25 radar bogor

Disdik Bakal Buka SATAP Tahun Depan dan Kaji Merger SD

Wali Kota Bogor Bima Arya mengecek langsung progres pembangunan sekolah satu atap (Satap) di Kelurahan Kencana. (Humas Pemkot Bogor)

BOGOR-RADAR BOGOR, Minimnya SMP Negeri di Kota Bogor akhirnya membuat banyak warga kurang mampu harus bersaing ekstra berebut kursi yang terbatas. Kesempatan menikmati pendidikan gratis semakin terkikis.

Kondisi itu pun diakui Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor. Kepala Bidang SMP, Yosep Berliana membenarkan bahwa daya tampung SMPN di Kota Bogor masih sangat timpang dibanding lulusan SD.

Baca Juga: Satu Dekade Tanpa Sekolah Baru di Kota Bogor, Tahun Depan Wajib Ada!

Ia mengatakan, sejumlah solusi tengah diupayakan Pemerintah Kota Bogor untuk menanggulangi permasalahan tersebut.

Di antaranya dengan membuka Sekolah Satu Atap (SATAP) di Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal dan menggabungkan (merger) SD.

“Tahun depan baru akan menambah 1 sekolah saja di SATAP. Memang kendala menambah sekolah di Kota Bogor itu ada di sisi lahan yang mahal sehingga butuh daya dukung kuat. Kami juga perlu pengkajian untuk menentukan daerah yang betul-betul prioritas,” jelasnya.

Di samping itu, Yosep juga mengungkapkan, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) sedang merumuskan langkah penanggulangan cepat dengan merger SD yang muridnya kursng menjadi SMPN.

Langkah sementara bapeda sedang mengkaji kebutuhan sekolah. Langkah cepatnya solusi lewat SD yang muridnya kurang akan di-merger atau disatukan menjadi SMP ke depan.

Dirinya berharap, hal itu bisa memenuhi kebutuhan SMPN.

Baca Juga: Banyak Warga Miskin Tak Masuk Sekolah Negeri, Wandik Dorong Buka SMP Baru

Meski demikian, dirinya belum bisa memastikan kapan dan dimana rencana merger itu dapat direalisasikan.

“Kami belum bisa memastikan sekolah yang prioritas. Karena Kecamatan Bogor Timut baru ada 1 SMP, Kecamatan Bogor Utara juga masih minim. Selain itu, di Kecamatan Bogor Selatan juga butuh karena lulusan dari SD-nya banyak,” terang dia. (*)

Reporter: Reka Faturachman
Editor: Imam Rahmanto