logo radar

Peringati Hari Air Sedunia, PSL IPB Bahas Pentingnya Pemanfaatan Air Tanah dan Air Permukaan

Temu wartawan bersama pakar air IPB University dalam peringatan Hari Air Sedunia, Prof. Cecep Kusmana, Prof. Hadi Susilo Arifin, Prof .Suria Tarigan, Prof .Yusman Syaukat (kiri ke kanan), di Resto Taman Koleksi, Kampus Baranangsiang, Senin (21/3).

BOGOR–RADAR BOGOR, Hari Air Sedunia (the World Water Day) pertama dirayakan pada 1993. Hal itu pertama kali diusulkan pada konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang lingkungan dan pembangunan di Rio de Janeiro pada 1992. Akhirnya setiap tahun pada 22 Maret dirayakan sebagai the World Water Day.Pada perayaan ke 30 ini, Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PS PSL), IPB mengusung tema Hari Air Sedunia 2022 dengan “Ground Water, Making the Invisible, Visible” (Air tanah, menjadikan yang tak terlihat, terlihat) yang dikaitkan dengan SDG’s terutama tujuan 6-11-14-15.

Pada press conference yang digelar bersama belasan wartawan media masa di Resto Taman Koleksi Kampus Baranangsiang Prof. Hadi Susilo Arifin, Ketua Program Magister PSL IPB, menyampaikan pentingnya pemanfaatan air tanah dan air permukaan. Keduanya akan saling melengkapi dengan mempertahankan kelestarian hutan, situ, danau yang mampu sebagai bekerja sebagai daerah tangkapan air (water cathment).

Hadi, yang juga merupakan peneliti “water sensitive city” di Departemen Arsitektur lanskap menyampaikan, bahwa banyak kearifan lokal dan pengetahuan tradisional masyarakat dalam mengelola sumberdaya air secara berkelanjutan. Contohnya masyarakat Bali mempertahankan “Subak Parahyangan” (mata air di hulu) untuk keberlanjutan sumber irigasi hingga wilayah tengah dan hilir. Di Jawa ada istilah “Ulu-ulu”, “Jogo-Tirto”; di Jawa Barat dikenal kelompok pengelola air dengan nama “Mitra Cai”, dan lain sebagainya.

Prof. Suria Tarigan, pakar geo-hidrology dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University menjelaskan air hujan yang jatuh di daratan akan menjadi air tanah sekitar 25 persen, air permukaan 1 persen dan selebihnya mengalir ke laut. Prinsip pengelolaan air tanah adalah meningkatkan persentase resapan air hujan ke dalam tanah.

Pemanfaatan air bawah tanah berlebihan akan memicu: a) penurunan muka tanah (subsidensi), b) intrusi air laut, dan c) kerusakan struktur dan kapasitas akuifer. “Jika penurunan muka tanah tersebut terjadi pada daerah pemukiman maka dapat berdampak buruk di mana subsidensi tanah akan meningkatkan risiko banjir pada musim hujan. “Secara rata-rata, penurunan muka tanah dari Jakarta sebelum 1990 sebesar 1-2 cm/tahun, sekarang sekitar 3-4 cm/tahun. Penurunan tanah tersebut meningkatkan risiko banjir di Jakarta,” jelasnya. Dengan memahami pola akuifer maka kita dapat identifikasi daerah yang potensial untuk membuat daerah water recharge (peresapan air) pada sebuah DAS.

Peranan mangrove dalam manajemen sumberdaya air disampaikan Prof Cecep Kusmana, dari Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, IPB University. Mangrove sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan hidup dan pemeliharaan lingkungan hidup masyarakat pesisir, di antaranya dalam pemeliharaan tata air dan tanah yang menunjang keperluan hidup utama masyarakat tersebut.

Menarik bagaimana penyelamatan air tanah melalui investasi pada infrastruktur air PDAM disampaikan pakar sosial ekonomi, Prof. Yusman Syaukat dari Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB University. Saat ini, pada setiap wilayah (provinsi/kabupaten/kota) pemenuhan kebutuhan air bersih dilakukan menggunakan prinsip pemanfaatan air tanah dan air permukaan secara bersama (conjunctive use between surface and ground water).

Dari hasil riset (Syaukat, 2000) di DKI Jakarta, bahwa investasi dalam meningkatkan kapasitas produksi air perpipaan saja tidaklah memiliki peran yang signifikan dalam mengurangi total pengambilan air tanah dalam rangka menjaga stok air tanah di cekungan air tanah (aquifer). Akan tetapi, jika investasi dilakukan dalam rangka peningkatan kapasitas produksi dan juga fasilitas distribusi (untuk memperluas layanan dan mengurangi kebocoran) air bersih, ternyata mampu meningkatkan volume pasokan air perpipaan, mengurangi rata-rata biaya produksi air bersih, mengurangi penggunaan air baku (air permukaan), meningkatkan pendapatan.

Upaya-upaya menjaga pengisian (recharging) air tanah juga harus terus dilakukan. Ketersediaan kuantitas air tanah dengan kualitas baik berkontribusi nyata dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan lingkungan, dan mendukung pencapaian tujuan SDGs,” ujarnya menutup pembicaraan. (ded/c)

Berita Lainnya