Beranda Metropolis IKM Kota Bogor Jangan Alergi E-commerce!

IKM Kota Bogor Jangan Alergi E-commerce!

Pelatihan IKM Kota Bogor
Pelatihan IKM Kota Bogor

BOGOR-RADAR BOGOR, Universitas Bina Niaga Indonesia menggandeng Pemkot Bogor melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin), melatih puluhan pelaku industri kecil menengah atau IKM.

Kegiatan tersebut dilakukan untuk menumbuhkan kepercayaan diri terhadap pelaku IKM di tengah pandemi Covid-19.

Bubarkan Parkir Liar di Puncak!

pmb universitas nusa bangsa bogor

Rektor Universitas Bina Niaga Indonesia Ismulyana Djan mengatakan, banyak pelaku IKM yang terus melakukan produksi namun mereka banyak menemukan kendala, salah satunya mereka kesulitan dalam melakukan pemasaran.

Banyak pelaku IKM yang masih mengandalkan penjualan secara konvensional padahal pergerakan pasar saat ini mengarah ke digital.

“Mengapa tidak sekalian melakukan pelatihan dan penampingan yang serius, pada saat mereka selesai pelatihan menemukan masalah, kan disini ada tim yang akan menjadi pendamping bagi mereka,” kata Ismulyana, kepada Radar Bogor, Rabu (22/9/2021).

Menurutnya, untuk membantu memajukan IKM Kota Bogor bukan hanya sekedar diberikan pelatihan tetapi mereka diberikan pendampingan. “Dulu itu handphone hanya digunakan untuk komunikasi, kenapa tidak sekaligus untuk berbisnis,” imbuhnya.

Dirinya mendorong para pelaku IKM untuk memanfaatkan tekonologi digital dengan memulai menjual produknya di e-commerce. Saat ini, kata dia, pelaku IKM hanya tinggal pintar-pintar menawarkan produknya secara digital.

“Jangan alergi e-commerce kalau mau bertahan di masa pandemi covid, harus kesana arahnya (digitalisasi), istilahnya discruption, kalau tidak bisa tergilas dengan yang lain, semua colaps karena tidak segera melakukan perubahan,” ungkapnya.

Disisi lain, Ismulyana berharap keberadaan Universitas Bina Niaga Indonesia dapat dirasakan oleh masyarakat, sehingga salah satu fokus yang dilakukan yakni membantu pelaku IKM dan UMKM di Kota Bogor.

“Perlu ditekankan fungsi perguruan tinggi untuk menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, salah satunya apa apa yang harus dilakukan, ini MoU dengan Pemkot Bogor,” ucapnya.

“Total 40 pelaku IKM selama dua hari, jika menularkan mungkin akan berkali-kali lipat. Apa yang bisa dilakukan kita, kita pengabdian kepada masyarakat,” kata Ismulyana.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Bogor, Ganjar Gunawan mengatakan, kegiatan ini merupakan kelanjutan MoU dengan Universitas Bina Niaga Indonesia, yakni dengan memberikan pelatihan dan penampingan bagi IKM dan UMKM.

“Kami sebagai dinas mencoba untuk menindak lanjuti kerjasama dengan Civitas Akademika dalam bentuk pelatihan, pendampingan e-commerce IKM dan UMKM,” kata Ganjar.

“Kami akhir tahun 2020 sebenarnya sudah melakukan pelatihan digital markting kepada 650 orang, 2021 kita coba kolaborasi dengan universitas,” ucapnya.

Dirinya juga menekankan kepada peserta pelatihan agar segera melakukan perubahan dengan menyesuaikan perkembangan zaman. Perubahan itu, kata dia, mengacu untuk mengubah sistem penjualan ke e-commerce.

“Bahwa orang yang bisa bertahan bukan orang yang pinter, kuat, tetapi adalah orang yang bisa beradaptasi. Itu kuncinya, termasuk pelaku usaha,” pintanya.

“Kalau pelaku usaha masih konvensional, masih jadul, saya kira akan banyak ketinggalan. Di masa pandemi, zaman depan begitu cepat, tanpa disangka,” sambungnya lagi.

Kedepan, ada beberapa hal yang masih akan bertahan paling tidak 10 tahun ke depan, pertama perdagangan secara elektronik atau e-commarce.

“Ini gak bisa dipungkiri, toko offline hancur, Giant di Kota Bogor selesai dan sekarang tempatnya diakusisi oleh Suprindo, Hero pajajaran sekarang diganti Superindo, Giant Dramaga, Giant Sindangbarang, Giant Yasmin sudah tutup, sudah selesai dan karyawanya banyak di PHK,” kata Ganjar.

“Matahari tinggal satu di Lippo Ekalokasari, di Taman Topi sudah colaps, karena mind bisnisnya memang fashion, toko online,” sambungnya.

Ganjar mengungkapkan, PT Matahari Department Store Tbk sempat mencari peruntungan dengan membuat marketplace www.matahari.com, namun upaya itu juga tak mampu membuat perusahaan tersebut bertahan.

“Mungkin karena ada faktor yang gak prepare di kompetisi ini,” katanya.

Kemudian, Mantan Kepala BPBD Kota Bogor itu juga menjelaskan, selain faktor kehadiran e-commarce juga diperparah dengan kehadiran finansial telnologi (fintek).

Sehingga, dengan mudahnya orang berbelanja di rumah, dan juga kemudahan mendapatkan pinjaman.

Berdasarkan catatanya, total nilai transaksi e-commerce pada tahun 2020 jumlahnya mencapai Rp266,33 triliun. Jumlah itu tumbuh sebesar 29 persen lebih jika dibandingkan dengan nilai transaksi pada tahun 2019.

“Tahun 2021, diprediksi Rp354,3 triliun dengan jumlah transaksi 1.3 miliar transaksi, bayangkan itu tahun ini,” katanya.

Dengan begitu, Kementerian Perdagangan saat ini mulai mencermati fenomena tersebut.

“Transaksi e-commarce potensial, dan merupakan market ke lima terbesar untuk e-commarce. Setiap lima tahun 50 juta pengguna internet muncul terus. Singapura 7 juta populasinya, sehingga lari ke Indonesia,” paparnya.(ded)

Editor: Rany