Srikandi Gerakan Anak Negeri, Tetap Tegar Meski Tanah Bergetar

Nita Romandoni, relawan dari Gerakan Anak Negeri membantu tim medis di Kabupaten Cianjur. (Radar Bogor/ Sofyansyah)

BOGOR-RADAR BOGOR, Anita Romandoni menjadi salah satu perawat yang berangkat bersama Tim Gerakan Anak Negeri (GAN) ke lokasi bencana gempa Cianjur. Ia sekaligus menjadi perempuan relawan satu-satunya dari GAN yang berangkat pertama kali.

Seperti biasa, GAN membawa sejumlah bala bantuan untuk titik bencana. Bukan sekadar makanan, melainkan juga kebutuhan terapis dan medis.

Perempuan yang akrab disapa Nita ini ikut membantu dokter memberikan perawatan medis untuk para korban di posko-posko pengungsian.

Baca Juga: Bantuan Terus Berdatangan ke Posko Gerakan Anak Negeri

Niat menjadi relawan memang sudah tumbuh dalam dirinya kala mendengar kabar banyak korban berjatuhan akibat gempa 5,6 skala richter tersebut.

Ia berencana ikut dalam tim relawan kampusnya STIKES Wijaya Husada Bogor. Sayangnya, ia terlambat.

Rasa kecewa mendorong Nita untuk terus mencari informasi terkait penerimaan relawan. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ia menemukan informasi yang dicarinya di Instastory Radar Bogor untuk menjadi salah satu relawan GAN.

“Waktu itu saya juga ajak 20 teman kampus lain juga. Setelah mendaftar pukul 16.00 WIB kami dapat informasi pada pukul 21.00 bahwa tim relawan akan berangkat pukul 00.00 WIB,” tuturnya.

Kabar tersebut ternyata membuat seluruh temannya menciut. Mereka mengurungkan niatnya untuk berangkat bersama tim GAN. Tapi itu tidak berlaku untuk Nita ia tetap kukuh pada niatnya.

“Setelah dapat informasi itu saya baru izin ke orang tua. Respons orang tua saat itu tidak mengizinkan. Ayahku waktu itu langsung ke kantor Radar Bogor untuk memastikan kegiatan relawan itu betul ada. Akhirnya diizinkan karena yang menyelenggarakannya Radar Bogor,” ucap perempuan kelahiran Boyolali itu.

Nita berangkat menembus dinginnya malam diantar sang ayah pukul 23.45 WIB. Mereka berangkat dari kediamannya di Salabenda dengan menggunakan motor menuju Kantor Radar Bogor. Sesampainya di Graha Pena Nita menunggu kendaraan yang akan menjemputnya di Pos Satpam.

Sayangnya kendaraan tersebut tak kunjung datang jua. Nita bahkan sempat tertidur karena rasa kantuk yang tak tertahankan. Ia akhirnya berangkat setelah mobil ekspedisi Radar Sukabumi yang menjemputnya baru tiba pukul 03.00 WIB pagi.

“Ternyata saya ke Radar Sukabumi dulu baru ke lokasi. Waktu itu sampai sekira pukul 6 pagi setelah itu tidur sebentar dan berangkat menuju lokasi bencana di Cianjur pukul 08.30 WIB,” terangnya.

Kampung Jenggung, Desa Benjot, Kecamatan Cugenang jadi lokasi bencana pertama yang disambanginya. Setelah bergabung dengan Tim GAN yang sudah lebih dulu berangkat, ia pun langsung berbaur dan bersiap memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Belum sempat memberikan pelayanan, gempa mengguncang daerah tersebut. Kepanikan pun terjadi. Para relawan lari menjauhi bangunan yang tengah ditempati diiringi suara reruntuhan bangunan menjatuhi atap alumunium.

Meski kaget dan khawatir Nita dan rekan relawannya kembali melanjutkan pelayanan setelah keadaan kembali kondusif.

Guncangan gempa susulan yang masih kerap terjadi di wilayah Cianjur terus mewarnai perjalanan Nita sebagai relawan di sana. Bukan cuma saat di lokasi gempa juga dirasakannya saat berada di kantor Radar Cianjur yang menjadi tempatnya bernaung selama di Cianjur.

Namun kondisi itu tidak membuatnya khawatir berlarut-larut, Nita tetap tegar meski acap diguncang gempa. Puluhan pengungsi di berbagai lokasi dilayani olehnya sepenuh hati. Tugasnya melakukan medical check up, membantu dokter, dan memberikan obat, dilakukan dengan baik.

Baca Juga: Empat Hari Bantu Korban Gempa, Gerakan Anak Negeri Tembus 10 Titik

Bekerja di lokasi bencana juga membuat Nita harus bergerak lebih cepat dan tanggap. Pengalaman itulah yang justru dirasanya sebagai pelajaran berharga sebagai relawan bencana untuk pertama kalinya.

Kesempatannya berjumpa dengan banyak orang juga dipandang Nita sebagai nilai tambah yang didapatkannya selama 5 hari berada di Cianjur.

“Melihat keadaan para pengungsi membuat aku lebih banyak bersyukur. Bertemu dengan relawan lain membuatku senang karena bisa menambah teman,” kata perempuan berusia 21 tahun itu.(*)

Reporter: Reka Faturachman
Editor: Imam Rahmanto

Berita Lainnya