logo radar

Pentingnya Literasi Geospasial Bagi Siswa Sekolah Menengah Atas

Mohamad Mahfudz, ST, MT (Dokumen pribadi)

RADAR BOGOR, Istilah Geospasial bagi sebagian besar siswa/siswi tingkat sekolah menengah atas (SMA) masih asing ditelinga mereka. Tapi kalau ditanya apa itu google map sebagian besar mereka pasti tahu, bahwa google map adalah peta penunjuk jalan bagi pengendara.

Baca Juga : Pemuda Desa Muara Jaya Wujudkan Kouta Internet Murah, Sebulan Hanya Rp30 Ribu, Sekolah dan Pesantren Gratis

Istilah spasial menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah berkenaan dengan ruang atau tempat, sedangkan geospasial merupakan ruang kebumian. Geospasial menurut UU No. 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial pasal 1-4 menerangkan, spasial adalah aspek keruangan suatu objek atau  kejadian yang mencakup lokasi, letak, dan posisinya. Geospasial atau ruang kebumian adalah aspek keruangan yang menunjukkan lokasi, letak, dan posisi suatu objek atau kejadian yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi yang dinyatakan dalam sistem koordinat tertentu.

Sistem Informasi Geografi (SIG)

Geospasial tidak bisa dilepaskan dengan Sistem Informasi Geografi yang berfungsi sebagai tools pengolahannya. Di SMA kajian SIG masuk sebagai bagian dari mata pelajaran Geografi. Karena bagian dari teknik, maka SIG merupakan keterampilan yang harus diajarkan dan dipahami oleh siswa lulusan SMA.

Artinya, bahwa Output dari SMA harus memiliki keterampilan dari mata pelajaran geografi tentang pemetaan. Dengan memiliki keterampilan ini diharapkan siswa dapat memetakan potensi alam dan sosial tentang lingkungan sekitar maupun wilayah lebih luas. Untuk menunjang ilmu pengetahuan dan keterampilan tentang kajian SIG bagi siswa SMA, maka dalam proses pembelajarannya dibutuhkan perangkat untuk melatih keterampilan tersebut.

Karena dengan keterampilan tersebut siswa dapat memetakan potensi wilayah sekitarnya. Tetapi yang perlu diperhatikan oleh kita adalah bagaimana ketersediaan perangkat yang dibutuhkan untuk melatih keterampilan dalam pembelajaran kajian SIG pada mata pelajaran Geografi di SMA. Artinya bahwa jika perangkat pembelajaran tidak tersedia, maka yang menjadi harapan dan tujuan pada kurikulum tidak tercapai. Pada mata pelajaran geografi, kajian Kartografi dan SIG merupakan keutuhan dari Geografi yang diajarkan. SIG baru ada pada kurikulum tahun 1994 dan 2004, sehingga banyak guru-guru yang lulus sebelum tahun 1994 kurang memahami tentang SIG.

Sehubungan dengan pemahaman SIG oleh guru kurang, perangkat komputer tidak dimiliki oleh sekolah, maka SIG yang seharusnya diajarkan pada semester pertama di kelas satu, banyak dilewati oleh guru-guru di SMA. Hal ini akan berdampak pada pemahaman siswa terhadap materi geografi secara keseluruhan. Artinya, bahwa fasilitas untuk menunjang proses pembelajaran kurang lancar sesuai dengan tuntutan pada kurikulum tahun 1994 maupun tahun 2004.

Baca Juga : HUT HITI ke-50, Kepala DKPP : Banyak Hasil Penelitian Bermanfaat

Aplikasi sistem informasi geografis sebagai media pembelajaran geografi akan sangat membantu guru dalam proses belajar mengajar dan dapat dijadikan media alat bantu dalam mencapai tujuan pembelajaran geografi sesuai dengan kurikulum. Aplikasi sistem informasi geografis diharapkan dapat memacu proses dan hasil belajar peserta didik dengan kondisi dinamis, kreatif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Namun aplikasi sistem informasi geografis ternyata belum dimanfaatkan oleh guru secara maksimal. Pembelajaran geografi yang selama ini dilaksanakan lebih mengandalkan olah kata, yang bersumber pada buku dan guru. Sehingga diperlukan metode pembelajaran yang aplikatif untuk dapat memahami secara cepat mata pelajaran geografi, yaitu dengan pendidikan mengenai Sistem Informasi Geografi (SIG).

SIG merupakan sistem berbasis komputer yang digunakan unuk menyimpan, memanipulasi, dan menganalisa informasi geografi beserta atribut-atributnya. Kemampuan SIG dapat menampilkan gambar, teks, dan table, oleh karena itu sangat membantu kegiatan pembelajaran geografi menjadi lebih nyata dan berbasis data.

Pendidikan SIG bagi anak usia sekolah menjadi alternatif yang tepat untuk memperkenalkan kemajuan teknologi dan juga ilmu pengetahuan yang sudah berkembang saat ini. Pendidikan tersebut disampaikan dengan bantuan perangkat-perangkat yang diperlukan dalam pengolah SIG seperti komputer, dan internet. Untuk memanfaatkan keberadaan software-software pengolah yang juga dapat secara gratis diunduh (opensource), para siswa dapat secara optimal memanfaatkan software secara gratis dan dapat melakukan pengolahan data-data spasial secara optimal pula.

