Beranda Berita Utama Mensos Minta Pemda Perhatikan Prediksi Bencana BMKG

Mensos Minta Pemda Perhatikan Prediksi Bencana BMKG

Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini (Risma) saat hadir pada rapat koordinasi nasional (Rakor) bidang Pariwisata yang digelar secara virtual, Rabu (7/4). (dok JawaPos)

JAKARTA-RADAR BOGOR, Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini minta pemerintah daerah lebih memperhatikan prediksi potensi bencana lanjutan yang telah dipetakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pascagempa di Pacitan, Jawa Timur, Selasa (27/7) malam.

”Berkali-kali kepala BMKG menyampaikan, ramalan ini bukan sekadar ramalan tapi itu hasil analisis dan penelitian dari para ahli tentang kebencanaan. Karena itu, alangkah bijaksana kita bisa mengantisipasi agar tidak terjadi korban yang lebih banyak. Sosialisasi pun harus terus-menerus dilakukan,” kata Risma seperti dilansir dari Antara di Jakarta, Rabu (28/7).

Dia menginginkan Pemkab Pacitan mengantisipasi prediksi potensi ancaman tsunami di Pantai Selatan Jawa. Risma berpesan untuk siaga menghadapi potensi tsunami dengan sistem peringatan dini. Yakni, dengan pengawasan pantai melalui alarm yang akan mengingatkan warga di pantai apabila ada indikasi terjadi bahaya gempa dan tsunami.

Selain itu, menyiapkan upaya penyelamatan diri terkait dengan sarana prasarana dan aksesibilitas masyarakat untuk menyelamatkan diri secepatnya ketika terjadi bencana. ”Rambu-rambu petunjuk evakuasi, masih kurang sehingga perlu diperbanyak dan disediakan di tempat-tempat yang memang biasa dikunjungi orang,” tutur Risma.

Dia menambahkan, jalur evakuasi harus diperbanyak serta jembatan menuju tempat evakuasi sementara (TES) yang terputus harus diperbaiki. ”Untuk teman-teman tagana (taruna siaga bencana), saya minta untuk bantu pemetaan evakuasi, hambatannya apa, serta aksesnya seperti apa,” ucap Risma.

Risma juga meminta pemda menggunakan kearifan lokal. Kearifan lokal yang sudah ada dapat digunakan karena telah teruji sejak lama. Contoh tsunami di Aceh, yang salah satu dampaknya dirasakan di Kabupaten Simeulue. Dengan kearifan lokal, hasilnya minim korban.

”Di sana waktu saya lihat korban yang jatuh tidak banyak, ternyata ada kearifan lokal seperti bangunan-bangunan rumah yang berupa kayu gitu semacam tahan gempa. Masyarakat juga bisa membedakan gempa yang berpotensi tsunami dan mereka segera lari ke atas bukit, hal-hal seperti itu yang bisa kita gali,” ujar Risma.

Terkait dengan pembangunan selter atau tempat pengungsian sementara akan didiskusikan dengan pihak terkait, seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengatakan, menurut hasil penelitian, Kabupaten Pacitan salah satu kawasan di garis Pantai Selatan Pulau Jawa yang berpotensi gempa dan tsunami.

”Diperkirakan potensi tsunami dapat terjadi dengan ketinggian gelombang hingga 18 meter dengan waktu tiba sekitar 26 menit setelah terjadi gempa bumi,” terang Rahmat.

Sumber: JawaPos.Com
Editor: Alpin