Masih Ingat dengan Kampung Terisolir Mulyasari? Begini Kondisinya Sekarang!

SUKAMAKMUR-RADAR BOGOR, Empat tahun lalu, kampung ini terisolir. Tidak ada listrik di sana. Pun dengan akses jalan, hanya jalan setapak beralaskan tanah merah. Juga fasilitas kesehatan dan pendidikan. Jauh dari kata layak.

Saat itu di sana, banyak anak-anak putus sekolah. Generasi muda disana lebih banyak belajar agama. Menghafal Alqur’an. Jika pun ada, hanya sekolah jauh.

Untuk fasilitas kesehatan juga demikian. Terlebih saat persalinan, kebanyakan warga kampung itu memilih mengunakan jasa paraji, ketimbang ke puskesmas atau rumah sakit.

Kampung itu bernama Kampung Mulyasari. Lokasinya berada di atas gunung sangar, Desa Sukamulya, Kecamatan Sukamamur Kabupaten Bogor.

Baca juga: Pasca Banjir, Ratusan Pedagang Pasar Ciawi Minta Ganti Rugi Ke PD Pasar Tohaga

Radar Bogor mencoba kembali menyambangi Kampung Mulyasari. Saat ini kondisinya jauh lebih. Tiang listrik berwarna merah yang empat tahun dipasang secara gotong royong bersama warga itu masih kokoh berdiri.

Keberadaan alat elektronik juga sudah mulai nampak disana. warga di sana sudah bisa menikmati listrik. Pun dengan akses jalan, kini lebih lebar. Namun masih berbentuk tanah merah. Sehingga saat hujan tidak bisa dilalui kendaraan sepeda motor.

Warga di sana pun sudah memiliki smartphone, meskipun masih terkendala jaringan.

“Sudah banyak perubahan. Hanya sinyal masih sulit,” ujar Aceng salah satu warga Mulyasari kepada Radar Bogor Sabtu (25/9/2022).

Sementara itu untuk pelayanan kesehatan, puskesmas Sukamamur kini rutin menyambangi Kampung Mulyasari. Setidaknya dua bulan sekali, melakukan pengobatan gratis pada warga disana.

“Warga meminta pelayanan kesehatan dua bukan sekali, jadi kita naik ke Mulyasari dua bulan sekali,” tutur petugas UGD Puskesmas Sukamakmur Teguh Yudiana saat ditemui Radar Bogor di Kampung Mulyasari Sabtu kemarin.

Teguh memaparkan, layanan kesehatan yang diberikan pada warga Mulyasari meliputi pengobatan gratis, imunisasi, pemeriksaan kehamilan, penimbangan, pengukuran tinggi badan balita.

“Kita juga lakukan pemyuluhan kesehatan dan pemberian vitamin,” paparnya.

Sementara itu, untuk persalinan bagi ibu hamil di kampung Mulyasari, masih mengandalkan paraji. Hal itu lantaran, akses yang sulit, sehingga jika persalinan secara normal, dibantu oleh paraji.

“Jika normal, persalinan dengan paraji yang sudah terlatih. Tapi jika ada kendala, maka dibawa ke puskesmas untuk persalinan atau dirujuk ke rumah sakit,” paparnya.

Sementara itu Aminah, salah satu ibu hamil di Kampung Mulyasari mengaku dirinya berharap bisa melahirkan secara normal dengan paraji di kampungnya itu. Hal itu karena akses menuju puskemas cukup sulit.

“Kandungan saya sudah lima bulan. Saya tadi baru diperiksa sama petugas puskesmas. Ingin lahiran normal saja disini sama Mak juju (paraji),” tukasnya. (all)

Editor: Rany

Berita Lainnya