Setahun, 45 Kasus Kekerasan Anak di Kota Bogor

Ilustrasi Kekerasan Terhadap Anak

BOGOR-RADAR BOGOR, Kasus kekerasan anak masih membayang-bayangi Kota Bogor. Dalam setahun, tercatat sebanyak 45 kasus kekerasan anak yang terjadi.

Data itu yang dirangkum oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bogor hingga November 2022. Secara rinci, meliputi 12 kasus menimpa anak laki-laki dan 33 kasus kekerasan pada anak perempuan.

Baca Juga: Cegah Bullying, SMKN 1 Kemang Bentuk Agen Perubahan Dalam Program Roots

“Jumlah ini tidak membuktikan angka sebenarnya karena di luar sana banyak kekerasan yang tidak terlampirkan,” ucap Kepala DP3A, Iceu Pujiati kepada Radar Bogor, Senin (28/11).

Ia menambahkan, kasus kekerasan itu bermacam-macam jenisnya. Mulai dari kekerasan yang dilakukan orang tua, teman-teman sebaya, hingga yang berbentuk pelecehan seksual.

Oleh karena itu, kasus kekerasan pada anak harus menjadi perhatian semua pihak. Apalagi, Kota Bogor memiliki cita-cita sebagai kota layak anak. Tentu, keamanan bagi anak-anak menjadi hal utama dan prioritas.

DP3A sendiri telah sering menyosialisasikan mengenai kekerasan terhadap anak itu. Salah satunya, kekerasan anak yang biasanya menimpa di sekolah melalui bully atau perundungan.

Iceu dan timnya rutin mendatangi sekolah-sekolah yang ada di Kota Bogor untuk mengedukasi pengawas dan tenaga pengajar mengenai perlindungan dan pemenuhan hak anak.

Selain itu, pelatihan konvensi hak anak (KHA) gencar dilakukan pihaknya bersama lembaga PGRI. Hingga saat ini sebanyak 120 tenaga pengajar sudah diberikan edukasi mengenai hak-hak anak.

“Kami juga turut menggandeng konselor-konselor yang ada di Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) maupun di UPTD PPA untuk menyampaikan hal tersebut (mengenai pentingnya melindungi hak-hak anak),” tambahnya.

Baca Juga: Siswa MTs Meninggal Dunia Dibully, Dianiaya Temannya Saat Hendak Salat

Komunikasi interaktif dilakukan pula oleh DP3A kepada para pelajar khususnya kaum perempuan untuk mencegah perilaku bully dengan program keputrian yang dilaksanakan setiap Jumat siang.

“Dari situ kami menggali sejauh mana kekerasan terjadi di sekolah-sekolah,” terang Iceu.(*)

Reporter: Reka Faturachman
Editor: Imam Rahmanto

Berita Lainnya