Hasil Riset Mangga Bebas dari Bactrocera, Indonesia Siap Ekpor ke Jepang

BANDUNG-RADAR BOGOR, Mangga dari Indonesia kini bisa diekspor kembali ke negara tujuan besar, seperti Jepang. Peluang itu terbuka lebar usai terbukti bahwa varietas unggul mangga bebas dari lalat buah (Bactrocera occipitalis).

Penelitian dan riset mengenai lalat buah (bactrocera occipitalis) dilakukan Institut Pembangunan Jabar (Injabar) Unpad bersama Badan Karantina Pertanian Kementan (Kementan). Mereka berhasil meriset ribuan jenis lalat buah yang hinggap pada buah mangga di seluruh Indonesia. Hasilnya, tak ada Bactrocera occipitalis di pulau Jawa. Yang ada hanyalah varietas unggul dengan kualitas siap ekspor.

Baca Juga: Kementan Terima Penghargaan Rekor MURI, Kado HUT RI ke-77

“Sehingga tidak perlu takut apalagi panik dalam melakukan proses ekspor mangga ke luar negeri, dalam hal ini Jepang,” ujar Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad) Keri Lestari lewat keterangannya kepada Radar Bogor, Jumat (9/9).

Direktur Utama Injabar ini juga menjelaskan Bactrocera occipitalis hanya ditemukan di wilayah hutan belantara Kalimantan Utara. Di sana, lalat tersebut hinggap pada beberapa buah mangga saja. Sisanya merupakan mangga luar biasa yang memiliki rasa dan kualitas yang juga luar biasa.

Penelitian juga dilakukan sejak bertahun-tahun lalu dengan melibatkan swadaya berbagai pihak, termasuk perusahaan agribisnis asal Bogor, Minaqu Indonesia dan Barantan Kementan RI.

“Dari semua riset yang kita lakukan, ada sekitar 2800-an lalat buah yang sudah kami teliti. Hasilnya 14 lalat buah dicurigai sebagai Bactrocera. Itupun adanya di hutan Tarakan dan jauh dari pemukiman. Dari sisi jumlah tidak banyak lah,” katanya.

Menurut Keri, semua riset telah dipublikasi dan didapatkan pada ministry of agriculture, forestry and fisheries (MAFF) Jepang. Dari paparan tersebut, MAFF mengapresiasi penelitan dan riset yang dilakukan hingga menerjang pelosok hutan wilayah Kaltara.

“Riset Injabar untuk membantu memberi landasan riset mengenai keberadaan dan pengendalian karantina untuk membatasi Bactrocera Occipitalis di Indonesia, dan menunjukkan lalat buah itu tidak ditemukan di sentra mangga di Kabupaten Sumedang sehingga kekhawatiran akan risiko penyebaran lalat buah yang menjadi hambatan untuk ekspor mangga ke Jepang dapat segera diatasi,” tandasnya.

Ia pun berharap, proses ekspor mangga ke Jepang berjalan dengan baik. Riset dan diplomasi itu memang perlu ditingkatkan untuk menjaga kualitas mangga dari Indonesia, termasuk sentra mangga seperti Sumedang.

Baca Juga: Kementan Fokus Cetak Wirausaha Muda Pertanian Pedesaan

Sebelumnya Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mendorong ekspor buah mangga Indonesia dapat dilakukan secara masif.

Menurut SYL, potensi mangga Indonesia sangat besar dan bisa dijadikan sebagai modal utama dalam meningkatkan kinerja ekspor buah. Sentuhan teknologi menjadi upaya utama untuk merealisasikan potensi tersebut.

Indonesia menduduki posisi kelima sebagai produsen buah mangga dunia setelah India, China, Thailand, dan Meksiko. Bahkan, tahun 2018 Produksi mangga di Indonesia mencapai 2.184.399 ton. Prestasi tersebut dapat menjadi peluang besar dalam peningkatan ekspor buah di Indonesia.

“Peningkatan kinerja ekspor buah dapat dilakukan melalui penerapan teknologi dan sistem jaminan mutu di seluruh rantai produksi melalui penerapan standardisasi produk hasil pertanian dari hulu ke hilir,” jelasnya. (*/mam)

Berita Lainnya