25 radar bogor

Cuaca Kota Bogor Terasa Begitu Terik, Ternyata Ini Sebabnya

Cuaca panas
Sejumlah pejalan kaki menggunakan payung berlindung dari cuaca panas sekitaran Tugu Kujang. SOFYANSYAH/RADAR BOGOR

BOGOR-RADAR BOGOR, Cuaca panas yang terik tengah menyelimuti wilayah Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi ini terjadi diakibatkan beberapa faktor.

Baca Juga : Dalami Fakta, UIKA Minta Mahasiswi atau Korban Pelecehan Seksual Kerja Sama

BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, cuaca panas yang terjadi memang sudah diprediksi sebelumnya. Bulan September kemarin bahkan menjadi puncaknya musim kemarau yang kebetulan berbarengan dengan fenomena El Nino.

Ia menyebut, kondisi ini mendorong pembentukan awan hujan menjadi sangat minim dan membuat penyinaran matahari langsung mengenai permukaan bumi tanpa adanya tameng dari awan hujan.

“(Kemudian) gerak semu matahari pada tgl 21 september di wilayah ekuator dan sekarang pada pergerakan dari ekuatot menuju selatan. Membuat posisi matahari berada di selatan ekuator indonesia sehingga penyinarannya maksimum di sana. Apalagi tutupan awan hujan tidak ada oleh karena itu meningkatkan insensitas penyinaran matahari,” ujarnya.

Di samping disebabkan faktor iklim, Dwikorita mengatakan cuaca panas juga terjadi akibat adanya perubahan lingkungan yang tifak lagi begitu hijau.

Padahal kehijauan lingkungan sangat berpengaruh terhadap kesejukkan. Banyaknya pohon membuat insensitas penyinaran matahari dapat termitigasi.

Baca Juga : UIKA Siap Tampung Laporan dan Lindungi Penuh Korban Pelecehan Seksual

Teriknya insensitas matahari bahkan membuat indeks ultraviolet mencapai level ekstrem yakni di atas angka 11. Dwikorita menyebut indeks tertinggi itu terjadi pada pukul 12.00 WIB hingga 15.00 WIB waktu setempat. Sementara indeks UV di waktu pagi dan sore tergolong rendah atau low dengan angka 0-2.

“Untuk melindungi diri kami mengimbau masyarakat menggunakan tabir surya dan rutin membaca informasi terkait kondisi cuaca dari BMKG,” tuturnya. (fat)

Reporter : Reka Faturachman
Editor : Yosep