Gempa Cianjur, Empat Bocah Santri Tewas Tertimpa Bangunan Majelis

Gempa Cianjur
Warga hanya bisa meratapi bangunan yang ambruk karena teringat korban lainnya yang tak bisa diselamatkannya akibat Gempa di Cianjur, Selasa (22/11). (Radar Bogor/ Sofyansyah)

CIANJUR-RADAR BOGOR, Gempa di Cianjur meninggalkan banyak luka dan cerita pilu. Korban yang didominasi anak-anak, sungguh menyayat hati.

Pengurus Pondok Pesantren dan Majelis Talim Ibnu Izzudin Al Yasin Ahmad Kikin Bulkini harus menyimpan kenangan buruk. Air matanya tak pernah bisa terbendung setiap kali melihat bangunan majelisnya.

Puing-puing bangunan yang luluh lantak itu selalu menarik ingatan buruk di kepalanya. Sebuah penyesalan dan rasa bersalah karena tak bisa menyelamatkan para santri kesayangannya di Desa Cikancana, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur.

Baca Juga: Gempa Susulan di Cianjur Masih Terjadi, Warga Bertahan di Luar Rumah

“Astagfirullah Ya Allah hampura, teu bisa nulungan, hampura,” lirihnya dengan tatapan mata sembap.

Ikin, sapaan akrabnya, hanya bisa tersedu sedan. Sebanyak 4 santrinya menghembuskan napas terakhir saat Cianjur diguncang gempa bumi, Senin (21/11) kemarin. Anak-anak malang itu tertimpa bangunan majelis saat mengaji.

Mereka adalah Kiandra Alfatih (6), Muhammad Surya (9), Hafizah Naura Adinda (8), Zakiyah Talita Rahma (8).

Ikin berkisah, ada sekira 40 anak yang tengah belajar di dalam majelis bersamanya siang itu. Sebanyak 12 anak di ruangan bagian dalam, sisanya 28 orang belajar di ruangan bagian luar.

“Waktu itu lagi mau baca Asmaul Husna untuk memulai proses belajar mengajar. Tiba-tiba guncangan begitu dahsyat terjadi. Sontak, saya teriak menyuruh anak-anak untuk keluar ruangan,” tutur Ikin, harus menahan sesak dadanya.

Kepanikan pun terjadi. Belum sempat menyelamatkan semua anak muridnya, Ikin terpental sejauh 1 meter dan terjatuh di depan majelisnya. Selang beberapa detik, bangunan itu runtuh dan menimpa puluhan anak di bawahnya. Ikin tak sadarkan diri.

“Saat sadar, saya langsung bangun dan mencoba masuk ke dalam. Tapi, ternyata sangat sulit. Tubuh saya pun tidak kuat. Akhirnya, saya dibopong menjauh, sedangkan evakuasi dilanjutkan oleh warga lain,” ucap Ikin.

Akibat kejadian ini, puluhan anak mengalami luka-luka. Beberapa diantaranya mengalami patah kaki dan harus menjalani perawatan intensif. Hingga saat ini barang-barang milik para santri masih tertinggal dalam bangunan tersebut. Misal, tas, sandal, dan buku-buku tampak bercecer di lantai kelas.

Salah satu orang tua korban, Subarna menceritakan, saat itu dirinya sedang merebahkan badan di dalam rumahnya. Guncangan hebat yang terjadi menyentak dirinya. Ia keluar dari rumah menyelamatkan diri, istri, dan anak keduanya.

Dalam pikiran yang kalang kabut Subarna teringat anak pertamanya yang belum beberapa lama pamit pergi untuk mengaji. Dengan sekuat tenaga, Subarna lari ke majelis mencari sang anak. Betapa teekejutnya ia melihat majelis sudah dalam kondisi runtuh.

Baca Juga: Perjuangan Warga Korban Gempa Cianjur, Terjang Longsor Demi Bertemu Keluarga

“Saat itu banyak tangisan anak kecil. Ada yang sudah keluar, tapi lebih banyak yang di dalam. Semua berlumur darah. Saya masuk dan melihat beberapa anak sudah meninggal dunia terhimpit runtuhan bangunan. Banyak dari mereka terhimpit dalam kondisi seperti sedang menulis,” tutur Subarna.

Di tengah kebingungan, Subarna melihat lambaian tangan sang anak yang teriak memanggilnya di bawah reruntuhan. Panik, ia buru-buru menyingkirkan bongkahan-bongkahan material yang runtuh. Meski berlumuran darah pada kepala dan memar di sekujur tubuh, anak Subarna ditemukan selamat. (*)

Reporter: Reka Faturachman
Editor: Imam Rahmanto

Berita Lainnya