Beranda Metropolis Menjaga Marwah Kebun Raya Bogor, Stop Komersialisasi KRB

Menjaga Marwah Kebun Raya Bogor, Stop Komersialisasi KRB

GLOW Kebun Raya Bogor
GLOW Kebun Raya Bogor

BOGOR-RADAR BOGOR, Rencana komersialisasi Kebun Raya Bogor menuai polemik. Salah satunya muncul surat terbuka yang dibuat mantan petinggi Kebun Raya Bogor.

Siap Buka Malam, Kebun Raya Bogor Bakal Dibanjiri Lampu Warna-warni

Surat terbuka dengan judul ‘Menjaga Marwah Kebun Raya’ itu digagas mantan kepala Kebun Raya Bogor Indonesia, yang terdiri dari Prof. Dr. Made Sri Prana, Prof. Dr. Usep Soetisna, Dr. Ir. Suhirman, Prof. Dr. Dedy Darnaedi, dan Dr. Irawati.

pmb universitas nusa bangsa bogor

Mantan pimpinan Kebun Raya Bogor itu mengkritisi penyelewengan tugas pokok dan fungsi Kebun Raya Bogor, yang dianggap sudah melenceng jauh dari marwahnya sebagai tempat edukasi dan konservasi.

“Berdasarkan pengamatan kami, dan adanya masukan dan keluhan melalui media sosial dari berbagai lapisan masyarakat, kami merasa berkewajiban untuk meneruskannya kepada pimpinan yang secara struktur erat dengan tata kelola Kebun Raya Indonesia saat ini,” tulis dalam surat terbuka tersebut, Senin (27/9/2021).

Hingga kini konsep Kebun Raya Bogor masih mengusung lima tugas dan fungsi penting, pertama sebagai tempat konservasi tumbuhan; penelitian; pendidikan; wisata Ilmiah, dan terakhir jasa lingkungan.

Ketiga fungsi pertama merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan menjadi acuan bersama seluruh Kebun Raya di dunia (Jackson, P.W, 1999).

Karena itu berbagai kegiatan dan program yang dikembangkan di Kebun Raya Indonesia selalu berpegang pada kelima tugas dan fungsi Kebun Raya tersebut, yang sekaligus sebagai Marwah Kebun Raya Bogor.

Kebun Raya Bogor yang sudah berumur lebih dari dua abad dalam sejarah panjangnya selalu mengedepankan pendekatan ilmiah dan memperhatikan masalah konservasi dan lingkungan.

Kemudian, berbagai kegiatan dan usaha yang dilakukan Kebun Raya Bogor selalu mempertimbangkan kelima fungsi tersebut.

“Saat melakukan kegiatan usaha penggalangan dana sekalipun, Kebun Raya Bogor tidak silau pada keuntungan sesaat, dan selalu memilih green business yang sifatnya enviriomentally friendly,” tulisnya lagi.

Sejarah mencatat, saat awal berdirinya Kebun Raya Bogor, Pemerintah kolonial Belanda memanfaatkan Kebun Raya Bogor sebagai kawasan aklimatisasi tumbuhan ekonomi penting untuk tujuan bisnis “cultuurstelsel” atau Sistem Tanam Paksa.

Saat itu dimasukkan berbagai jenis tumbuhan asing yang bernilai ekonomi seperti kopi, teh, kina, kelapa sawit dll yang kini ikut menopang perekonomian nasional, dan menjadi andalan sumber devisa negara.

Masih dalam surat terbuka itu, setelah kemerdekaan dan dikelola oleh putra Indonesia, Kebun Raya Bogor lebih mengedepankan pendidikan, penelitian dan kegiatan explorasi serta konservasi, menyelamatkan tumbuhan, dengan tidak memperhitungkan nilai bisnis.

Bahkan, pada tahun 2001 Kebun Raya Bogor yang semula hanya Unit Pelaksana Teknis, Eselon III (UPT, E.III) dinaikkan statusnya dan mendapat tugas penting menjadi Pusat Konservasi Tumbuhan, Eselon II.

“Nama tersebut, dipertahankan hingga kini dengan nama Pusat Riset Konservasi Tumbuhan- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN),” ucapnya.

Naiknya, status Kebun Raya-LIPI mencerminkan pentingnya fungsi Kebun Raya sebagai jawaban atas kerisauan dunia karena tingginya laju kepunahan jenis tumbuhan di Indonesia.

