logo radar

Pasar Eropa dan Amerika Lesu, Ekspor Tanaman Hias Beralih ke Cina

Buyer dari Cina mulai menjajal ekspor tanaman hias dari Minaqu Indonesia.

BOGOR-RADAR BOGOR, Dunia ekspor masih terdampak inflasi imbas perang antara Rusia dan Ukraina. Strategi tujuan pasar tanaman hias pun dijajal untuk beralih ke dataran Asia, yakni Cina.

Negeri Tirai Bambu itu tampaknya cukup potensial untuk menjadi market tanaman asli Indonesia. Bahkan, disebut-sebut bisa mencapai omzet hingga Rp2-3 triliun. Jumlah itu cukup berpeluang untuk dijangkau dalam market ekspor Indonesia.

Baca Juga:  Inflasi Sasar Negara Tujuan Ekspor, Minaqu Atur Strategi dan Manuver Baru

Hal itu diungkapkan CEO Minaqu Indonesia, Ade Wardhana Adinata. Ia menyadari, potensi pasar itu sudah seharusnya mulai dilirik. Sejumlah buyer atau pembeli dari negeri tersebut sudah menyambangi kantornya untuk peluang kerja sama tersebut.

“Kemarin ada buyer dari Kunming, China. Mereka order tanaman hias ke Minaqu dan kemarin mereka datang untuk melihat tanaman yang akan dikirimkan. Bisa dikatakan ini shipment test pertama,” ungkapnya, Selasa (9/8).

Pembelian perdana itu sebagai batu loncatan menuju pasar yang lebih luas di Asia. Shipment test awal mencakup 200 tanaman. Jenis tanaman pun meliputi Anthurium dan tanaman asli Indonesia.

“Selama ini kita malah fokus ke Eropa dan Amerika. Baru sekarang melakukan ekspansi serius ke Cina. Karena marketnya besar juga,” tekan lelaki yang pernah menjabat Ketua Perindo provinsi Jawa Barat ini.

Sasaran ke negeri Tirai Bambu ini menjadi awalan yang baik dalam mengubah market. Dalam waktu dekat, mereka juga akan merambah supplier tanaman dari Kenya dan Ekuador.

Baca Juga:  Kerja Sama dengan India, Minaqu Suplai Jutaan Tanaman untuk Vertical Garden

Penguatan dan akselerasi ekspor itu harus terus dilakukan Minaqu. Selain menjaga performa produk dalam negeri, mereka juga harus memberdayakan petani yang menjadi mitranya dalam mengembangkan tanaman hias. Ia juga memprediksi, momentum kelesuan itu akan berlangsung dalam dua tahun ke depan.

“Sementara kita coba develop market baru. Yang penting kita bisa terus menjual tanaman karena ada mitra petani yg harus kita perjuangkan,” pungkasnya. (mam)

Berita Lainnya