Beranda Nasional PeduliLindungi ke Sistem Pembayaran Terkesan Memaksa

PeduliLindungi ke Sistem Pembayaran Terkesan Memaksa

Ilustrasi: Aplikasi PeduliLindungi kini tersedia di Apple Play Store. (Rian/JawaPos.com)
Ilustrasi: Aplikasi PeduliLindungi kini tersedia di Apple Play Store. (Rian/JawaPos.com)

RADAR BOGOR, Menteri Koordinasi Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memiliki keinginan agar aplikasi PeduliLindungi nantinya juga akan dikembangkan menjadi sistem pembayaran digital.

Hal itu seiring dengan mulai berkembangnya sistem pembayaran digital di Indonesia dan pelaku usaha kecil yang mulai menerapkannya.

Demokrat Sebut Yusril Sangat Merendahkan Dirinya

pmb universitas nusa bangsa bogor

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yidhistira mempertanyakan terkait fokus tujuan utama aplikasi tersebut.

Sebab, rencana pengembangan aplikasi tracing Covid-19 tersebut cenderung memaksa.

“Memasukkan aplikasi pembayaran ke pedulilindungi terkesan memaksa ya. Jadi kurang nyambung ya karena tujuan awalnya kan untuk pendataan dan tracing covid-19,” ujarnya saat dihubungi oleh JawaPos.com, Senin (27/9).

Bhima khawatir, jika dipaksakan maka tujuan fungsi utama aplikasi tersebut tidak akan efektif. Menurutnya, hanya karena pemerintah memiliki data jutaan orang yang mengunduh aplikasi peduli lindungi, belum tentu orang akan menjadikan aplikasi peduli lindungi sebagai aplikasi pembayaran.

“Apalagi aplikasi peduli lindungi memakan baterai dan data yang tinggi. Kalau dijadikan e-wallet misalnya, apakah tidak makin boros pemakaian baterainya. Itu perlu dipikirkan dampak ke pengguna juga,” tuturnya.

Bhima mengungkapkan, pemerintah sendiri juga sudah memiliki alat pembayaran digital seperi Link Aja. Sehingga, lebih baik memperbaiki dan pengembangan aplikasi Link Aja ketimbang mengembangkan aplikasi PeduliLindungi.

“Pemerintah sudah punya Link Aja, kenapa perlu buat lagi? Sebaiknya perbaikan dilakukan pada Link Aja ketimbang memaksa Peduli Lindungi jadi aplikasi pembayaran digital,” ucapnya.

Selain itu, Bhima melanjutkan, aplikasi pembayaran digital bisa diminati ketika terintegrasi dengan transaksi ekonomi, seperti e-commerce atau transportasi online. Sementara aplikasi PeduliLindingi tidak memiliki integrasi dengan layanan ekonomi lain, maka akan sulit dijadikan e-wallet.

“Tidak bisa berdiri sendiri, harus ada ekosistem nya,” sebutnya.

Terakhir, keamanan data pengguna PeduliLindungi yang existing harus benar-benar dijaga. Karena setiap ada kerjasama dengan pihak ketiga, baik dengan bank atau merchant maka risiko kebocoran data bisa semakin besar.

“Aplikasi pembayaran harus kerjasama dengan bank untuk top up atau kerjasama dengan e-commerce, itu harus dijaga pemanfaatan data pribadi dari pihak ketiga,” pungkasnya. (Jawapos)