Dorong Sentra Ikan Hias di Kukupu, Dedie Buka Potensi Lahirnya Kampung Wisata Baru

Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim pencanangan di Kampug Kukupu, Tanah Sareal, Kota Bogor, Selasa (24/1). (Radar Bogor/ Reka Faturachman)

BOGOR-RADAR BOGOR, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bakal mendorong aktivitas budi daya ikan hias di Kampung Kukupu, Kecamatan Tanah Sareal kembali aktif. Hal itu dicanangkan Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim pada acara pembinaan dan pengembangan ikan hias, Selasa (24/1).


Dalam acara tersebut, Dedie menginstruksikan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) untuk memberikan sejumlah bantuan sebagai stimulan perkembangan para pembudidaya.

“Saya minta minggu depan antar akuarium, bibit, dan pakan ke warga. Lalu untuk mengatasi masalah permodalan nanti kami ajak Permodalan Nasional Madani ke sini,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, Bogor memiliki potensi ekspor ikan hias. Niainya bahkan menyentuh 1 juta dollar dalam setahun.

Oleh karena it, ia menginginkan adanya keseriusan dari DKPP dan para pembudidaya sehingga Kampung Kukupu dapat menjadi sentra ikan hias di Kota Bogor.

“Ini perlu komitmen bersama. Bukan tidak mungkin ini menjadi kamoung wisata tematik baru seperti yabg sudah ada saat ini,” ucap Dedie.

Dia juga menyarankan agar para pembudidaya dapat bergerak secara kreatif menciptakan gimmick tren di masyarakat sehingga harga ikan hias yang dijual semakin baik.

Kepala DKPP Kota Bogor, Anas S Resmana menuturkan Kampung Kukupu sudah lama dikenal sebagai tenpat budidaya ikan hias. Wilayah ini pernah mencapai kejayaannya di tahun 1970-an. Namun kemudian meredup pada era 80-an.

“Sebabnya karena banyak lahan di sini yang beralih menjadi perumahan sehingga mereka tergerus. Pada tagun 2000-an bangkit lagi dan tumbuh pembudidaya baru di generasi ketiga,” beber Anas.

Saat ini terdapat 23 orang aktif membudidayakan ikan hias di kampung tersebut. Berbagai ikan hias yang dihasilkan antara lain ikan oscar, gabus channa, piranha, serta cupang.

Kebanyakan ikan yang dihasilkan saat ini dijual di kawasan Jalan Binamarga dan Pasar Anyar. Mereka juga sudah mulai mengekspor ikannya ke negara lain.

“Tapi saat ini belum bisa ekspor sendiri, masih melalui offtaker yang ada di Jakarta,” timpal Anas.

Pihak DKPP berkomitmen membantu warga dengan menyerdiakan sejumlah bantuan pelatihan. Misalnya pelatihan keimigrasian, manajemen usaha, dan soal bea cukai.

Hal itu ditujukan agar para pembudidaya dapat mengekspor sendiri ikannya dan mendapat keuntungan yang lebih besar.

Avatar


“Kami juga sepakat ini bisa dijadikan kampung wisata, karena konsep budi daya ikan hias belum ada,” tutur Anas. (*)

Reporter: Reka Faturachman
Editor: Imam Rahmanto

Berita Lainnya