Bisnis Kebun Raya Bogor yang dilakukan saat itu, terbatas hanya dengan menjual tiket masuk Kebun Raya Bogor dengan harga sangat murah dibanding tempat lainnya.

“Karena memang Kebun Raya Bogor bukan taman rekreasi, Kebun Raya Bogor adalah Lembaga Ilmiah yang berperan menahan laju kepunahan jenis tumbuhan,” sebutnya.

Sedangkan, usaha penjualan buku ilmiah, bibit tumbuhan, tanaman hias, pupuk organik, pelayanan pertamanan, dan berbagai kegiatan pameran flora dan lain sebagainya, selalu mengacu pada misi Kebun Raya Bogor untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya tentang tumbuhan dan lingkungan.

“Banyak tawaran kerja sama yang ditolak oleh Kebun Raya Bogor saat itu, karena tidak sesuai dengan marwah Kebun Raya Bogor,” imbuhnya.

Berbagai usaha yang dilakukan pimpinan Kebun Raya Bogor sebelumnya, sejak Prof. Ir Kusnoto Setyodiwiryo, Soedjana Kassan, Prof. Didin Sastrapradja dan seterusnya memberi contoh pentingnya menjaga Kebun Raya sebagai kawasan hijau, tempat berbagai jenis tumbuhan langka, dan bernilai ekonomi penting.

Koleksi Tumbuhan di Kebun Raya Bogor adalah koleksi aset bangsa yang perlu dilestarikan, diteliti dan digali potensinya untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Kebun Raya Bogor adalah kebun yang tidak terpisahkan dari masyarakat Bogor, dan sekaligus sebagai ikon kebanggaan.

Kebiasaan masyarakat melakukan rekreasi kebun dengan gelar tikar, makan bersama dan bercengkerama bersama keluarga di rindangnya pepohonan langka, adalah bagian kehidupan yang telah berlangsung secara turun temurun.

“Murah meriah, namun syarat dengan nilai silaturahmi,” tulis dalam surat tersebut.

Kemudian berkembang menjadi wisata jalan santai, tempat wisuda anak-anak TK dan SD dan kegiatan sosial lainnya. Kegiatan lain seperti acara pernikahan, pameran flora, lomba cerdas cermat tetap dilakukan dengan sangat hati-hati menjaga kenyamanan lingkungan dan sesedikit mungkin akses ke koleksi dan nilai penting Kebun Raya Bogor lainnya.

“Hijaunya Kebun Raya Bogor di tengah gemuruh pembangunan, bagaikan oase di tengah padang pasir. Kebun Raya Bogor berkontribusi menahan laju pemanasan global,” ucapnya.

Dari beberapa alasan tersebut, dalam surat terbuka itu memuat point penting yang menjadi catatan untuk penyelamatan Kebun Raya Bogor.

Pertama, rencana Glow membuat atraksi sinar lampu di waktu malam, berpotensi merubah keheningan malam Kebun Raya Bogor.

Selain itu, nyala dan kilau lampu dikhawatirkan akan mengganggu kehidupan hewan dan serangga penyerbuk.

Nature Communication melaporkan, penggunaan lampu berlebihan di waktu malam akan mengganggu perilaku dan fisiologi serangga penyerbuk, nokturnal maupun diurnal.

Lebih jauh Knop et al (2017), melaporkan bahwa kunjungan polinator berkurang sampai 62 persen pada komunitas tumbuhan yang diteliti, dan pada tumbuhan tertentu menyebabkan terjadinya penurunan produksi buah sebanyak 13 persen.

“Kita belum mengetahui secara pasti kehidupan malam serangga penyerbuk tumbuhan tropika, namun dampak yang sama besar kemungkinan akan terjadi di Kebun Raya Bogor,” katanya.

Kemudian, point kedua, jalan setapak yang tersusun oleh batu kali khas Kebun Raya Bogor, kini di banyak bagian telah dicor dengan semen.

Tidak hanya mengurangi keindahan jalan batu gico, tapi juga mengurangi resapan air. Sehingga, air yang tidak meresap, mengalir di selokan dan langsung menuju sungai, akibatnya volume sungai akan meningkat.

“Besar kemungkinan akan berkontribusi pada luapan sungai penyebab banjir di Jakarta,” katanya.

Memelihara ekohidrologi di Kebun Raya Bogor sangatlah penting, dan sudah lama dilakukan dengan mengurangi jumlah bangunan dan menggantinya dengan koleksi tumbuhan.

Sesuai dengan Peraturan LIPI no. 4 th 2019 tentang Pembangunan Kebun Raya, batas luas maksimal pembangunan fisik (pengerasan lahan) di Kebun Raya Bogor adalah 20 persen dari luas total Kebun Raya.

Dengan pengecoran jalan batu gico, dan pemadatan di berbagai tempat diperkirakan akan melebihi batas maksimal 20 persen. Berkurangnya resapan air juga dikhawatirkan mempengaruhi debit 5 mata air alami di Kebun Raya Bogor.

Selain itu, Perpustakaan Kebun Raya Bogor dengan berbagai buku tua “antiquarium” merupakan napas penting peneliti, yang sekarang dipindahkan ke gedung lain yang jauh dari Kebun Raya Bogor.

Hal ini sangat mungkin mengganggu kegiatan peneliti dan kunjungan mahasiswa, dan peneliti luar yang perlu akses ke buku-buku dan informasi penting Kebun Raya Bogor.

“Menjauhkan buku dan sumber informasi dari keseharian peneliti Kebun Raya adalah kebijakan yang tidak mendorong meningkatnya riset, sekaligus menjauhkan munculnya inovasi kreatif para peneliti,” ucapnya.

“Banyak hal lain, yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Namun secara keseluruhan, kegiatan-kegiatan itu kami nilai sudah ke luar dari Tupoksi Kebun Raya, dan semakin jauh dari marwah Kebun Raya,” sambungnya.

Dengan demikian, sebagai pendahulu yang pernah ikut mengawal, dan mewarnai Kebun Raya Bogor berkewajiban menyampaikan hal ini kepada penerus pengelola Kebun Raya Bogor saat ini.

Empat rekomendasi

Mantan pimpinan Kebun Raya Bogor itu juga meminta agar meninjau kembali rencana Glow di Kebun Raya Bogor, yang pasti akan mengusik keheningan malam Kebun Raya Bogor dan mengganggu fungsi serangga polinator dan hewan penyerbuk lainnya.

Sebaiknya segera dihentikan pembangunan fisik termasuk pengecoran jalan gico yang akan mengurangi resapan air yang diperlukan oleh tumbuhan, dan untuk usaha mengurangi kontribusi air penyebab banjir di Jakarta.

Kemudian, perlu evaluasi atas kerja sama yang dilakukan dengan melibatkan unsur lain yang terkait dan memberi perhatian pada kekhususan Kebun Raya Bogor.

Selain itu tentunya perlu meningkatkan kolaborasi dan sinkronisasi dengan bagian lain yang juga berada di dalam lingkungan Kebun Raya Bogor.

Langkah ini sangat diperlukan mengingat berbagai nilai historis dan fungsi strategis kebun Raya adalah modal penting dalam usaha mengusung Kebun Raya sebagai World Heritage, yang kini sedang dalam proses.

“Kegiatan kerjasama dengan pihak manapun harus memberi dampak positif pada usaha pengusulan World Heritage tersebut,” tukasnya.

Saat dikonfirmasi, Direktur Kemitraan Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Hendrian membenarkan kabar penolakan adanya komersialisasi di Kebun Raya Bogor.

“Jadi tentang surat itu memang beberapa hari yang lalu sudah diterima melalui email, dan itu diarahkan ke lima orang,” katanya.

“Instruksi yang kami dapat, pimpinan akan menunjuk satu pihak untuk mengeluarkan statmen agar tidak simpang siur,” sambung Mantan Kepala Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI itu.

Meski demikian, dirinya menegaskan hingga saat ini belum ada pernyataan resmi yang menanggapi surat terbuka tersebut. “Sebetulnya kewenangan tugas saya tidak terkait kemitraan yang ada di Bogor,” ucapnya.

Disinggung Kebun Raya Bogor menjadi komersialisasi, dirinya enggan berkomentar banyak. “Mudah-mudahan dalam waktu dekat ada yang ditunjuk,” ucapnya.

Sementara itu, GM Corporate Communication & Security Kebun Raya Bogor, Zaenal Arifin mengaku tengah melakukan mitigasi dengan menggandeng sejumlah peneliti untuk menjawab surat terbuka yang disampaikan mantan pimpinan Kebun Raya Bogor itu. “Setelah lengkap kita sampaikan ke publik,” singkatnya.(ded)

Editor : Yosep