Empat Keluarganya Meninggal, Rumah Ambruk Usai Potong Rambut

Paman korban meninggal ssaat bercengkerama di tenda pengungsian. Bencana gempa bumi di Cianjur menyisakan banyak luka bagi warga. (Radar Bogor/ Hendi Novian)

CIANJUR-RADAR BOGOR, Mata Ahmad Miftahudin berkaca-kaca saat menunjukan sebuah video detik-detik pasca gempa bumi yang terjadi di Cianjur, Minggu (27/11). Ia kehilangan empat anggota keluarga akibat gempa bumi itu.

Video yang tersebar di media sosial itu menjadi kenangan pahit baginya. Isinya menunjukkan detik-detik keluarganya saat dievakuasi dari reruntuhan bangunan rumah, Senin (21/11) silam. Empat orang tewas, dua lainnya terluka.

Baca Juga: Gempa Cianjur, Empat Bocah Santri Tewas Tertimpa Bangunan Majelis

Korban meninggal itu adalah ibu, adik, dan dua keponakannya. Sementara istri dan bibinya masih terselamatkan meski ikut berada di dalam rumah itu. Istrinya mengalami luka-luka.

“Masih sedih saya kalo diingat-ingat, gak nyangka,” lirih Ahmad kepada Radar Bogor.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mencatat, total sebanyak 321 orang meninggal dunia akibat gempa bumi di Cianjur hingga Minggu (27/11). Jumlah itu termasuk keluarga Ahmad.

Rumahnya di RT 01/07 Desa Limbangan Sari, Kecamatan Cianjur terlihat porak-poranda. Padahal, lokasinya tidak jauh dari pusat kota.

Selain rumahnya, beberapa rumah sekitarnya juga ambruk. Warga di sana terpaksa mengungsi di tenda darurat yang menccapai 27 keluarga dan 88 orang.

Ahmad juga sempat menceritakan saat gempa M5,4 itu terjadi, Senin (21/11) lalu. Ia baru saja habis memotong rambut di salon langganan. Dari sana, ia menyadari gempa bumi mengguncang kediamannya.

“Semua goyang, kayak ada yang dorong-dorong, sampai saya gak sempat bayar cukur rambut, semua panik pada lari,” katanya.

Ia buru-buru tancap gas motor ke arah rumahnya. Selama perjalanan, hatinya waswas. Firasat buruk menghantui Ahmad sepanjang jalan.

Baca Juga: Sanitasi Pengungsian Buruk, Korban Gempa Cianjur Mulai Terserang Penyakit

Ia terkejut bukan melihat rumahnya ambruk. Suara teriakan yang terdengar dari balik reruntuhan menandakan beberapa korban dari keluarganya.

“Mereka sempat minta tolong, nyebut, saya langsung minta bantuan tetangga, tapi gak sempat,” sedih Ahmad.(*)

Reporter: Septi Nulawam
Editor: Imam Rahmanto

Berita Lainnya