Beranda Ekonomi Hero Sasar Segmen Atas, Peritel Minta Mal Segera Beroperasi

Hero Sasar Segmen Atas, Peritel Minta Mal Segera Beroperasi

RADAR BOGOR — Perubahan gaya belanja dan daya beli masyarakat membuat perusahaan ritel modern harus beradaptasi dengan cepat.

Mereka pun menyasar segmen atas yang lebih bertahan selama pandemi Covid-19. PT Hero Supermarket Tbk (HERO) pun menutup seluruh gerai dengan brand Giant di Indonesia perakhir Juli 2021.

Mereka pun memfokuskan investasi untuk mengembangkan IKEA, Guardian, dan Hero Supermarket.

”Ini sebagai bagian dari fokus baru yang dilakukan perseroan. Lima gerai Giant akan menjadi IKEA. Semua gerai Giant tutup akhir Juli 2021,” ujar Direktur Hero Supermarket Hadrianus Wahyu Trikusumo.

Selain mengubah gerai Giant menjadi IKEA, Hadrianus mengatakan, perseroan juga sedang mempertimbangkan untuk mengubah sejumlah gerai Giant menjadi Hero Supermarket.

Dia menjelaskan, perubahan strategi ini merupakan respons cepat dan tepat perusahaan yang diperlukan untuk beradaptasi terhadap perubahan dinamika pasar, terlebih terkait beralihnya konsumen Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

”Rencana ini diharapkan akan memberikan dampak positif terhadap kegiatan operasional, kondisi keuangan atau kelangsungan usaha perseroan,” tegasnya.

Presiden Direktur Hero Supermarket Patrik Lindvall menambahkan bahwa merek IKEA, Guardian, dan Hero Supermarket dinilai memiliki potensi pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan Giant.

”Dinamika pasar dan tren pelanggan yang terus berubah, termasuk menurunnya popularitas format hypermarket dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia. Ini sebuah tren yang juga terlihat di pasar global,” ujarnya.

Patrik meyakini penjualan sektor peralatan rumah tangga, kesehatan dan kecantikan, serta barang keperluan sehari-hari untuk masyarakat kelas atas masih berpotensi tumbuh tinggi.

HERO menargetkan akan menambah gerai IKEA sebanyak empat kali lipat dari jumlah gerai pada 2020, dalam dua tahun ke depan. Selain itu, juga akan dibuka 100 gerai Guardian baru hingga akhir 2022.

Selama pandemi, industri retail tanah air tertekan selama 2021. Kementerian Perdagangan mencatat sekitar 2.000 ritel modern tutup.

Para pelaku bisnis mengaku tak bisa berharap bisa pulih seperti 2019. Mereka ingin PPKM bisa segera selesai agar kinerja kembali pulih.

Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) Budihardjo Iduansjah mengatakan, kinerja peritel di pusat perbelanjaan pada awal semester kedua 2021 memang buruk.

Pendapatan mereka hanya tersisa 20 persen jika dibandingkan masa normal.

“Selama Januari-Mei sebenarnya grafiknya naik terus. Sudah mencapai 70-80 persen dibandingkan masa normal,’’ jelasnya saat pembukaan sentra vaksinasi di Surabaya akhir pekan lalu.

Aturan ketat itu membuat banyak tenant mal terpaksa memangkas waktu kerja atau meliburkan karyawan. Dia mengaku belum mendengar adanya anggotanya yang melakukan PHK permanen. Dia menegaskan, staf pusat perbelanjaan, terutama pekerja terampil, hanya diliburkan.

Meski tak mencapai masa normal, dia menyimpan harapan mencapai recovery rate hingga 80 persen seperti semester satu. Kuncinya adalah pembukaan pusat perbelanjaan secepatnya. Semakin lama mati suri, maka kantong pengusaha pun bakal menipis.

“Karena itu, kami juga terus membantu untuk menanggulanginya dengan membuka sentra vaksin untuk karyawan mal dan UMKM. Supaya nanti semakin cepat penyebarannya dan pusat perbelanjaan bisa beroperasi kembali,” ungkapnya.(agf/bil/dio)

Tren Kinerja Industri Ritel Nasional

 

Tahun Pertumbuhan

2018 9 persen

2019 8,5 persen

2020 3 persen

*2021 4-4,5 persen

 

Ket *: prediksi Aprindo

 

Sumber Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo)