IBI Kesatuan Bogor Dukung Kemenparekraf Tingkatkan Desa Wisata Unggul dan Berkelanjutan

IBI Kesatuan Bogor Dukung Kemenparekraf Tingkatkan Desa Wisata Unggul dan Berkelanjutan
IBI Kesatuan Bogor Dukung Kemenparekraf Tingkatkan Desa Wisata Unggul dan Berkelanjutan

RADAR BOGOR, HIMA Pariwisata IBI Kesatuan Bogor menggelar diskusi secara daring bersama Menteri Pariwisata Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, Sabtu (28/5/2022).

Dalam paparannya, Sandiaga Uno mengatakan, pandemi menciptakan trend baru untuk berwisata. Salah satunya dengan meningkatkan permintaan untuk berwisata di alam terbuka.

Baca juga: Dua CPNS Kota Bogor Mengundurkan Diri, Alasanya Begini…

Menurutnya, desa wisata menjadi pilihan bagi wisatawan untuk menikmati alam terbuka. Sekaligus merasakan pengalaman berwisata ditengah masyarakat pedesaan.

“Kemenparekraf terus berkomitmen mendukung pengembangan desa wisata yang bertujuan untuk menumbuhkan desa wisata berkembang menjadi maju hingga mandiri,” katanya.

Baca juga: Berkunjung ke Jerman, Airlangga: Indonesia Berpeluang Tarik Banyak Investor

Sehingga menciptakan lapangan kerja dan menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian.

Sandiaga Uno juga mengatakan, dalam mengembangkan desa wisata diperlukan 3 strategi:

1. Adaptasi
2. Inovasi
3. Kolaborasi

Selain itu di pengembangan desa wisata dilandasi dengan semangat 3G :

1. Gercep
2. Geber
3. Gaspol

Pedoman dalam pembangunan desa wisata atau destinasi wisata berkelanjutan terdiri dari 4 kategori yaitu :

1. Pengelolaan destinasi pariwisata berkelanjutan
2. Pemanfaatan ekonomi bagi masyarakat lokal
3. Pelestarian budaya bagi masyarakat dan pengunjung
4. Pelestarian lingkungan

Kemenparekraf telah menyusun logo branding desa wisata sebagai wujud respresentasi komitmen dalam pengembangan desa wisata dan meningkatkan nilai pemasaran desa wisata yang disahkan melalui kemenparekraf.

Baca juga: Wabah PMK Masuk Kabupaten, Kota Bogor Perketat Jalur Masuk Perdagangan Sapi

Sertifikasi desa wisata berkelanjutan bertujuan untuk :

– Membangun meningkatkan kesadaran stakeholder
– Meningkatkan daya saing desa wisata indonesia
– Dukungan terhadap pelestarian bumi melalui wisata yang ramah lingkungan atau green traveling
– Sebagai jaminan kepada wisatawan terkait praktik sustainable tourism yang dilaksanakan di desa wisata

ADWI Anugrah Desa Wisata Indonesia merupakan sebuah program yang diharapkan mampu mewujudkan misi indonesia sebagai negara tujuan pariwisata berkelas dunia, berdaya saing, berkelanjutan dan mampu mendorong pembangunan daerah, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Baca juga: Hadapi Wabah PMK, Polbangtan Kementan Lakukan Antisipasi

“Selain itu sebagai bentuk pengembangan desa wisata kemenparekraf juga memproduksi konten foto dan video serta publikasi desa wisata melalui pembuatan landing page khusus di website indonesia.travel serta publikasi di akun media sosial,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pengelolah Desa Wisata Penglipuran Bali, I Nengah Moneng mengatakan, sebagai ketua pengelolah desa wisata Penglipuran Bali memaparkan berbagai macam hal terkait dengan kondisi yang ada pada desa tersebut.

Seperti kelembagaan, sejarah, sosial budaya, tata ruang, visi misi dan proses terbentuknya Desa Panglipuran itu sendiri.

Baca juga: Kawasan Puncak Surganya Penjual Kambing, Pemdes Tugu Utara Wanti-wanti Wabah PMK

“Desa kami sekarang distatuskan sebagai Desa Wisata yang berkelanjutan (sustainable Tourism) sudah 2 kali, yaitu di tahun 2017 dan dimasa pandemi 2020, Nanti juga di Tahun 2023 juga akan di verifikasi kembali, karena masa berlakunya sertifikat ini hanya 3 tahun,” ungkapnya.

Pada awalnya, lanjutnya, desa ini terbentuk pada tahun 1990 sebagai Desa Konservasi.

“Tourism itu adalah sebagai bonus, sesungguhnya kami berkomitmen membangun desa konservasi,” katanya.

Baca juga: Diduga Mengantuk, Pengendara Motor Tewas Kecelakaan di Jalan Ahmad Yani

Karena pada tahun 1993 Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli mengatakan bahwa Desa Panglipuran dianggap potensial dijadikan objek wisata. Sejak saat itu Desa Panglipuran disebut sebagai Objek Desa Wisata Tradional dan dikeluarkan lah SK Bupati No. 115 Tahun 1993.

Sampai tahun 2011 beliau juga mengatakan tidak ada perembangan karena pada saat itu Desa tersebut tidak memiliki atraksi, amenitas, dan kelembagaan belum dimiliki secara proporsional.

“Akhirnya pada tahun 2011 akhir Bank Indonesia mengluarkan dana CSR dan juga di fasilitasi oleh Bali Community Exibithion untuk dibina & di damping agar menjadi destinasi yang lebih berkualitas. Akhirnya pada tanggal 15 september 2012 di deklarasi sebagai Desa Wisata berbasis masyarakat,” ucapnya.

Baca juga: Akhiri Penantian 23 Tahun, Nottingham Forest Kembali Berlaga di Liga Premier

Ditempat yang sama, Kepala Prodi S1 Pariwisata, Bambang Hengky Rainanto menjelaskan kegiatan webinar tentang desa wisata ini merupakan perwujudan dan komitmen bagi Program Studi Sarjana Pariwisata.

IBI Kesatuan dalam mendukung percepatan ekonomi khususnya di bidang Pariwisata, terutama desa wisata.

Terdapat kurang lebih 80.000 desa wisata di Indonesia dan sebagian besar terdampak pandemi. “Momentum ini diharapkan menjadi waktu yang baik untuk bangkitnya kembali Desa Wisata di Indonesia. Himpunan Mahasiswa Pariwisata IBI Kesatuan selalu membuat kegiatan yang update (mengikuti perkembangan) kepariwisataan di Indonesia & Internasional,” katanya. (*)

Berita Lainnya