Otopsi Ulang Jenazah Brigadir Yosua Hadapi Sejumlah Kendala

Makam Brigadir Yosua di Desa Suka Makmur, Jambi
DI-POLICE LINE: Makam Brigadir Yosua di Desa Suka Makmur, Jambi, kemarin (26/7). (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

JAKARTA-RADAR BOGOR,  Dokter forensik dan kepolisian telah melakukan ekshumasi atau otopsi ulang terhadap jasad Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat. Dalam proses otopsi ulang itu pihak dokter forensik menyebut menghadapi sejumlah kendala.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Ade Firmansyah Sugiharto menyebut, kendala itu karena jenazah sudah memasuki fase pembusukan setelah dikubur.

“Sesuai dengan apa yang kami perkirakan sebelumnya bahwa otopsi pasti memiliki beberapa kesulitan. Pertama, tentunya otopsi jenazah sudah diformalin dan sudah mengalami beberapa derajat pembusukan yang memang kita antisipasi akan terjadi,” kata Ade Firmansyah Sugiharto, Kamis (28/7).

Baca juga: 56 Kendaraan ACT Disita Bareskrim Polri

Kendati demikian, Ade memastikan proses otopsi tetap bisa dijalankan. Tim dokter berhasil mengidentifikasi sejumlah luka. Saat ini sampel luka akan diperiksa menggunakan mikroskopik untuk memastikan.

“Di sini ya setelah kami lakukan pemeriksaan, semua sampel telah kami kumpulkan dan akan kami bawa ke Jakarta untuk kita periksa secara mikroskopik di laboratorium patalogi anatomik RSCM,” imbuhnya.

Hasil pemeriksaan laboratorium tentu membutuhkan waktu. Sampel harus benar-benar dipastikan luka tersebut terjadi setelah kematian atau sebelum.

Baca juga: Prakiraan Cuaca : Pagi Hingga Siang Bogor Cerah, Sore Jelang Malam Hujan

“Semua nanti hasil pemeriksaan tentunya membutuhkan waktu kongklusinya adalah setelah adanya pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apa itu betul-betul luka atau tidak karena pada saat terjadi pembusukan tentunya kita harus sangat berhati-hati,” pungkasnya.

Sebelumnya, pihak Mabes Polri menyebut telah terjadi insiden baku tembak antara sesama anggota polisi di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo, di kompleks perumahan Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Aksi tembak menembak itu dilakukan oleh Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat dan Bharada Richard Eliezer alias Bharada E. Keduanya merupakan ajudan dari Irjen Ferdy Sambo yang saat itu menjabat Kadivpropam Polri.

Baca juga: LMKN Respons Terkait Pemotongan Royalti

Akibat insiden polisi tembak polisi itu, Brigadir Yosua tewas akibat terkena sejumlah luka tembak. Kini kasus itu ditangani oleh tim khusus dari Mabes Polri yang dipimpin langsung oleh Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono. Untuk melihat kejadian sebenarnya dari aksi tembak menembak itu, Komnas HAM pun melakukan penyelidikan lebih mendalam. Semua saksi dan pihak terlibat dalam kejadian itu diperiksa, termasuk Bharada E. (jpg)

Editor: Yosep/Aulia-KKL

Berita Lainnya