Perbedaan Generasi Lama dan Generasi Baru dalam Menghadapi Berita Hoaks

EFEK media massa adalah suatu kesan yang timbul pada pikiran khalayak akibat adanya suatu proses penyampaian pesan melalui media atau alat-alat komunikasi mekanis seperti: surat kabar, radio, televisi dan sebagainya.

Menurut Straubhaar et. al. (2011), “Adalah suatu perubahan pada pengetahuan, sikap, emosi, atau tingkah laku setiap individu atau seseorang yang mengkonsumsi media tersebut sebagai hasil dari paparan media massa yang dilakukan secara terus-menerus”.

Media massa berperan besar terhadap penyebaran berita dan informasi yang ada di negara ini. Banyak dampak positif dan negatif yang lahir dari penyebaran media massa yang cepat ini, salah satu dampak negatifnya ialah penyebaran berita hoaks yang semakin cepat dan luas.

Diera teknologi yang semakin berkembang, tidak dapat dipungkiri berita hoaks dapat ditemukan dimana-mana entah di media sosial maupun media massa. Tidak pandang umur, entah muda maupun tua, Berita hoaks pun dapat menghampiri mereka. Terlebih bagi mereka yang kurang literasi, mudah percaya akan berita yang ditampilkan, serta orang tua yang kurang edukasi dalam menggunakan teknologi.

Dibanding generasi lama, generasi baru lebih bisa memfilter mana berita yang harus diterima mana yang harus diabaikan. Hal ini ada sangkut pautnya dengan kebiasaan lama generasi lama yang sudah biasa membaca media massa seperti koran yang tentunya sudah melewati proses yang cukup panjang dimulai dari proyeksi berita, mencari dan menulis berita, rapat budgting, pengiriman berita, editing, pemeriksaan halaman, percetakan koran sampai kepada koran itu berada ditangan pembaca. Sehingga apapun yang mereka baca akan langsung mereka percayai tanpa mencari tau sumber yang jelas.

Hal tersebut terungkap melalui studi yang dilakukan oleh peneliti di Princeston dan New York University yang melihat postingan di Facebook menjelang maupun usai Pilpres Amerika Serikat 2016 lalu. Mereka meriset 3.500 responden, di mana kesemuanya pengguna Facebook.

Menurut hasil riset mereka, 11% pengguna dengan usia 65 ke atas berbagi hoaks, sementara pengguna berusia 18-29 tahun menebarkan informasi palsu di angka 3%.

“Bisa remaja tanggung, ibu-ibu, bapak-bapak, atau sekitaran umur 13-40 tahun,” ujar Zulkifli Syah. Tak jarang Golongan Muda pun bisa terkena berita hoaks salah satu penyebabnya ialah dikarenakan kurangnya edukasi oleh orang tua mereka dalam menggunakan sosial media.

“Golongan yang mudah menerima berita hoaks itu bisa semua umur aja kaya orang tersebut itu bagaimana menanggapi karena tidak kalangan muda atau tua bisa terkena berita hoaks” ucap Nadia Agustina selaku mahasiswa. Ia pun berdalih bahwasannya tidak hanya golongan tua yang bisa terkena berita hoaks, golongan muda pun bisa terkena berita hoaks.

Efek dari individu yang sering membaca berita hoaks ialah cenderung bersifat tidak mempercayai apapun yang kontra atau berlawanan dengan fakta yang ada, tidak menerima masukan atau bacaan yang berbeda serta berlawanan dengan apa yang ada dipikirannya.

Adapun yang faktor psikologis yang membuat orang menyebarkan berita hoaks di antaranya, memiliki dorongan emosional, harapannya orang lain merasakan efek emosional seperti yang ia alami saat membaca judul berita palsu tersebut.

Hal ini berkaitan dengan teori pendekatan Neurobiologis, ialah studi tentang sel-sel sistem saraf dan organisasi sel-sel ini kedalam sirfuit fungsional yang memproses informasi dan memediasi perilaku. Tak heran jika orang yang menyebar berita hoaks banyak ditemukan ditemukan disosial media yang didalamnya banyak Generasi muda serta tua yang mana cara memproses informasi mereka tidak semuanya berjalan dengan baik. (*)

Oleh :

Devira Ramadhanti
Shafa Rosnadila
Wianda Kamilah
Ni kadek Aria Candra Dewi
Rima Azahri
Silvy Febrian
Rafdy Muhammad Zulfandy Zein
Zaky Ahmad Fauzy
Raihan Luthfanza Zulkarnaen

Berita Lainnya