Beranda Bogor Raya Para Ahli Bahas Pengelolaan Sampah, Ini Penjelasannya

Para Ahli Bahas Pengelolaan Sampah, Ini Penjelasannya

KOMPAK : Para peserta seminar Seminar Nasional Inovasi Bank Sampah Indonesia di Olè! Suites Hotel & Cottage, Rabu (15/12).

BOGOR – Bank sampah memiliki potensi yang sangat baik untuk dikembangkan di lingkungan masyarakat. Hal itu, dijelaskan Dept.

Sanitasi Poltekkes Yogyakarta Dr Bambang Suwerda saat menjadi pemateri seminar Seminar Nasional Inovasi Bank Sampah Indonesia di Olè! Suites Hotel & Cottage, Rabu (15/12).

Menurutnya, saat ini banyak masyarakat yang tak bisa mengengelola sampah. “Problematika sampah di Indonesia, warga kebanyakan masih membakar sampah sehingga menimbulkan masalah baru,” ujar pendiri bank sampah Gemah Ripah tersebut.

unb universitas nusa bangsa bogor

Ia menjelaskan, saat ini masyarakat hanya mengandalkan sistem kumpul, angkut dan buang ke tempat pembuangan akhir (TPA).

BACA JUGA : Ekonomi Warga Bogor Berpotensi Naik, Ini Rahasianya

Lebih lanjut ia mengatakan, pengelolaan sampah di bagian hulu harus dimaksimalkan sehingga tak menumpuk.

Bambang menambahkan, upaya pengurangan sampah di sumbernya dengan memperbanyak Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM).

Di bank sampah Gemah Ripah, masyarakat Desa Badegan, Bantul, Yogyakarta mengumpulkan tiga jenis sampah, yaitu plastik, kertas, serta kaleng dan botol.

“Awalnya, hanya masyarakat Badegan yang menabung sampah di sana. Tapi, lambat-laun masyarakat di luar wilayah pun ikut menabung di Bank Sampah Gemah Ripah,” katanya.

Sementara itu, Dept. Manajemen Sistem Informasi Universitas Binus, Astari Retnowardhani, Ph.D menjelaskan, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) hingga tahun 2021 tercatat bank sampah di Indonesia lebih dari 10 ribu unit yang tersebar di 363 kabupaten dan kota.

“Penguatan dan dukungan terhadap bank sampah agar dapat mengelola sampah serta memberikan nilai ekonomi yang lebih besar sangat diperlukan,”ungkapnya.

Menurutnya, selain sistem aplikasi pengelolaan sampah yang terintegrasi untuk sustainability bank sampah diperlukan traning untuk mengurus bank sampah mengenai standar pemilahan sampah, standar kerja, bisnis model dan bisnis proses.

Lebih lanjut ia mengatakan, pembentukan Akademi Bank Sampah sebagai salah satu fasilitas untuk edukasi. Pelatihan yang diberikan mengenai standar pemilahan, standar kerja, bisnis model dan bisnis proses.

“Pelatihan bisa dilakukan secara langsung maupun menggunakan teknologi LMS,” ucapnya.

Sedangkan, Dept. Teknik Informatika Universitas Binus, Abba S. Girsang, Ph,D mengungkapkan, Black Soldier Fly (BSF) merupakan jenis lalat yang berukuran 3 kali lalat biasa.

Selain berguna untuk mengurangi dampak negatif dari penumpukan material organik di alam, larva BSF juga baik dan ekonomis untuk dimanfaatkan sebagai pakan hewan hias dan ternak.

“Fase metamorfosa maggot BSF dimulai dari telur, larva, prepupa, pupa, dan lalat dewasa, semuanya memakan waktu 40 sampai 45 hari,” jelasnya.

Menurutnya, budidaya maggot BSF bisa dilakukan di mana saja dengan skala yang sesuai dengan kemampuan para peternak.

Ketua Program Matching Fund Kedaireka Tahun 2021, Emil R. Kaburuan, Ph.D

Sebelumnya, Dosen di Dept. Manajemen Sistem Informasi Universitas Binus, Emil R. Kaburuan, Ph.D mengungkapkan, program yang dijalankannya merupakan penelitian.

Emil dan timnya mengembangkan program untuk membantu bank sampah,  termasuk membuat aplikasi bank sampah “kompis”.  (*/luc)