25 radar bogor

Pindah Lebih Dekat ke SMAN 1 Bogor, Malah Gagal PPDB Jalur Zonasi

Dialog Obrolan Serius mencari Solusi (Obsesi) mengenai kisruh PPDB di Graha Pena Radar Bogor, Kamis (27/7).(Radar Bogor/Sofyansyah)

BOGOR-RADAR BOGOR, Salah seorang warga Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah Lumintu hingga kini masih berharap anaknya bisa masuk ke SMAN 1 Bogor.

Diketahui, anaknya mLtidak lolos pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jalur zonasi tahun ini. Padahal, rumah dan SMAN 1 Bogor masih dalam satu kelurahan.

Baca Juga: PPDB Rugikan Masyarakat, Begini Solusi yang Ditawarkan Pakar Pendidikan

“Karena pakai KK yang di Paledang tempat sebelumnya tinggal, sekarang saya pindah ke yang lebih dekat SMAN 1 Bogor karena kena gusur kereta. Saya juga waktu daftar lampirin KK yang lama, tapi ya mungkin belum kesaring (tidak lolos),” kata Lumintu, yang juga hadir dalam Diaog Obsesi di Radar Bogor, Kamis (27/7).

“Ya saya minta agar bisa keterima di SMAN 1. Soalnya merasa teman-temannya kalau pulang, suka pada mampir, kayak masih miris hatinya, belum rela, kalau gak bisa ke SMAN 1. Soalnya mereka yang jauh juga pada keterima kok saya gak bisa,” kata Lumintu menirukan ucapan anaknya.

Namun, anaknya saat ini sudah didaftarkan di sekolah swasta yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Meski demikian, ia masih mengharapkan SMAN 1 bisa menerima anaknya.

Keluhan Lumintu juga sempat disampaikan langsung ke Wali Kota Bogor, Bima Arya pada Kamis (6/7) lalu.

Menanggapi persoalan itu, Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Jawa Barat Wilayah II Asep Sudarsono mengakui, dirinya beserta jajaran hanya pelaksana peraturan. Menurutnya, jumlah maksimal siswa dalam setiap kelas sebanyak 36 orang.

Baca Juga: Gagal Masuk SMAN di Bogor, Begini Ungkapan Kekecewaan Orang Tua Siswa

“Tapi kalau solusi untuk SMAN 1 baru 9 kelas. Kalau misalkan bisa menerima satu kelas, bahkan 3 kelas lagi, asalkan ada bangunannya,” ucap dia.

Pasalnya, dengan kegiatan belajar mengajar yang sudah berjalan, sulit memasukkan siswa yang baru. Tentunya harus mengeluarkan siswa yang ada.(*)

Reporter: Dede Supriadi
Editor: Imam Rahmanto