepuluh bocah korban kejahatan seksual pencabulan itu masih di bawah umur alias masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Tak hanya itu, di hari yang sama polisi juga mengamankan AM dan MMZ yang merupakan pimpinan dan pengurus salah satu pondok pesantren di Kecamatan Tanahsareal, Kota Bogor atas kasus serupa.

Kedua pengasuh pondok pesantren itu tega melakukan pelecehan seksual kepada ketiga santriwatinya sendiri, dengan modus membujuk dan merayu para santriwatinya.

Akhmad Saeful Bakhri menilai kejahatan seksual kepada anak perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.

Hal itu mengingat anak merupakan generasi bangsa yang harus mendapat perlindungan, sehingga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik tanpa rasa takut.

“Kasus kejahatan seksual terhadap anak seperti ini, di tengah predikat Kota Bogor sebagai Kota Layak Anak menjadi perlu mendapat perhatian khusus, walaupun bukan berarti dalam Kota Layak Anak ada jaminan zero kasus kekerasan,” kata Akhmad Saeful Bakhri, Senin (16/10/2023).

Pria yang akrab disapa Gus M itu mengatakan, perlu adanya sistem pendidikan dan pengawasan yang baik, dalam menekan kasus pelecehan dan pencabulan terhadap anak di Kota Bogor.

“PR-nya saya rasa sangat banyak, karena Kota Layak Anak sendiri merupakan pembangunan sebuah sistem,” ucap dia.

Gus M menilai fokus perhatian pemerintah dalam hal ini Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bogor terlihat lebih berfokus kepada penanganan, tetapi bagaimana membangun budaya perlindungan anak dengan pendekatan kewilayahan, berbasis sekolah, maupun berbasis keluarga belum tampak jelas polanya.

Di mana, pemerintah harus membangun kesadaran dan kewaspadaan orang tua, guru, aparat, masyarakat dan seluruh pihak dalam hal ini menjadi sangat penting, karena kejahatan seksual terhadap anak merupakan bahaya laten yang cenderung banyak dilakukan orang-orang terdekat.

Baca Juga : Jumat Berkah, Kapolresta Bogor Kota Berikan Sarapan Gratis Hingga Ajang Warga Curhat

“Jangan sampai predikat Kota Layak Anak hanya sebagai gengsi. Pertanyaannya sejauh mana aktifasi PATBM Kota Bogor, lingkungan RT/ RW ramah anak, kelurahan/ kecamatan ramah anak, sejauh mana sekolah ramah anak dan sebagainya. Apalagi dengan visi Bogor sebagai Kota Ramah Keluarga, yang seharusnya ini harus mendapatkan perhatian khusus,” cetus Akhmad Saeful Bakhri. (ded)

Reporter : Dede Supriadi
Editor : Yosep