Priyo BS: Konflik Cebong Versus Kadrun Jangan Jadi Bensin Politik

Priyo BS Konflik Cebong Versus Kadrun Jangan Jadi Bensin Politik

RADAR BOGOR, Mantan politikus Golkar Priyo Budi Santoso berharap para begawan politik bisa mencegah terulangnya disintegrasi cebong-kadrun di Pilpres 2024. Sikap kenegarawanan seperti dicontohkan Surya Paloh.

“Saya menyampaikan salut dan hormat atas pidato orasi Abangda Surya Paloh yang hebat dan inspiratif tentang warning bahayanya perpecahan bangsa,” ungkap Wakil Ketua DPR periode 2009-2014 tersebut, dalam siaran keterangan tertulisnya pada JawaPos.com, Senin (1/8).

Surya Paloh, menurutnya, sedang membangunkan pikiran berpolitik yang selama ini tertidur dari iklim politik yang abai terhadap bahaya perpecahan. Kata Priyo, orasi tingkat begawan politik ini disampaikan pada waktu dan momentum yang tepat, yaitu saat mau memasuki tahun politik pilpres dan pileg.

Baca JugaSadio Mane, Sempat Menonton The Reds Sebelum Menangi DFL-Supercup

Diungkapkannya, fenomena Cebong vs Kadrun terbukti menjadi pelatuk yang mempertajam polarisasi masyarakat. Pertengkaran (sektarian) yang terus dipelihara adalah hal yang tidak mencerdaskan, bahkan makin menambah luka sosial yang merusak keharmonisan bangsa.

“Ini harus segera disudahi, segera tutup buku dan tamat riwayat sebelum memasuki tahun politik 2024. Kesengajaan melanggengkan Buzzer-Cebong-Kadrun sama saja membiarkan api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa membakar tatanan sosial bangsa,” papar politikus senior ini.

Politik identitas, lanjut Priyo, sebenarnya lumrah dalam politik dan demokrasi. Identitas merupakan trademark dan ciri khas perjuangan suatu kelompok politik. Ini given dalam politik. “Sejarah perpolitikan kita (pemilu 1955) bahkan pernah mengalami ragam politik identitas yang sangat berwarna,” kata Priyo.

Baca Juga: Kenali ‘Rebound’ Covid-19 yang Dialami Joe Biden Usai Minum Paxlovid

Politik identitas nasionalis, komunis, agamis (partai Islam, Kristen, Katolik) tampil mengemuka. Namun, lanjut dia, Pemilu 1955 justru menjadi pemilu yang paling orisinil dan demokratis.

“Kuncinya ternyata para tokoh politik zaman itu berdinamika dalam tradisi dan koridor moralitas politik yang wisdom,” ungkap Priyo.

Dijelaskannya, dengan sudah ditolaknya uji materi ambang batas pencalonan presiden, maka merekalah harapan agar pilpres mendatang tidak lagi hanya melahirkan dua blok besar yang langsung berhadap-hadapan.

“Kita tentu berharap kondisi seperti Pemilu 2019 tidak boleh terulang lagi. Jangan sampai politik menjadi bensin yang meletupkan perpecahan bangsa,” ungkap Priyo. (jpg)

Editor: Yosep/Khonsa-KKL

Berita Lainnya