Beranda Bogor Raya Nasionalisme Indonesia Berpijak Pada Keberagaman

Nasionalisme Indonesia Berpijak Pada Keberagaman

SERIUS : Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Provinsi Jawa Barat, Asep Wahyuwijaya saat sosialisasi empat pilar kebangsaan di Madrasah Tsanawiyah Nurul Falah, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor, Jum'at (21/1).

BOGOR – NKRI dibangun di atas pondasi keberagamaan adat, suku, budaya dan bahasa. Memaknai rasa nasionalisme Indonesia harus didasarkan pada perjalanan sejarah dan kondisi empirik tersebut.

Sehingga, tidak boleh ada satupun pihak yang paling merasa nasionalis atau bahkan merasa paling Pancailais sekalipun, sementara pada saat yang sama dia merendahkan salah satu adat, suku, bangsa atau bahasa yang menjadikan Indonesia lahir dan menjadi ada.

Nasionalisme Indonesia tidak boleh ditafsirkan secara monolitik. Nasionalisne Indonesia harus dipandang dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Hal tersebut, diungkapkan ditegaskan Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Provinsi Jawa Barat, Asep Wahyuwijaya saat sosialisasi empat pilar kebangsaan di Madrasah Tsanawiyah Nurul Falah, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor, Jum’at (21/1).

universitas-ibn-khaldun-uika-bogor

Kang AW (sapaan akrab,red) mengungkapkan, menjadi paradoks saat seluruh penyelenggara negara secara massif sedang menyosialisasikan nilai-nilai empat pilar kebangsaan, tetapi malah ada pihak yang cara berpikir dan bicaranya itu cenderung rasis dan merendahkan martabat salah satu suku.

“Saya kira kita harus bercermin dari hal tersebut yang pada prinsipnya hal tak baik itu jangan kita ditiru, kalaupun jadi contoh, hal tersebut harus menjadi contoh yang tidak baik dan bukan untuk ditiru,” jelas Kang AW saat ditanya masalah yang menerpa anggota DPR RI yang dianggap merendahkan suku sunda.

Politisi bintang mercy asal Kabupaten Bogor itu bersyukur, yang bersangkutan sudah minta maaf. Politisi dapil Kabupaten Bogor itu berharap, hal tersebut menjadi pembelanjaran untuk semua pihak sebagai anak bangsa.

Dalam acara sosialisasi empat pilar tersebut, Kang AW menegaskan, keberagaman yang dimiliki oleh bangsa  harus dipandang sebagai kekayaan bersifat kodrati dan alamiah.

Kang AW menambahkan, kebhinnekaan itu bukan untuk dipertentangkan, direndahkan apalagi diadu antara satu dengan yang lain sehingga semua menjadi terpecah belah. “Sebaliknya, Bhinneka Tunggal Ika harus dapat menjadi spirit perilaku keseharian kita agar persatuan dan kesatuan bangsa semakin kokoh dan lestari,” tuturnya. (mg)