Terjun ke Sepakbola, Prilly Latuconsina: Saya Bukan Ikut-ikutan

SIAP BERPROSES: Prilly Latuconsina (kiri) menerima seragam jersey dari Manajer Persikota Tangerang Mahdiar. Prilly mengaku masih punyak banyak pekerjaan rumah (PR) untuk bisa mengembangkan Persikota Tangerang. (BENTENG MANIA UNTUK JAWA POS)

JAKARTA-RADAR BOGOR, Semenjak resmi mengakuisisi klub sepak bola Liga 3 Persikota Tangerang, Prilly Latuconsina menjadi satu-satunya perempuan yang terjun ke dunia bisnis olahraga dari kalangan selebriti. Kedatangannya di sana dianggap memberi warna baru bagi dunia sepak bola tanah air. Kepada Jawa Pos, Prilly bercerita tentang awal mula dirinya melirik dunia sepak bola hingga rencananya bersama Persikota Tangerang.

Bagaimana cerita awal Prilly tertarik dengan bisnis olahraga?

Jadi, adikku sering banget main dan nonton bola dari kecil. Nah, akhirnya aku lihat bahwa sepak bola di Indonesia ini sebenarnya punya market yang besar. Cuma memang harus ada yang dibenahi. Ternyata klub-klub bola yang akan melahirkan pemain-pemain terbaiklah yang bisa menjadi pemain timnas. Makanya, aku pengin punya klub bola juga.

Mengapa memilih Liga 3 ketimbang memiliki klub bola Liga 1?

Aku kan baru di dunia klub bola, nggak mau buru-buru atau gegabah. Aku pengin Liga 3 dulu supaya aku paham bagaimana sih prosesnya dari Liga 3, ke Liga 2, dan ke Liga 1. Kalau langsung ambil Liga 1, aku nggak tahu prosesnya. Klub bola bukan bisnis instan ya, yang kita akuisisi terus langsung meledak. Ini tuh bisnis yang bertahap. Prosesnya panjang.

Lalu, apa yang menjadi alasan utama bergabung dengan Persikota Tangerang?

Aku tuh sama wali kota Tangerang berhubungan baik banget. Kami sering diskusi, bukan cuma soal bola, tapi apa pun mengenai Kota Tangerang. Pas lagi berdiskusi di rumah beliau, ngomongin lah Persikota. Terus aku baca sejarahnya. Dari situ akhirnya aku berkeinginan punya klub bola dan pengin (Persikota Tangerang, Red) maju kayak Liga 2 dan 1. Selain itu, ya karena Persikota Tangerang dekat dari rumah. Jadinya aku bisa bolak-balik ngobrol, meeting, dan lihat mereka latihan. Aku mau maju dari Liga 3 karena aku mau memajukan Persikota Tangerang hingga sustainable. Bisnis dan prestasi seimbang.

Hal-hal apa yang Prilly pelajari sebelum bergabung dengan Persikota Tangerang?

Ya, bagaimana menjalankan klub ini, membuka strategic partnership, kerja sama sponsor, pelatihan. Semua itu pastinya udah dipahami dong. Jadi, aku memang nggak paham teknis bermain bola, tapi aku bermain di belakang aja.

Banyak orang yang menilai kamu sekadar ikut-ikutan teman selebriti. Sebetulnya sejak kapan rencana ini ada?

Kelihatannya memang dadakan karena aku nggak pernah posting. Tapi, pastinya aku udah melewati diskusi yang panjang banget. Dari tahun lalu kali, ya. Aku awalnya emang nggak ngerti, tapi aku belajar gimana cara punya dan memajukan klub bola. Jadi, bukan ikut-ikutan, ya, karena aku juga kerja keras banget buat bergabung di Persikota Tangerang.

Sekarang kamu jadi artis perempuan pertama yang pegang klub bola. Gimana menanggapi isu-isu miring?

Ada orang yang underestimate sama perempuan. Padahal kan perempuan juga bisa. Kali pertama mengumumkan, banyak banget yang curiga siapa orang di belakang aku. Aku cukup ketawa aja karena memang nggak ada unsur politik. Nggak ada satu pun orang yang nge-push aku. Aku di sini bukan jadi boneka yang sekadar untuk berdiri. Aku kerja keras untuk Persikota Tangerang. Aku pun udah komitmen 100 persen meluangkan waktuku untuk ini.

Gimana cara Prilly mendekatkan diri dengan para suporter Persikota Tangerang?

Aku bilang nggak boleh ada slek-slekan. Antarsuporter harus saling merangkul. Harus bersinergi karena tujuan kita untuk memajukan sepak bola Indonesia. Alhamdulillah, respons mereka luar biasa baik. Dan ternyata Persikota banyak suporter cewek. Pas aku datang lihat latihan lumayan kaget, lah kok banyak cewek. Jadi, lebih enak lah, ya, kenalannya kalau banyak suporter cewek dan mereka juga seneng ada sosok perempuan di bola.

Apa hal baru yang Prilly ketahui setelah menjadi pemilik klub sepak bola?

Ya, ternyata latihan itu ada proses dan protokolnya gitu. Kayak kemarin abis latihan aku ngajakin ”Yuk pemain Persikota abis latihan nonton yuk”. Ternyata nggak boleh sama pelatih karena harus istirahat. Aku kan masih baru, ya, jadi nggak tahu.

Ada rencana merekrut pemain bintang?

Kalau urusan itu, aku serahkan semua ke pelatih. Karena kan dia yang ngeliat latihan dan pemain tiap hari. Jadi, dia lebih tahu kemampuan Persikota yang sekarang seperti apa dan apa yang dibutuhkan pemain. Apa pun keputusan coach, aku akan dukung.

Omong-omong, bujet yang Prilly keluarkan untuk membeli Persikota Tangerang berapa sih? Pastinya kan nggak sedikit. Apa nggak takut rugi?

Hmmm ada deh. Kalau aku bilang, nanti ngebuka uang yang lain juga. Jangan dong hehehe. Namanya berbisnis kan kita harus berani mengambil risiko, ya. Kalau aku udah memutuskan untuk investasi, segala risiko untung rugi udah siap dihadapi. Dan aku nggak peduli juga sih berapa saham yang aku punya atau uang yang aku keluarkan. Karena energi dan tenaga yang dikeluarkan akan tetap sama 100 persen.(jp)

Berita Lainnya