Beranda Pendidikan Dosen Unida Lolos Hibah Riset Keilmuan, Tim Peneliti Adakan Focus Group Discussion...

Dosen Unida Lolos Hibah Riset Keilmuan, Tim Peneliti Adakan Focus Group Discussion (FGD)

RADAR BOGOR, Tim Peneliti Unida menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Hibah Riset Keilmuan dengan skema Riset Mandiri Dosen melalui ruang pertemuan daring (zoom meeting) (23/4).

Penelitian ini merupakan hibah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Kementerian Keuangan T.A 2021-2022.

FGD ini merupakan tahap pengumpulan data sebagai tindak lanjut tim peneliti dalam melaksanakan penelitian.  

universitas-ibn-khaldun-uika-bogor

Baca juga: Pasar Gembrong Kebakaran, 400 Bangunan Ludes Dilahap Api

Dihadiri oleh mahasiswa PGSD dan perwakilan guru SD, kegiatan FGD menghadirkan narasumber Prof. Dr. H. Yayat Sudrajat, M.Hum (Guru Besar bidang Pendidikan Bahasa Daerah, Universitas Pendidikan Indonesia), Dr. Daningsih Kurniasih, M.Pd (Pengawas Sekolah Menengah Pertama (SMP) wilayah Depok), Wahyu Rahmat Maulana, M.Pd.I. (Kepala Sekolah SD Amaliah), Iyon Muhdiyati, M.Pd. (dosen pengampu mata kuliah Bahasa Daerah SD), dan Erlina, M.Pd. (Guru SD Amaliah).

Kegiatan FGD dengan judul penelitian “Model Pembelajaran Muatan Lokal Berbasis Lingkungan Menuju Sekolah Dasar Bangkit Sebagai Upaya Meminimalkan Dampak Covid-19” diketuai oleh Teguh Prasetyo, M.Pd. serta anggota Megan Asri Humaira, M.Hum dan Novi Maryani, M.Pd.I.

Acara dibuka oleh Wakil Rektor 3 Bidang Riset, Pengabdian, Inovasi & Hilirisasi. Dr. Ir. Ristika Handarini, M.P. menyatakan dalam sambutannya bahwa tema ini sangat sesuai dengan kondisi yang saat ini membutuhkan solusi di masa pandemik dan pasca/recoverynya menjadi tantangan dalam dunia pendidikan.  

“Meskipun dari berbagai sumber menyatakan bahwa pembelajaran secara daring tidak menurunkan hasil belajar peserta didik, namun perlu peningkatan keterampilan  guru untuk dapat memanfaatkan semua potensi di sekitar peserta didik termasuk model pembelajaran berbasis lingkungan sebagaimana solusi yang diajukan dalam penelitian ini dalam bentuk model pembelajaran berbasis lingkungan,” tuturnya.

Menurut ketua pelaksana Teguh Prasetyo, M.Pd. pentingnya memelihara lingkungan dengan memberikan pembelajaran berbasis lingkungan sejak dini khusus di Sekolah Dasar, sejalan dengan penelitian ini yang mewakili program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar khususnya pada mata kuliah Bahasa Daerah SD.

Tim peneliti merancang model pembelajaran berbasis lingkungan yakni NARASIKOM (Pengenalan, Eksplorasi, Interpretasi, dan Komunikasi). Diharapkan tahapan ini bisa membantu para guru bahasa daerah dalam proses pembelajaran di kelas.

“Proses FGD ini merupakan rangkaian kegiatan memperoleh data-data dari para pakar, karena ini sangat bermanfaat bagi penelitian yang akan dikembangkan. Tentu saja pengembangan kami masih sangat banyak kekurangan, untuk itu kami membutuhkan masukan dan saran dari bapak dan ibu pakar di bidangnya,” ungkap Teguh Prasetyo, M.Pd.

Dimulai sejak pukul 09.00 WIB, para narasumber aktif mengajukan beberapa masukan dan saran berkaitan dengan proposal. Dalam salah satu penyampaiannya, Prof. Dr. H. Yayat Sudrajat, M.Hum. memberikan ulasan seputar proposal penelitian.

“Jika berbicara model berarti berbicara orientasi, dampak, metode dan teknik yang digunakan. Pengembangan model itu masuk ke dalam Research and Development (penelitian dan pengembangan) biasanya riset dan pengembangan ini bertahap. Misal di uji coba dalam 1 kelas kecil kemudian hasilnya bagus, kemudian dicoba di 1 sekolah, kemudian di beberapa sekolah sehingga semakin luas. Untuk penelitian pengembangan saya merekomendasikan lingkupnya yaitu lingkungan sosial budaya,” ungkapnya.

Menurut para pakar penelitian ini sangat penting untuk diteliti sebagai alternatif pembelajaran kepada para guru dan mahasiswa untuk pengembangan keilmuan.

Megan Asri Humaira, M.Hum selaku anggota peneliti yang diwawancarai usai FGD menyatakan harapannya model NARASIKOM yang dikembangkan dapat menjadi alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan di sekolah dasar.

“Guna meminimalisir dampak covid-19 serta efektif digunakan di sekolah dasar maupun universitas, khususnya pada mata kuliah bahasa daerah,” tutupnya.