Tewas di Tragedi Kanjuruhan, Paman Siswa SMKN 1 Tutur: Keluarga Masih Syok

RADAR BOGOR, Tragedi Kanjuruhan menelan korban jiwa 125 orang (versi pemerintah). Salah satu korbannya, Muhammad Rian Akbar, warga Dusun Krajan Satu, Desa Andonosari, Kecamatan Tutur.

Aremania yang masih berusia 17 tahun itu meninggal dalam kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang.

Jenazah siswa kelas XI di SMKN 1 Tutur itu tiba di rumah duka dari Klinik Wava Husada, Kepanjen sekitar pukul 07.00, Minggu (2/10). Selang satu jam kemudian, dia dimakamkan di TPU setempat.

Keluarga Akbar –panggilannya-, baru tahu Akbar meninggal setelah temannya memberi kabar.

Akbar memang berangkat bersama temannya ke Kanjuruhan dengan berboncengan naik motor Honda Beat, Sabtu (1/10) siang.

Baca juga: PSB Bogor Gandeng Ratusan Suporter Doakan Korban Tragedi Kanjuruhan

“Kedua orang tuanya masih syok. Korban ini suporter Arema FC. Tiap Arema FC bertanding di laga home dan di luar jam sekolah, Akbar selalu berangkat nonton langsung ke Kanjuruhan,” beber Miftahul Huda, paman Akbar.

Kades Andonosari Akhmad Pujianto juga kaget dan tidak menyangka ada warganya suporter Arema FC yang menjadi korban kerusuhan stadion Kanjuruhan.

“Korban ini anaknya pendiam, aktif di kegiatan kepemudahaan di kampungnya. Saya kaget dapat kabar ini. Sekaligus berbelasungkawa,” katanya.

Menurutnya, sebagian besar warga Tutur penggemar sepak bola memang merupakan Aremania. Tidak heran jika Akbar pun pendukung Arema FC.

Sebab secara geografis, Tutur memang lebih dekat ke Malang daripada ke Bangil atau Surabaya. Maka tak heran, kalau banyak suporter Arema FC di Tutur.

“Biasanya warga sini ke Malang dan pulang dari Malang naik motor bareng-bareng lewat Tlogosari dan Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Lanjut ke Kepanjen,” imbuhnya. (zal/hn)

Editor: Rany

Berita Lainnya