Kesehatan dan Alternatif Pangan di Masa Depan

Donald John Calvien Hutabarat
Donald John Calvien Hutabarat

Oleh Donald John Calvien Hutabarat

Mahasiswa Pascasarjana IPB – Ilmu Pangan

PPB memprediksi populasi penduduk bumi di tahun 2050 akan mencapai 9.7 milliar. Peningkatan populasi ini tidak seimbang dengan produksi pangan dan luas lahan pertanian. Untuk memenuhi kebutuhan produksi pangan dimasa depan ini ilmu dan teknologi pangan sangat berperan memberikan solusi untuk mencarikan sumber alternatif pangan baru. Selain memberikan solusi tersebut perlu juga kita mengetahui bagaimana pangan di masa depan memberikan solusi terhadap kesehatan.

  1. Pangan dan Kesehatan. 

Gula, garam, dan lemak (GGL) masih menjadi salah satu yang harus diperhatikan untuk masa depan manusia. Sebagai contoh di Indonesia telah menganjurkan konsumsi gula, garam dan lemak, Permenkes nomor 30 tahun 2013 menyebutkan bahwa konsumsi gula lebih dari 50 g (4 sendok makan), natrium lebih dari 2000 mg (1 sendok teh) dan lemak/minyak total lebih dari 67 g (5 sendok makan) per orang per hari akan meningkatkan risiko hipertensi, stroke, diabetes, dan serangan jantung. Industri pangan juga sangat beperan memberikan informasi kandungan GGL serta pesan kesehatan yang tercantum pada label pangan dan makanan harus dapat dibaca dan jelas. Kesadaran akan kesahatan ini juga mendorong konsumen untuk lebih selektif dalam memilih produk untuk dikonsumsi. Hal ini akan mendorong pertumbuhan pangan fungsional dan nutrasetikal serta personalized nutritionPersonalized nutrition merupakan diet pada satu individu untuk menjaga kesehatan dan mencegah timbulnya risiko penyakit yang didasarkan oleh nutrigenomik dan nutrigenetik. Pengetahuan ini akan membantu memahami bagaimana interaksi antara hubungan gen dan diet (pangan) pada individu secara spesifik. Ilmu genomik ini akan memberikan kesempatan untuk menciptakan pangan fungsional dengan komponen yang bisa dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan berdasarkan tipe genetik individu tertentu.

Di masa depan tren kesehatan usus mulai berkembang yang menawarkan prespektif bagaimana meningkatkan sistem imun tubuh melalui populasi mikroba di usus besar. Setiap individu yang berikan diet tertentu akan memberikan respon yang bervariasi terhadap komposisi mikroba di dalam usus besar. Komposisi mikroba usus besar juga akan memiliki pengaruh pada kesehatan dan risiko penyakit yang disebabkan oleh diet, seperti diabetes, penyakit kardiovaskular, kanker, dan obesitas. Hal ini memberikan konsep personalized nutrition memiliki hubungan klinis dengan komposisi mikroba usus, namun masih perlu ada research terkait mekanisme ini.

  • Sumber pangan alternatif. 

Ada beberapa sumber pangan alternatif yang mungkin bisa dikembangkan di masa depan yang dapat mendukung kesehaan yaitu jellyfishalgaeplant-based meatlab grown meat, dan 3D printed foodJellyfish, dapat menjadi sumber pangan alternatif dikarenakan mengandung vitamin B12 dan mineral kalsium, magnesium, natrium, kalium, besi, tembaga, seng, dan iodium selain itu jellyfish juga mengandung omega 3 dan omega 6, dimana ini dapat berfungsi sebagai penurunan resiko penyakit jantung. High protein insect (serangga), walaupun masih besifat taboo faktanya di Thailand, Cina, Brasil, Meksiko, dan beberapa negara Afrika sudah menjadi hal umum mengkonsumsi serangga. Serangga sebenarnya dianggap sebagai cara berkelanjutan untuk menyediakan sumber makanan yang layak secara ekologis bagi populasi dunia. Serangga memang cukup menjanjikan sebagai salah satu sumber protein masa depan karena kandungan protein, lemak, kalsium, besi serta zink nya yang tinggi yang mendukung kesehatan. Spesies serangga tertentu, biasanya jangkrik, belalang, dan larva ulat sutera. Algae, mengandung protein, lemak, dan karbohidrat. Alga spirulina dan chlorella mengandung hingga 70% protein berat kering; mikroalga ini juga memiliki profil asam amino yang sebanding dengan telur, serta memiliki kandungan omega 3. Lab-grown meat atau daging sintetis yang dibuatkan di laboratorium. Teknologi inovatif ilmiah ini dimulai sejak 2013 dan melibatkan dengan cara sel diperoleh dari hewan dengan biopsi yang tidak berbahaya, kemudian ditempatkan dalam wadah steril dengan media pertumbuhan, yang mengandung nutrisi termasuk garam, protein, dan karbohidrat. Setiap 24 jam atau lebih, sel akan berlipat ganda. Plant based meat, merupakan inovasi makanan alternatif daging yang dibuat dari tumbuhan. Inovasi berbasis tanaman ini akan mengurangi kebutuhan daging untuk konsumsi manusia, serta mengatasi masalah perubahan iklim yaitu dapat menghasilkan pemanfaatan air 15 kali lebih sedikit, pengurangan emisi gas metana, dan menyelamatkan hutan hujan. 3D printed food, makanan yang disiapkan melalui proses aditif secara otomatis. Printer makanan 3D haru memiliki resep yang sudah dimuat sebelumnya ke dalam printer sehingga memungkinkan pengguna dapat mendesain makanan mereka dari jarak jauh di komputer, ponsel, atau perangkat IoT. Makanan dapat disesuaikan dalam bentuk, warna, tekstur, rasa atau nutrisi. 

Berita Lainnya