logo radar

Citayam Fashion Week Ala Bogor, Disdik : Harus Terkontrol dalam Koridor

citayam fashion week ala tugu kujang
citayam fashion week ala tugu kujang

BOGOR-RADAR BOGOR, Fenomena Citayam Fashion Week yang menjadi perbincangan akhir-akhir ini, memicu berjamurnya fenomena serupa di sejumlah wilayah di Indonesia.

Salah satunya juga terjadi di Kota Bogor, tepatnya di pedestrian Lawang Salapan, Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista), Kecamatan Bogor Tengah.

Area tersebut menjadi tempat ‘nongkrong’ sejumlah remaja dengan berpakaian nyentrik dan modis menarik sorot mata setiap pengunjung yang melintas.

Baca juga: Pimpinan DPRD Minta Hasil Laporan Anggotanya Plesiran ke Italia, JM: Dua Minggu Paling Lama

Tak sekadar nongkrong, sejumlah remaja yang merupakan pelajar SD hingga SMA ini pun sesekali terlihat berswafoto dan membuat konten untuk media sosialnya.

Berbeda dengan fenomena yang terjadi di kawasan Sudirman, Jakarta Citayam Fashion Week ala Bogor ini hanya terjadi di setiap Minggu saja.

Merespon kondisi ini, Kepala Seksi Kurikulum SD Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor, Rini Mulyani mengatakan, hal tersebut muncul di Kota Bogor, diduga karena adanya duplikasi dari fenonema yang sudah ada sebelumnya di kawasan Sudirman.

Ia menilai terdapat sisi positif dan negatif yang ditimbulkan dari adanya fenomena tersebut di kalangan pelajar.

Baca juga: Pihak Masjid Imam Ahmad bin Hambal Dievakuasi, Pembangunan Dihentikan

“Positifnya ini menjadi bukti kreatifitas anak. Selain itu fenomena ini jadi ajang mereka mengekspresikan dirinya dari sisi fashion,” tutur Rini.

Namun dirinya memandang fenomena ini belum pantas diikuti oleh pelajar khususnya siswa SD. Sebab menurutnya siswa di usia itu akan lebih baik jika lebih berfokus pada sekolah dan belajar.

“Seharusnya fokus belajar dulu. Tapi kalau sesekali untuk olahraga boleh-boleh saja. Karena memang tempat itu awalnya untuk olahraga dan banyak dipakai sebagai titik kumpul oleh warga, jadi ramai,” imbuh Rini

Ia menuturkan dampak negatif yang dikhawatirkan muncul di antaranya ialah anak-anak mencontoh kegiatan yang tidak diperbolehkan seperti merokok ataupun perilaku menyimpang. Dirinya juga mengkhawatirkan tindakan berbahaya yang akan mengancam anak-anak seperti pemalakan.

Baca juga: Terkait Dugaan Suap Ade Yasin, KPK Panggil Ketua DPRD Kabupaten Bogor

Oleh sebab itu, ia mengimbau anak-anak untuk dapat memilah dengan cermat perilaku yang dilihatnya agar tidak terpapar dampak negatif.

“Kalau sudah mulai ramai rasanya perlu ada pengawasan dari Pemerintah Kota maupun pihak terkait lain. Misalnya pembatasan, ataupun diterjunkannya Satgas Pelajar sehingga dapat mengontrol kegiatan yang dilakukan remaja di sana,” ujar Rini.

Rini juga mengimbau, kepada orang tua untuk mengontrol dan mengawasi secara berkala ketika anak-anaknya pamit keluar rumah.

Tak hanya itu warga yang berada di sekitar lokasi pun diminta untuk memiliki perhatian terhadap perilaku para remaja.

“Jangan sungkan untuk mengingatkan atau menegur jika ditemukan penyimpangan dan pelanggaran. Tentunya harus dilakukan dengan secara baik,” tutup Rini.

Baca juga: Ma’ruf Amin Sampaikan Kriteria Capres dan Cawapres Ideal Di Milad MUI

Kepala Seksi Kurikulum SMP Disdik Kota Bogor, Ahmad Furqon mengatakan fenomena tersebut muncul karena di usianya para remaja sedang berada pada fase mencari jati diri dan eksistensi.

Selain itu, kondisi pandemi juga dirasa menjadi salah satu faktor pendukung adanya fenomena tersebut di kalangan para pelajar.

“Selama beberapa waktu terakhir ruang terbuka untuk ekspresi dan sekolah tertutup karena pandemi. Akhirnya ketika mulai dibuka anak-anak keluar untuk mencari media mereka berekspresi,” tuturnya.

Ia menyatakan, selama tidak mengganggu proses pendidikan dan kepentingan umum fenomena tersebut tidak menjadi masalah.

“Memang sedang menjamur dimana-mana. Asalkan jangan sampai mereka mengabaikan pendidikannya dan mengganggu cita-cita mereka untuk menggapai pendidikan yang lebih tinggi,” ucap Furqon.

Meski demikian dirinya melihat fenomena tersebut sebetulnya kurang sesuai dilakukan oleh para pelajar. Sebab mereka memiliki kewajiban untuk belajar.

“Untuk budaya ketimuran rasanya kurang pas, mungkin ada pergeseran budaya akibat pengaruh media sosial. Akhirnya mereka mengimitasi budaya tempat atau negara lain,” paparnya.

Oleh sebab itu Furqon juga menilai perlu adanya perhatian dari orang tua dan lingkungan agar fenomena ini tidak menjadi hal yang negatif. (cr1)

Editor: Rany

Berita Lainnya