Menanti Masa Depan Ciliwung Terbebas dari Sampah

Satgas Ciliwung
Satgas Ciliwung Kota Bogor memperingati Hari Ciliwung, Jumat (11/11). (Radar Bogor/ Reka Faturachman)

BOGOR-RADAR BOGOR, Kondisi Sungai Ciliwung masih butuh banyak perhatian. Banyak pekerjaan yang harus dibenahi untuk mewujudkan Ciliwung yang layak menjadi habitat bagi hewan endemik.

Tanggal 11 November selalu diperingati sebagai Hari Ciliwung. Peringatan ini dimulai sejak tahun 2011 silam. Penemuan dua bulus atau sejenis kura-kura menunjukkan eksistensi hewan endemik yang perlu dijaga habitatnya.

Baca Juga: Bebersih Ciliwung, Puluhan Anak Semangat Berburu Sampah

Satgas Naturalisasi Ciliwung Kota Bogor, Suparno Jumar mengungkapkan, masih banyak pekerjaan rumah yang mesti dilakukan untuk membenahi sungai sepanjang 120 kilometer itu.

“Pertama soal bangunan-bangunan yang melanggar garis badan sungai, kedua masih banyaknya titik timbunan sampah, dan terkait Open Defecation Free (ODF) atau gerakan stop buang air besar sembarangan,” ucapnya, usai peringatan Hari Ciliwung di Kelurahan Sukaresmi, Jumat (11/11).

Permasalahan timbunan sampah Sungai Ciliwung di Kota Bogor sudah lebih baik dari wilayah lain. Itu hasil dari komitmen kerja tim satuan tugas yang setiap hari turun ke sungai dan masyarakat mengatasi permasalahan sampah.

Bagi Suparno, upaya yang berkesinambungan dari kultur masyarakat menjadi kunci permasalahan sampah di sungai. Tidak sekadar menggeber pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah daerah.

“Infrastruktur dan kulturnya harus sama-sama baik. Karena jika salah satunya tidak baik maka akan berantakan,” ucapnya kepada Radar Bogor.

Ia juga mengakui, edukasi kepada masyarakat memang bukanlah hal yang mudah. Padahal, menurutnya, jika masyarakat sudah teredukasi dan disiplin maka permasalahan sampah akan dengan mudah terselesaikan.

Satgas Ciliwung sedang menanti pemberlakuan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 75 tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah. Sebab, hal itu dianggap akan menjadi semangat yang baik bagi pembenahan Sungai Ciliwung.

“Dengan adanya itu, maka industri akan ikut serta bertanggung jawab terhadap kemasan yang dihasilkan lewat produk yang didistribusikan olehnya,” tutur pria yang akrab disapa Pak De ini.

Wali Kota Bogor, Bima Arya ikut turun tangan mengatasi permasalahan sampah Ciliwung di wilayahnya itu. Menurutnya, persoalan Sungai Ciliwung selalu berakar pada masalah yang sama, yakni keterbatasan intervensi.

Baca Juga: Hentikan Pencemaran Sungai Ciliwung, Seniman Bogor Buat Mural Edukasi 22 Meter

Sungai yang membentang dari Kabupaten Bogor hingga DKI Jakarta ini dipegang oleh lintas kewenangan sehingga menyulitkan persoalan regulasinya.

“Urusannya dari hulu ke hilir lintas kewenangan. Tidak semua bisa langsung kita intervensi. Harus ada di Balai Besar Wilayah Sungai koordinasi dengan wilayah lain,” ucapnya.

Ia sekaligus ingin menitipkan agenda Ciliwung ke calon pemimpin ke depan. Masanya telah berakhir. Semua pemimpin berikutnya harus fokus ke Ciliwung.

“Kalau tidak, bencana akan terulang. Jakarta akan kebih cepat terendam jika kita tidak konsisten di Ciliwung,” pungkasnya.(*)

Reporter: Reka Faturachman
Editor: Imam Rahmanto

Berita Lainnya