Beranda Metropolis Arae Ecoprint Pernah Disangka Kain Lap, Satu Selendang Laku Rp15 Juta

Arae Ecoprint Pernah Disangka Kain Lap, Satu Selendang Laku Rp15 Juta

Arae Ecoprint Pernah Disangka Kain Lap, Satu Selendang Laku Rp15 Juta
Arae Ecoprint Pernah Disangka Kain Lap, Satu Selendang Laku Rp15 Juta

BOGOR-RADAR BOGOR, Inovasi fesyen ramah lingkungan di bidang ecoprint terus tumbuh dan berkembang pesat. Hanya dalam tiga tahun, Arae Ecoprint sukses melesat menjadi brand andalan dari Kota Bogor.

Baca Juga : Jaga Stabilitas Harga Bapok Jelang Nataru, Mendag Lutfi: Pentingnya Sinergi Pemerintah Pusat dengan Pemda

Yane memetik beberapa helai daun yang menempel di atas kain. Pelan saja tangannya menyisihkan beberapa diantaranya. Bekas daun menyisakan jejak corak dan warna unik di atas kain. Polanya berbeda-beda, bergantung jenis daunnya.

yamaha-fazzio

Istri Wali Kota Bogor itu sengaja menyambangi markas dari Arae Ecoprint, pekan lalu.

Rasa penasaran membawa Yane Ardian ke sekitar kawasan pemukiman Kelurahan Bubulak, Bogor Barat. Meski jauh dari pusat kota, Yane terlihat puas menyaksikan langsung pengerjaan UMKM fesyen yang diprakarsai anak-anak muda asal Kota Bogor itu.

“Pernah dengar kecantikan sejati datang dari dalam? Hal ini yang saya temukan dalam karya-karya mas Ginanjar dan tim ketika saya mengunjungi workshop Ecoprint dengan label Arae,” ungkap perempuan yang juga Ketua TP PKK Kota Bogor ini.

Baginya, hasil karya “batik alam” itu dibuat dengan hati. Tak ada kemarahan tergores dalam setiap hasil karyanya. Tidak ada kebencian yang tertuang.

Tidak ada penyesalan tersimpan. Hal itulah yang membuat aura kebaikan Arae sangat terpancar. “Saya melihat banyak sekali kebaikan yang ada di sini,” puji Yane.

Kebahagiaan itulah yang ditularkan Yane kepada sang suami, Bima Arya. Hanya berselang hari, Bima ikut penasaran dan langsung menyambangi workshop Arae Ecoprint.

Tentu tak ingin ketinggalan mencicipi “kebaikan” yang disebutkan sang istri.

Ia mengibas-ngibaskan kain yang penuh dengan daun masih menempel. Daun yang berguguran meninggalkan jejak yang indah layaknya cetakan batik.

Sebenarnya, aktivitas semacam itu sudah rutin dilakoni CEO Arae Ecoprint Ginanjar.

Ia dan kawan-kawannya memproduksi kain dengan teknik ecoprint atau pencetakan dari sumber alam.

Kain-kain itu yang sekaligus akan menjadi bahan dasar beberapa jenis pakaian yang siap dipasarkan secara luas. Tak hanya skala nasional. Arae juga telah menjangkau pasaran global.

Terlebih ketika Arae ikut didapuk menjadi bagian dari brand unggulan Jawa Barat, Sagarayasa. UMKM binaan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Barat (Jabar) ini merupakan kolaborasi dari 4 brand fesyen yang mengusung konsep green economy.

Sagarayasa diperkenalkan lewat showcasing Karya Kreatif Jabar, September silam.

Selain Arae, tergabung juga Picnic Panic Ecoprint Resin (Bandung), Sesasesa (Bandung), dan Seeolla (Bandung). Mereka mengutamakan pemilihan bahan baku yang bersumber dari limbah yang diolah lebih lanjut.

Pewarnaan juga menggunakan bahan-bahan alam. Meski begitu, hasilnya akan memiliki nilai jual yang tinggi.

Meroket Setelah Juara

Lelaki yang akrab disapa Gin-gin ini mengungkapkan, mereka sejak awal sengaja menyasar pembuatan produk fesyen dengan teknik ecoprint.

Selain unik, bahan-bahannya juga mudah didapatkan. Mereka sama sekali tak menggunakan bahan kimia atau sintetis. Tak heran, jenis kain produksi Arae ini tergolong ramah lingkungan dan tidak menimbulkan pencemaran air.

Arae lahir dari bisnis roti Gin-gin geluti bersama temannya, sejak tahun 2015.

Sayangnya, usaha itu kian terdesak dengan harga bahan baku yang terus meroket. Hanya dalam rentang tiga tahun, mereka mesti menyiasatinya dengan usaha lain.

Peluang baru muncul dari bisnis fesyen dengan metode ecoprint. Modal nekat, ia mempelajari teknik pencetakan tanpa bahan kimia itu secara autodidak. Arae memulai berbagai produksi kainnya pada 2018 silam.

Tahun perdana itu, kata Ginanjar, produk mereka kurang laku di pasaran. Persaingan di bisnis fesyen sangat ketat.

“Malah ada yang sebut kain hasil ecoprint kami itu seperti kain lap,” canda founder Arae Ecoprint ini, sembari tertawa.

Kain-kain dibentangkan dengan motif dan corak dedaunan alami bisa dilihat di workshop Arae.

Proses pencetakan dengan metode ecoprint ada yang dikerjakan setiap hari. Itu lantaran produksi Arae harus terus berjalan untuk menenuhi permintaan pasar yang semakin meningkat.

Apalagi, semenjak brand asal Kota Bogor itu ikut serta dalam ajang Rona Jejak Alam (Rojak) Ecoprinter se-Jabodetabek, harganya meningkat tajam.

Selendang sutera yang dikompetisikan berhasil menyabet juara dan dilelang dengan harga Rp15 juta. Alhasil, semakin banyak orang yang penasaran dengan produk ecoprint Arae.

“Itu lomba yang diadakan di Gumati, tahun 2019. Temanya mengangkat sutera tenun Bogor, makanya motif ecoprint yang kita gunakan memakai tanaman gulma, tanaman merambat, tanaman liar, dan bunga kenikir. Kita tidak sangka, karena sebelumnya peserta yang lain pakai kain yang berkilau. Sedangkan kita cuma menggunakan sutera tenun Bogor,” imbuhnya.

Research and Develovement Arae, Masrur juga punya peran penting dalam pengembangan Arae. Lantaran ia pula yang harus memikirkan terobosan produk terbaru dari Arae.

Bahan-bahan yang digunakan untuk motif Arae berasal dari dedaunan, bunga, batang, kulit pohon, hingga ranting. Limbah yang dihasilkan pun masih bisa dimanfaatkan kembali.

Tak jarang, limbah-limbah itu menjadi media tanam bioponik untuk menyuburkan tanaman.

Lantaran, Arae juga menanam beberapa jenis tanaman di sekitar rumah produksi mereka sebagai alternatif dan bahan baku mencetak pola pada kain.

“Produk kami sudah sangat beragam. Seperti kain, baju, kaos, scarf, kerudung, tas, dompet, juga sepatu. Ecoprint juga bisa diaplikasikan pada media berbahan kulit,” tandasnya. (mam)