radar bogor

Prajurit Merah-Putih

Oleh: Hazairin Sitepu

Komandan Lapangan Udara (Lanud) Atang Sendjaja (ATS) Marsekal Pertama (Marsma) Taufiq Arasj sedang berada dalam Skuadron 8. Ia hanya berpakaian olahraga. Tetapi dua helikopter  tampak sedang terparkir (siaga) dalam skuadron itu  menghadap runway.

Kesibukan kemiliteran  memang tidak tampak dalam skuadron elit itu. Para kolonel, letnan kolonel, perwira menengah pertama dan beberapa prajurit berada dalam skuadron. Mereka pun hanya berpakaian sipil.

Tidak tampak satu pun senjata dalam skuadron di hari Minggu pagi itu, kecuali mangkok dan piring-piring yang berisi coto Makassar dan pisang ijo.

Tiba-tiba datang sekelompok orang ‘memaksa’ masuk ke dalam skuadron. Kebanyakan mereka mengenakan kaos berwarna merah-putih. Marsekal Taufiq dan semua anak buahnya kaget. Sontak berdiri. Melototi rombongan orang tidak dikenal itu.

Kesibukan pun terjadi. Beberapa anak pun berlarian ke bagian belakang rombongan orang ber-kaos merah-putih. Rupanya ada atraksi barongsai mengiringi rombongan.

Yang bikin kaget se-isi skuadron itu ternyata ulah komunitas Bogor Sahabat, Sunday Walking dan penyelenggara Festival Merah-Putih. Mereka datang membawa kue dan membuat atraksi barongsai sebagai kejutan ulang tahun kepada Mersekal Taufiq Arasj. Minggu 6 Agustus Taufiq yang penerbang helikopter VVIP itu memang berusia 50 tahun.

Keluarga besar ATS sejak pagi hari sudah berkumpul di Skuadron 8. Taufiq tidak mengetahui aksi  anak-anak buahnya itu. Ia yang hendak bermain bulu tangkis bersama puteranya kaget begitu  memasuki pintu garasi skuadron. Banyak anak buahnya berkumpul. Lalu ada meja-kursi tertata rapi. Banyak piring dan mangkok. Isinya coto Makassar dan pisang ijo, makanan khas Bugis-Makassar. Marsekal Taufiq memang putra Bugis.

Marsekal Taufiq memang baru empat bulan menjadi Komandan Lanud ATS. Tetapi ia telah terlibat langsung dalam beberapa acara besar di Bogor.  Salah satunya Festival Merah-Putih.  Ia bahkan ikut begadang bersama panitia.

Kejutan keluarga besar ATS dan komunitas-komunitas besar di Bogor kepada Marsekal Taufiq Arasj pada ulang tahunnya ke-50 ini sebagai wujud rasa cinta. Wujud dari keindahan pertemanan tanpa batasan.

Beberapa hari setelah dilantik, memang sudah tampak tanda-tanda bahwa Marsekal Taufiq pemimpin TNI yang  hebat. Ia mengundang parah tokoh, termasuk saya, ke Lanud ATS, untuk menjelaskan program Lanud ATS. Termasuk program-program kemasyarakatan.

Selain bakti sosial, Mersekal Taufiq menjelaskan fungsi Rumah Sakit Hassan Toto, yang milik ATS itu. “Rumah sakit ini melayani pasien dari masyarakat umum. Datanglah berobat ke sini. Saya sudah minta kepala rumah sakit untuk melayani,” kata Taufiq waktu itu.

Merajut Cinta

Kepala Basarnas Marsekal Madya (Marsdya) Henri Alfiandi dan Letan Kolonel (Adm) Afri Budi Cahyo beberapa hari lalu ditangkap KPK. Keduanya dituduh terlibat dalam kasus korupsi uang negara. Baik KPK maupun TNI, sudah mengumumkan bahwa keduanya sudah menjadi tersangka.

Apakah penangkapan dan pemeriksaan keduanya menjadi wewenang KPK atau TNI, itu tidak penting dalam tulisan ini. Tetapi keduanya telah mengotori lembaran besar TNI. Telah mencoreng  sebagian muka TNI.

Dalam kurang-lebih delapan tahun terakhir, rakyat seperti kurang percaya kepada parlemen, kepada partai politik, bahkan kepada kampus. Tetapi rakyat percaya dan sangat mencintai TNI. Kasus korupsi Marsekal Henri sungguh  telah mereduksi rasa cinta dan percaya  rakyat itu.

Marsekal Taufiq telah dan sedang membuka lebar pintu hati untuk menerima cinta dan rasa percaya rakyat. Ia bahkan telah dan sedang memadu cinta bersama rakyat di sini. Semua rakyat adalah ‘prajurit’. Prajurit Merah-Putih.

Hakikat penciptaan dan penghambaan tertinggi adalah cinta.

Selamat ulang tahun Marsekal Taufiq Arasj. (*)