Tragedi Kanjuruhan, Polri Berdalih Gas Air Mata Ditembakkan karena Suporter Anarkis

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo. (Polda Jatim for JawaPos )

JAKARTA-RADAR BOGOR, Soal Tragedi Kanjuruhan, Kadiv Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo berdalih bahwa anarkisme suporter membuat polisi harus menembakkan gas air mata di dalam Stadion Kanjuruhan. Gas air mata itu menjadi awal dari tragedi Kanjuruhan pasca pertandingan BRI Liga 1 antara Arema vs Persebaya. Saat itu, stadion sedang dipenuhi 42 ribu penonton dari suporter Arema.

”Memang anggota Polri melakukan tembakan gas air mata. Tujuannya untuk menghalau dan mengurai massa yang sudah anarkis,” ujar Dedi di Mapolda Jatim, Surabaya, Jumat (7/10).

Dedi menyebut ada tindak perusakan dan pembakaran yang dilakukan suporter Arema. Tindakan itu dilakukan di dalam dan di luar Stadion Kanjuruhan.

”Ada perusakan dan pembakaran. Di luar pun ada kejadian. Saat pengamanan evakuasi pemain Persebaya itu butuh waktu yang lama,” terang Dedi.

Pemain Persebaya, kata Dedi, sempat dihadang suporter Arema. ”Sehingga aparat kepolisian juga tembak gas air mata agar tidak terjadi anarkisme yang masif. Jadi ada 2 TKP dan 2 kejadian yang masih diusut,” tegas Dedi.

Baca juga: Enam Tersangka Tragedi Kanjuruhan Belum Ditahan Polisi

Terkait tembakan gas air mata, kata dia, memang mengeluarkan suara dan asap. ”Ada tembakan gas air mata. SOP gitu kalau ada pengendalian anarkisme,” papar Dedi.

Pintu terkunci, kepanikan masal, dan tangga yang tajam, diduga Presiden Joko Widodo menjadi penyebab tragedi Kanjuruhan. Dia melihat, tragedi sangat mungkin terjadi di tengah kondisi Stadion Kanjuruhan.

”Tetapi sebagai gambaran saya melihat, bahwa problemnya, ada di pintu yang terkunci,” tutur Jokowi.

Jokowi lalu membandingkan dengan kondisi di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Di sana, pintu GBK bisa dibuka dengan mudah.

”Kalau kita lihat di GBK dengan penonton dengan 80 ribu orang. Dibuka, 15 menit semuanya sudah bisa keluar,” terang Jokowi.

Atas tragedi itu, Jokowi meminta evaluasi seluruh stadion di Indonesia. Termasuk dunia sepak bola.

”Saya kira kita perlu evaluasi total semuanya. Baik manajemen pertandingan, manajemen stadion, manejemen penonton, manajemen waktu, manajemen pengamanan, semuanya harus dievaluasi total,” ucap Jokowi. (*)

Editor: Rany

Berita Lainnya