Beranda Kesehatan Kisah Indra Rudiansyah Jadi Bagian dari Tim Uji Vaksin AstraZeneca

Kisah Indra Rudiansyah Jadi Bagian dari Tim Uji Vaksin AstraZeneca

TAHAP PERTAMA: 1.113.600 vaksin AstraZeneca telah datang tahap pertama dari jatah vaksin gratis 11.704.800 dosis untuk Indonesia melalui skema multilateral Covax yang diadakan WHO. FOTO:Net

RADAR BOGOR – Kiprah membanggakan dicatatkan oleh anak bangsa Indonesia, yaitu Indra Rudiansyah alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) dan mahasiswa di Oxford University yang menjadi bagian dari tim uji klinis vaksin Astrazeneca di Oxford, Inggris.

Astrazeneca diketahui merupakan salah satu vaksin yang digunakan di Indonesia dan memiliki angka efikasi yang cukup tinggi dan saat ini diyakini mampu melawan varian Delta.

Bagaimana ceritanya Indra bisa ikut terlibat? Ia merupakan alumni Beswan Djarum sebagai penerima program Djarum Beasiswa Plus, Bakti Pendidikan Djarum Foundation. Dalam webinar bersama dr. Ursula Penny Putrikrislia, Indra bercerita soal pengalamannya.

“Saya merasa bersyukur bisa terlibat juga dalam uji klinis vaksin. Saya merupakan student PhD. Kami sebelumnya punya penelitian dengan topik utama malaria. Dan kami punya project pengembangan vaksin Covid-19. Kami tak tahu ini akan jadi pandemi besar,” katanya dalam webinar baru-baru ini.

Lalu ia menambahkan senior scientist mengembangkan desain, uji pra klinis di hewan, lalu clinical trial. Tentunya, kata dia, dibutuhkan SDM mumpuni.

“Saya dapat tugas bantu monitoring antibodi respon dalam responden yang dijui klinis. Tak hanya di London UK jadi harus riset skrining skala besar,” paparnya.

Indra menjelaskan vaksin bagian dadi virus yang dilemahkan. Ada inactivated, recombinan, dan MRNA.

“Bahan baku vaksin adalah kunci protein tersebut,” jelasnya.

Lalu bagaimana cara kerja vaksin? Indra menjelaskan sebelum divaksinasi tubuh belum miliki seperangkat sistem imun yang mengenali SARS-Cov-2. Dengan sudah divaksin, vaksin disuntik ke tubuh maka tubuh akan mengenali apa sih protein.

“Tubuh akan mengenal gimana sih cara menetralisirnya. Lalu setelah belajar maka menjadi siap menghadapi infeksi yang sebenarnya. Ketika itu terjadi, respons tubuh sudah mulai mentarget, oh tubuh sudah bisa mengunci yang dinetralkan,” jelasnya.

“Makanya ada hoax yang muncul katanya dengam divaksin maka bisa jadi sakit Covid-19, ya itu enggak benar. Itu virus sudah dimatikan, hanya bagian kecil dari virus yang bisa mengajari sistem imun kenali SARS-CoV-2,” jelasnya.

Di sisi lain, Ahli Kesehatan yang juga alumni Beswan Djarum sebagai penerima program Djarum Beasiswa Plus, Bakti Pendidikan Djarum Foundation dr. Ursula Penny Putrikrislia mengatakan memang betul imunisasi upaya efektif memberikan kekebalan yang paling efektif. Vaksin disuntikkan ke otot untuk memberikan kekebalan.

“Data-data penyakit sudah terbukti musnah karena vaksinasi. Mungkin dulu kalau cacar air enggak divaksin, wah orang bisa banyak meninggal ya. Karena bisa kena beberapa kali, demam tinggi badan enggak kuat lalu meninggal. Itulah mengapa harus divaksin. Kita melindungi diri kita dan orang lain,” kata dr. Ursula Penny. (jpc)