logo radar

Pemeriksaan Haid Siswa, Komnas PA Sebut Tetap Pelanggaran Privasi

Kepala SMAN 1 Dramaga saat memberikan penjelasan terkait kasus sekolahnya yang viral di medsos.

BOGOR-RADAR BOGOR, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Sirait Merdeka angkat bicara terkait kasus pemeriksaan haid siswa yang tak ikut salat Duha di SMAN 1 Dramaga. Arist melihat, kejadian ini seharusnya tidak boleh terjadi karena menjadi kebebasan dari anak menjaga privasinya.

“Ini jelas sudah masuk pelanggaran anak, hak mereka dan tidak boleh ada tindakan seperti itu, apa urgensinya? Harus diperiksa haid apa tidak, itu sangat berlebihan,” kata Arist ketika dikonfirmasi wartawan.

Baca Juga: Siswi Diduga Jadi Korban Pelecehan Oknum Guru di Dramaga, Begini Kronologinya

Bahkan ia menegaskan, apapun alasannya tidak ada pemeriksaan haid atau tidak haid sekalipun di ruangan tertutup juga karena sifatnya privasi anak

“Jelas ini harus dihentikan, itu pelanggaran privasi yang dicampuri orang lain dan tidak boleh terulang lagi,” tegasnya.

Dirinya menambahkan, seharusnya ketika ada hal seperti ini perlu didampingi orang kesehatan, atau medis dan paling utama ada orang tua.

“Apapun itu alasannya tetap tidak boleh, sudah termasuk kekerasan juga karena yang memegang atau periksa kewenanganya harus direkomendasi polisi, didampingi orang tua, dan di puskesmas juga sama ada pendampingan,” tutupnya.

Selain dari Komnas PA, kasus tersebut juga menjadi perhatian serius Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Bogor. Terbukti, mereka mengirimkan tim komisionernya menemui Kepala SMAN 1 Dramaga untuk meminta konfirmasi. Terkait hasil pertemuan tersebut, tim KPAD Kabupaten Bogor akan segera merilisnya.

Komisioner KPAD Kabupaten Bogor, Asep Saepudin menegaskan, pihaknya sangat menyesalkan kasus tersebut. “Jika benar kata-kata itu keluar dari mulut seorang pendidik di sekolah tersebut. Sangat tidak etis dan tentunya ini akan menyakiti perasaan siswinya yang diminta membuktikan dengan memperlihatkan celana dalamnya, bahwa siswi tersebut benar-benar sedang haid,” jelas Asep.

Ia berharap, kejadian tersebut segera ditindaklanjuti dan jadi bahan evaluasi pihak sekolah. “Harus jadi bahan untuk perbaikan sistem pendidikan, terutama di bidang akhlak dan karakter,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, kasus tersebut menjadi tanggung jawab serbagai pihak, terutama para pemangku kebijakan di antaranya Dinas Pendidikan (Disdik), Kementerian Agama (Kemenag) maupun pihak terkait lainnya.

“Mari kita benahi semuanya, agar penyelenggaraan pendidikan betul-betul sesuai dengan standar oprasionalnya,” paparnya.

. Sehingga, sambung Asep, ada efek jera, agar tidak sembarangan dalam bertindak dan menimbulkan ketakutan dan trauma bagi siswa.

“Mari kita sikapi semua ini secara bijak dan proporsional agar permasalahan ini bisa segera diatasi dengan baik juga agar citra pendidikan pun tetap terjaga kewibawaannya,” tegasnya.

Baca Juga: Kepala SMAN 1 Dramaga: Tak Ada Pelecehan Terhadap Siswa di Sekolah Kami

Sebelumnya, Kepala SMA Negeri Dramaga, Bambang Supriyadi, membenarkan adanya program salat Duha di sekolah sebagai pembiasaan kepada para anak didik untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan.

Pekan lalu, jumlah peserta diakuinya semakin sedikit dengan alasan para siswi sedang berhalangan (haid). “Ada tiga siswi yang dimintai keterangan. Yang meriksa juga temannya sesama perempuan. Bahkan gurunya pun perempuan. Bukan juga memperlihatkan celana dalam,” ungkap Bambang, seraya menegaskan tak ada pelecehan terhadap para siswi yang izin tak mengikuti Salat Duha tersebut.

Ia mengakui, sempat ada orang tua yang memprotes pemeriksaan itu melalui sambungan telepon. Kemudian pada Senin (19/9) ada dua orang tua siswi datang ke sekolah dan memintai penjelasan terkait persoalan tersebut. Bambang mengaku pihak sekolah telah memberi penjelasan. “Sudah saling memaafkan, bahkan para siswi dan guru perempuan yang bersangkutan sudah berpelukan dan menganggap permasalahan sudah selesai,” kata Bambang.

Ia menambahkan, persoalan ini baru pertama kali terjadi dan bukan bagian dari aturan sekolah. Karenanya ia memberi peringatan dan pembinaan kepada guru yang bersangkutan. “Saya sudah melakukan pembinaan kepada guru tersebut agar masalah tak terulang,” paparnya.(Abi/c)

Editor: Pipin

Berita Lainnya