logo radar

Ekspedisi Gerakan Anak Negeri Edisi Baduy (3) : Melewati Lima Jembatan Bambu

Baduy Lagi
CEO Radar Bogor Group Hazairin Sitepu saat melintasi jembatan bambu di Baduy Luar.

Oleh Hazairin Sitepu

MALAM semakin gelap. Kampung Cibogoh semakin hening. Hujan masih belum berhenti turun. Tetapi batre di handphone semakin habis. Dan ini: sampah nasi akel, ayam panggang dan sambal petai di dalam perut mulai memberontak ingin keluar.

Baca Juga : Ekspedisi Gerakan Anak Negeri Edisi Baduy (1) : Bawa Panci, Disambut Kotek Ayam

Ingin rasanya menyelesaikan urusan satu itu ke Sungai Cibogoh, tetapi selain gelap, harus melalui jalan berbatu yang licin. Lagi pula sungai itu sedang banjir.

Saya memutuskan menyetujui ide Imam Rahmanto dan Jonathan Geovani. Dua anak muda anggota rombongan Ekspedisi Gerakan Anak Negeri ini bilang: sebaiknya kita turun ke Cijahe untuk menyelesaikan semua urusan tadi itu di sana.

Memang anak muda selalu mempunyai ide dan gagasan hebat. Negeri ini bisa merdeka karena ide dan gagasan anak muda. Cijahe yang dimaksud Imam dan Jo adalah kampung di perbatasan Desa Cijahe dengan Baduy.

Di sana ada listrik, ada kamar mandi, ada pula warung dan kedai kopi. Orang-orang Baduy Luar selalu datang ke Cijahe untuk meng-charge handphone dan lampu senter.

Pergilah saya bersama Imam dan Jo. Melewati lorong-lorong kampung yang bebatuan. Melewati hutan dengan pohon-pohon yang tinggi.  Berjalan dari atas bukit menembus gelapnya malam yang makin gulita.

Gerimis belum berhenti menyiram Baduy membuat baju kami basah. Sempat ada perasaan bila tiba-tiba ada binatang aneh di tengah jalan. Dan… setelah melewati lima jembatan bambu kami pun sampai di Cijahe. Alhamdulillah.

Saya sengaja berlama-lama di kamar mandi. Menunggu sampah nasi akel, ayam panggang dan sambal petai lebih banyak keluar dari perut. Karena tujuan utama saya ke Cijahe untuk menyelesaikan urusan itu. Tujuan kedua: mengisi batre handphone.

Setelah semua urusan kamar mandi, listrik dan kedai selesai, kami harus kembali ke Baduy.  Melalui jalan yang sama. Lampu listrik yang kami gunakan ketika pergi, semakin terang karena batreinya sudah penuh. Tetapi jalanan masih licin. Suar-suara binatang malam semakin keras terdengar dari atas pohon-pohon tinggi, dari semak-semak, dari sunga-sungai kecil.

Saya tiba-tiba terkaget begitu ada seekor biawak kecil melompat dari pinggir sungai ke semak-semak. Mungkin terkejut mendengar kami atau melihat lampu yang terang.  Saya pun semakin waspa. Kampung Cibogoh masih jauh.

Menjelang tengah malam, kami tiba kembali di Cibogoh. Orang-orang Baduy, ketika kami pergi, banyak yang tampak duduk di teras-teras rumah. Pun pemuda-pemuda Baduy lain, di beberapa tempat, tampak sibuk memasak untuk hajatan pernikahan besok.

Ketika pulang, saya melihat mereka terbaring di teras-teras rumah. Tidur berselimut sarung di malam yang dingin itu. Ini satu sisi kehidupan di Baduy. Keadaan itu sudah menyatu dengan kehidupan mereka.

Teman-teman anggota ekspedisi sebagian sudah tidur. Sebagian lain masih begadang: main gaplek. Malam semakin larut. Dingin pun mulai menyergap. Saya harus segera tidur biar salat subuh tidak terlambat. Lagi pula perut sudah sangat nyaman karena semua sampahnya sudah keluar di Cijahe.

Ada space kosong yang disisahkan buat saya.  Menghadap ke dinding anyaman bambu yang memisahkan ruangan itu dengan dapur.  Saya memang sejak sore menggeletakkan ransel saya di situ. Dan tidurlah saya berbantalkan ransel itu. Menghadap ke arah Timur.

Suara dengkur pun mulai sahut-menyahut dalam ruangan yang gelap itu.  Kemungkinan dari anak-anak muda yang tidur satu ruangan bersama saya. Sulit memang megetahui itu dengkurnya siapa saja, karena mereka ada lima orang. Lagi pula sangat gelap. Mereka terlelap. Saya pun bila terlelap, kemungkinan mendengkur seperti mereka.

Sebelum ayam berkokok, saya dua kali  ke dekat gentong di samping rumah. Suhu udara yang dingin membuat saya sering kencing. Makin menjelang subuh, makin dingin. Sampai menggigil. Ini mirip ketika saya di Venezia, Italy, 10 tahun yang lalu. Untuk menghangatkan kamar, saya harus menyalakan mesin penghangat ruangan. Di Baduy, saya harus menarik selimut seketat mungkin.

Suara kokok ayam tiba-tiba sahut-menyahut dari berbagai tempat di kampung Cibogoh.  Ramai sekali. Hari memang sudah subuh. Tetapi suhu makin dingin: 15 derata Celsius. Makin menggigil. Tarik selimut lagi. Toh suara azan belum kedengaran. Oh.. ini di Baduy, tidak ada masjid di sini. Salat subuh pkl 05 setelah wudhu dengan sisa-sisa air di gentong itu.

Saya melihat Imam, Jo dan anak-anak muda anggota ekspedisi sepertinya menikmati malam dingin nan gelap itu. Nanti setelah pagi hari,  hampir semua dari anggota rombongan bercerita bahwa ternyata mereka juga merasakan dingin yang sangat ketika hari menjelang subuh.

Kecuali Ikbal dan tiga lainnya, tenang-tenang saja tidur di teras rumah. Mereka rupanya mengenakan sleeping bag yang sudah disiapkan sejak jauh hari sebelum ke Baduy. Ikbal memang anak gunung. General manager Radar Depok ini sering mendaki gunung. Karena itu, ke Baduy ini, tidak hanya sleeping bag, dia juga membawa peralatan masak mini.

Baca Juga : Ekspedisi Gerakan Anak Negeri Edisi Baduy 2 : Ketika Gadis-Gadis Baduy Pergi ke Sungai

Ini pengalaman hanya satu malam. Orang-orang Baduy seumur hidupnya mengalami hal seperti itu. Terutama yang tinggal di dataran tinggi atau pegunungan.  Dan keaadan itu memang sudah inheren dengan kehidupan mereka.

Saya dan teman-teman tidak hanya ingin mencari pengalaman tinggal di Baduy itu. Tetapi ini ekspedisi untuk mengetahui bagaimana kehidupan sesungguhnya satu komunitas masyarakat adat. Masyarakat Baduy.

Bagaimana pernikahan di Baduy? Adat apa saja yang menyertai satu pernikahan? Saya menceritakan dalam tulisan keempat. (**)

Editor : Yosep

Berita Lainnya