Beberapa tema yang dapat diperkenalkan kepada anak-anak di usia sekolah adalah pemrosesan SIG, pemanfaatan software-sofware pengolah data-data spasial, dan juga proses penyebarluasan informasi-informasi kebumian sehingga dapat dikonsumsi oleh masyarakat lainnya.

Sehingga anak-anak di usia sekolah dapat menambah wawasan serta mengikuti tren teknologi yang ada sehingga proses-proses spasial seperti penentuan rute terdekat, penentuan daerah rawan bencana, dan lain-lain dapat secara mudah dipelajari serta dapat disampaikan ke masyarakat luas sehingga masyarakat dapat dengan mudah mengakses berbagai perkembangan yang ada.

Metode Pengajaran

Pentingnya pendidikan SIG bagi siswa SMA secara langsung akan dapat memperkenalkan kemajuan teknologi yang sudah diikuti oleh kalangan pelajar. Proses pembelajaran SIG tersebut tentunya akan mempermudah para palajar untuk terus melakukan pembaharuan informasi secara praktis dan efisien.

Proses yang harus dilakukan dalam satu sistem pembelajaran SIG diawali dengan proses pengumpulan data. Data tersebut dapat berupa data spasial perkotaan yang sedang banyak dibahas, seperti data sebaran sekolah, lokasi tindak kriminalitas, harga lahan, tempat-tempat pariwisata, titik-titik lokasi ATM, jaringan jalan di suatu kota, dan lain-lain.

Data-data tersebut merupakan data-data yang secara umum dapat dianalisis dengan menggunakan SIG karena bersifat spasial, serta data-data tersebut merupakan data-data yang sangat penting untuk diketahui masyarakat luas, khusunya pelajar di usia sekolah.

Baca Juga : MUI Kabupaten Bogor Minta SE Menag Pertimbangkan Aspek Sosial dan Geografis

Proses pengambilan data-data yang ada dapat dilakukan dengan menggunakan survei langsung, atau menggunakan data-data yang sudah ada sebelumnya. Data-data tersebut perlu dilakukan pemilihan agar hanya data-data yang benar-benar dibutuhkan saja yang akan di-input ke dalam proses SIG. Penggunaan software opencource yaitu Quantum GIS sebagai media dimana proses input data spasial ke komputer dapat dilakukan dengan mudah.

Metode pembelajaran SIG dasar, mendasarkan pada hal yang tidak berkonotasi pada studi pustaka saja melainkan pada kemampuan prakteknya. Secara teknis alur pembelajaran yang ada langsung menggunakan proses yang ada dalam SIG tingkat dasar. Mulai dari proses input data, proses pengisian data atribut kemudian visualisasi menggunakan website. SIG yang diajarkan dapat dengan mudah dilakukan serta informasi yang ada dalam hasil pembelajaran dapat di update sesuai dengan keinginan murid atau dapat disebut GIS Take and Give (Gambar 1)

Gambar 1. GIS Take and Give

Berdasakan metode tersebut maka proses pengajaran dalam memahami materi Sistem Informasi Geografis bagi tingkat SMA akan lebih menarik serta dan dapat dimanfaatkan secara mudah. Alur proses tersebut sebagai media praktik dalam sistem informasi geografis.

Proses pembelajaran yang ada perlu memfokuskan pada siswa/siswi yang berinisiatif dalam praktek karena hal itulah yang utama dalam format pembelajaran GIS Take and Give. Semakin banyak data yang diperoleh oleh siswa, nantinya informasi yang dihasilkan akan semakin baik. Sistem pembelajaran tersebut tidak terfokus pada guru yang memberikan pengarahan secara penuh, tetapi lebih pada kompetensi murid untuk dapat memahami sistem informasi geografis. Hal tersebut tentu perlu adanya interaksi menerima dan membari dalam hal informasi.

Gambar 2. Sistem Pembelajaran SIG tingkat dasar

Sesuai sistem pembelajaran tersebut (Gambar 2) maka kondisi dari hasil pembelajaran dapat dilakukan evaluasi dan pembaruan metode pembelajarannya. Setiap praktek yang dilakukan dapat di lihat efisiensinya untuk dapat membuat langkah praktek yang lebih baik bagi siswa/siswi di tingkat SMA.
Karena SIG merupakan keterampilan, maka dalam proses pembelajaran harus dilakukan secara bertahap melalui teori dan latihan. Teori dan Latihan oleh siswa dibutuhkan dengan beberapa langkah seperti ;
1) Teori yang berkaitan dengan penggunaan perangkat computer mengenai : Cara mendijit, mengedit, memanipulasi, menayangkan dan mencetak hasil.
2) Menyiapkan data masukan, seperti peta rupabumi maupun peta topografi.
3) Cara-cara menayangkan data hasil dijitasi peta
4) Cara mengedit dan memanipulasi data hasil dijitasi yang kurang akurat atau salah.
5) Mencetak data hasil dijitasi berupa informasi keruangan (peta).

Secara garis besar kegiatan pembelajaran SIG ini meliputi :
(1) Melakukan kegiatan pembelajaran geografi pada materi pengetahuan dasar pemetaan pada kelas eksperimen dengan meggunakan media sistem informasi geografis dengan aplikasi QGIS;
(2) Melakukan pembelajaran geografi pada materi pengetahuan dasar pemetaan pada kelas kontrol;
(3) Melakukan post test pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. (*)

Mohamad Mahfudz, ST, MT

Mahasiswa Doktoral Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan IPB University.

Berita Lainnya